Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct Name
Please Select the gender
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
show password icon
  • circle icon icon check Contain at least one Uppercase
  • circle icon icon check Contain at least two Numbers
  • circle icon icon check Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
show password icon
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Raksasa Industri Rebutan Pasar Streaming, Musisi Indie Ngapain?

Apple baru saja mengumumkan layanan music streaming nya beberapa waktu lalu, dan rasanya belum lama ini Tidal diluncurkan sebagai layanan kelas atas layanan music streaming. Sebelumnya sudah ada Spotify sebagai pemimpin pasar saat ini, ada Guvera dan rupa-rupa nama lainnya.

Tetapi apakah ada salah satu layanan tersebut yang memang bisa jadi sarana musisi muda untuk berkembang dengan independent?

Saya menanyakan hal ini pada Satrio NB aka Karyo aka Iyo aka mamang vokalis Pure Saturday dan manajer band Taring. Sebagai anggota salah satu band indie yang disebut legenda hidup di kancah musik berdikari, beliau ternyata tidak menyertakan satu pun band nya di fasilitas layanan streaming.

Kemudian saya berkesempatan ngobrol dengan Hasief Ardiansyah, seorang jurnalis dengan kegiatan lain sebagai anak band. Ia kurang lebih mengisahkan tidak mendapatkan hasil signifikan dari layanan streaming. Penghasilan terbesar dari ‘jualan’ digital terbesar adalah di iTunes, itu pun baru cair Rp.31.000,- setelah beberapa bulan, namun mengingat band yang ia sebut belum terlalu aktif jadi ya lumayanlah.

“Gue menggunakan layanan Deezer, dan sangat berguna untuk profesi gue sebagai jurnalis musik” kata Hasief saat ditanya mengenai apakah ia menggunakan layanan streaming atau tidak. “Namun di Indonesia masih kurang luas penetrasinya, karena masih banyak yang tidak terbiasa menggunakan kartu kredit”.

Tapi apakah musisi independent perlu melirik saluran ini?

Mari kita cek kutipan dari sebuah blog mengenai bagi hasil di Spotify, semoga kamu bisa berbahasa Inggris ya.

With Spotify, we’ll get 0.003 EUR/play.

If you listen to the album all the way through, we’ll get 0.029 EUR.

If you listen to the album 10 times on Spotify, we’ll get 0.29 EUR

If you listen to it a hundred times, we’ll get 2.94 EUR

If you listen to the album 1,000 times (once a day for 3 years!) we’ll get 29.47 EUR!

Itu kalau lagu kamu didengarkan oleh pengguna layanan berbayar dari Spotify. Jadi jika lagu kamu akhirnya didengarkan 10.000 kali maka kamu akan mendapatkan 30 Euro atau sekitar Rp. 449000,-. Mengingat satu lagu di Soundcloud maupun youtube jarang sekali mencapai 10.000 putar untuk band indie yang ngetop sekalipun. Maka saya rasa usaha untuk mendaftarkan lagu ke layanan streaming bagi band berdikari agak males kalau tujuannya adalah ‘revenue’.

Apalagi tampaknya penyedia layanan aggregator, lebih mirip calo daripada pendukung. Karena mereka memotong antara 10-20% lalu ya sudah. Band tetap harus berjuang demi meningkatkan jumlah putar. Saya jarang atau malah tidak pernah melihat penyedia aggregator dengan aktif mempromosikan barang ‘dagangan’ nya. Tetapi itu mungkin karena saya bukan pengguna Deezer/Spotify/Tidal/etc jadi tidak melihat usaha mereka mempromosikan musik.

Kendala berikutnya adalah saat jumlah penyedia layanan streaming semakin beragam, maka sulit juga mempromosikan musik dengan fokus. Lahan ini jadi lebih cocok memang untuk label-label besar yang bermain kuantitas dan bisa memotong lebih besar dari rilisan mereka. Karena mereka berhak atas dasar kontrak.

Maka dari itu sementara raksasa-raksasa bertempur, musisi-musisi yang lebih kecil bisa tenang berkarya dulu sebelum buru-buru ‘berjualan’ di layanan ini. Begitu ada pemenang dan lebih bersahabat, maka kita tinggal bergabung.

Kalau saat ini, saya pribadi melihat prospek yang lebih besar untuk mendulang dolar adalah via Youtube. Asal kamu rela video kamu ditempel iklan, dengan sedikit strategi mungkin kamu bisa mendulang lebih besar dibanding layanan streaming audio.

Asal ga lupa, tadi saya bilang sedikit strategi. Artinya kamu harus punya strategi

 

 

Untuk gambaran, di Youtube saat video terputar 10.000 kali dan dianggap layak maka kamu kurang lebih bisa mendapat 3 dolar. Yang menarik dari Youtube adalah kemampuannya membuat video kamu menjadi viral (asal bagus). Jika kamu rajin dan terus belajar membuat video musik dan musik yang kreatif, kamu bisa mendapatkan keuntungan yang melimpah

Hanya saja kalau kamu band yang cenderung baru, mungkin perlu memikirkan berbagai aspek saat berstrategi mendapatkan uang dari saluran ini. Seperti mulai berteman dengan mereka yang bisa mengedit video, punya ide-ide kreatif dan konsisten mempromosikan karya.

Untuk membahas berbagai tehnik promosi, saya rasa lebih baik di kolom komentar atau di Group Facebook Deathrockstar. Karena tidak akan ada tehnik yang baku dalam hal ini, semua strategi harus disesuaikan dengan berbagai kondisi yang ada.

Jangan lupa rajin-rajin merekam penampilan live kamu, untuk bahan di channel.

 

 

Keuntungan jika video kamu viral adalah mungkin panggilan manggung dan jualan merchandise bisa ditingkatkan, karena musik kamu terpromosi.

Sekian.

ARTICLE TERKINI

Tags:

Article Category : Noize

Article Date : 15/06/2015

Supermusic
Supermusic
Admin Music
Penulis artikel dan penggila musik rock/metal yang setiap hari ngulik rilisan baru, liputan gig, dan cerita di balik panggung band legendaris. Gue percaya musik keras itu bukan cuma suara, tapi energi dan gaya hidup. Konten gue disajikan dengan detail dan semangat yang sama garangnya sama musik yang gue bahas. Superfriends yang hidupnya nggak bisa lepas dari riff gitar dan gebukan drum pasti betah nongkrong di sini. Tiap artikel gue bikin biar lo ngerasa kayak lagi ada di depan panggung.

1 Comments

Comment
alan firmansyah

alan firmansyah

01/09/2025 at 18:26 PM

mantap
Other Related Article
image article
Noize

Rudolf Dethu: Muda, Bali, Bernyali

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Noize

Perilaku Individu Musik Indonesia di Era ‘Baby Boomers’ dan ‘Gen X’

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Noize

Yulio Piston: Tentang Menjadi Pengkritik Musik

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Noize

Sudah Saatnyakah Indonesia Punya Rock ‘n Roll Hall of Fame?

Read to Get 5 Points
image arrow
1 /

Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive