Industri musik Indonesia semakin berkembang dari waktu ke waktu. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya musisi tanah air yang mulai bermunculan. Indonesia memang selalu memiliki musisi bertalenta yang siap membawa angin segar dan mewarnai dunia musik tanah air dengan berbagai aliran musik. Salah satu band rock yang patut diperhitungkan yaitu Black Horses.
Black Horses adalah warna baru untuk musik rock Indonesia, Pasalnya band rock asal Jakarta ini mengusung tema musik rock purba tahun 70an yang siap membawa penikmat musik rock Indonesia bernostalgia ke masa lampau. Black Horses yang digawangi oleh Salim Lubis (vokal), Kevin Indriawan (gitar), Lucky Azary (bass) dan Julian Adhitya (drum) sudah mulai menciptakan karya musik sejak tahun 2015 dan sempat mengalami pergantian vokalis. Di usia mereka yang masih sangat muda, mereka tergolong ‘berani’ dalam menentang arus musik dengan mengusung rock klasik tahun 70an. Tak hanya sajian musik rock purba 70an, Black Horses juga menyajikan visualisasi setiap video klip dan aksi panggung mereka ala-ala tahun 70an. Hal ini tentu menjadi ciri khas sekaligus warna berbeda untuk musik rock yang kita tahu dalam setiap penampilannya kebanyakan memberi kesan urakan serba hitam.
Terpilihnya nama Black Horses berasal dari cerita Alkitab “Four Apocalypse Horsemen” yang mewakili masing-masing kepribadian personilnya. Keempat personil Black Horses dipertemukan karena kecintaan mereka akan jenis musik rock klasik sera visi misi yang sama. Visi mereka adalah menghidupkan kembali semangat tahun 70an ketika musik yang nyata dinikmati dan dimainkan dengan semangat serta instrumen nyata pula. Untuk mendapatkan suara vintage yang otentik mereka menggunakan Studer Tape Machine pada tahap mastering. Hal inilah yang selalu dijaga oleh Black Horses agar penikmat musik rock dapat merasakan keaslian instrumen yang dimainkan.
Pada tahun 2020 ini Black Horses merilis album terbaru mereka Ballads of the Freedom Youth dalam bentuk fisik dan digital streaming media mulai Oktober 2020. Ballads of the Freedom Youth dibuka dengan lagu gemuruh riff gitar Gibson Les Paul yang dimainkan oleh Kevin Indriawan dengan judul “Death Call Declined”. Lagu ini menceritakan kisah vokalis lama mereka yaitu Rafi Syachdan yang mengalami kecelakaan sampai dihadapkan oleh ambang kematian. Dalam lagu ini diceritakan bahwa rock n roll yang menyelamatkan nyawa sang vokalis kala itu. “Death Call Declined” dibawakan dengan tempo cepat yang menggebu dianggap cocok dijadikan lagu pembuka dalam album ini.
Lagu selanjutnya dalam album debut Black Horses Ballads of the Freedom Youth adalah lagu berjudul “Man-made Devil”. Seperti judulnya, lagu ini bercerita tentang berbagai macam jenis setan buatan manusia. “Man-made Devil” dibuka dengan riff bass sang bassist Lucky Azary yang memberi kesan gelap. Setelah memasuki bait pertama dalam lirik “Man-made Devil” seketika nuansa gelap itu sirna dengan lantunan blues jadul sebagai ciri khas Black Horses. Sesuatu yang berbeda disajikan Black Horses pada saat beralih ke lagu ketiga mereka dengan tajuk Woman Song. Lagu ketiga ini dimainkan tanpa jeda dari lagu kedua. Dalam lagu ini Salim Lubis sang vokalis mampu memberikan kesan seksi tanpa menghilangkan jati diri Black Horses yang mengusung musik rock purbanya.
Dilanjutkan pada track berikutnya dengan lagu berjudul “Burn Me On Air” yang merupakan cikal bakal album Ballads of the Freedom Youth dipilih. Dalam lirik lagu ini diceritakan pengalaman saat dibawah pengaruh substansi.
Album dilanjutkan dengan lagu Mr. Glass dan Martyr yang sudah dirilis beberapa tahun lalu. Disini Salim Lubis sang vokalis terdengar lebih gahar dan lantang.
Dalam pengerjaan debu album Ballads of the Freedom Youth Black Horses sadar bahwa pencapaian dalam tahap ini adalah berkat peran penting ada Kusir (sebutan untuk penggemar Black Horses) yang tak kenal lelah memecut semangat mereka. Rasa terimakasih Black Horses dituangkan dalam lagu “Horsemen” yang merupakan track ke 7. Lagu istimewa ini memiliki tempo cepat dan liar. Disini para personil Black Horses menunjukan skill mereka masing-masing. Dimulai dari solo gitar Kewin Indiawan, lalu solo bass dari Lucky Azary dan dilanjutkan dengan gabuka drum Julian Aditya Karnajaya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk apresiasi mereka terhadap pada kusir yang tidak lelah memberi energi dan semangat Black Horses untuk berkarya.
Ballads of the Freedom Youth ditutup dengan lagu “North” yang merupakan satu-satunya lagu tanpa distorsi. Bahkan lagu ini hanya diisi gitar akustik, Banjo, dan vokal. Meskipun terasa belang, North tetap menjadi penutup yang mengesankan dan tidak meninggalkan nuansa rock purba 70an ala Black Horses.
Langkah Black Horses dalam melakukan debut album Ballads of the Freedom Youth memang tergolong berani, pasalnya 2020 merupakan tahun dimana pandemi Covid-19 mewabah. Namun hal ini tidaklah menjadi penghambat untuk tetap berkarya menyapa pada kusir dan menyajikan karya-karya baru Black Horses. Seluruh lagu dari album Ballads of the Freedom Youth direkam di Palm House Studio dan dirilis secara digital dan fisik melalui situs resmi Palm House Records. Black Horses adalah warna baru dalam industri musik Indonesia dengan mengusung genre rock purba era 70an.
ARTICLE TERKINI
1
Berkat Liga Champions, Keuangan Juventus Meroket Dari Minus ke Profit!
2
Barcelona Mau Rekrut Neymar di Bursa Transfer Musim Panas?
3
Fans AC Milan Frustrasi, Tapi Tak Bisa Berbuat Apa-apa
4
Eks Liverpool: William Saliba Terlihat Seperti Pemain Real Madrid
5
Proposal Man United untuk Rekrut Victor Osimhen: 40 Juta Euro Plus Rasmus Hojlund
Author :
Article Date : 01/12/2020
Article Category : Super Buzz
1 Comments
Other Related Article
1
/
10
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Agus samanto
09/12/2024 at 17:24 PM