Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct Name
Please Select the gender
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
show password icon
  • circle icon icon check Contain at least one Uppercase
  • circle icon icon check Contain at least two Numbers
  • circle icon icon check Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
show password icon
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

MAIN MUSIK LALU PUNYA POHON DUIT, SALAHKAH?

Beberapa hari sebelum artikel ini  ditulis, di timeline Path saya ada banyak musisi memposting ulang status Addie M S, berikut dengan sebuah foto dirinya sedang jabat tangan dengan Ahok, Gubernur DKI Jakarta dalam suasana konser, dengan kalimat keterangan foto seperti ini: ‘Pejabat sekarang unik. Kalau diundang nonton konserku, kebanyakan gak mau gratis. Pak Ahok, Pak Triawan, beli tiket buat keluarganya juga. Katanya, ingin dukung musisi Indonesia. Respek!’. Postingan ini kemudian menjadi ramai diposting ulang oleh para musisi di Path saya, dengan berbagai ekspresi suka cita atau bernada sindiran, ungkapan mereka seperti: ‘Nah ini baru contoh teladan yang bener’, atau ada yang berkomentar: ‘Yang mau tiket gratis malah temen sendiri, malu dong minta free ticket mulu’. Postingan Addie M S ini seperti ujaran pembelaan pada nasib musisi yang mengandalkan memperoleh pendapatan melalui pertunjukkan, yang sering kali justru digerogoti budaya gratisan atau kultur harga teman. Ungkapan status seperti itu seperti sebuah pembelaan pada musisi yang masih diupah rendah, sementara pembajakkan sudah menjadi isu yang lemah syahwat untuk dibahas bahkan sudah melahirkan sikap skeptis.

Dan bukan sekedar fenomena budaya gratisan yang membuat kondisi buruk. Dalam beberapa kasus, penyebab lain adalah budaya sempit pikir, dan itu masih terjadi. Contoh nyata saya atau Cupumanik sampe hari ini masih dapet stigma negatif dari beberapa oknum anak grunge lokal, melontarkan makian atas nama anti kemapanan, dan memuntahkan kata-kata: ‘Ah band grunge sok ngartis, kalau mau cari duit dan pasang harga jangan di komunitas, di sini bukan tempat komersil’. Nggak tau dari mana aturan itu berasal, itu mazhab ideologis dari siapa juga nggak jelas dan lucunya oknum yang sering menuding, foto profile Facebook-nya pake kaos Kurt Cobain. Sementara dia nggak sadar, idolanya seorang mega super star. Rumah Kurt Cobain di Washington Boulevard, tetangga dengan wakil Presiden Amerika. Menurut Charles R. Cross dalam buku Biografi, Tahun 1993 bayaran Nirvana adalah 1.5 Juta dolar, bahkan menurut Danny Goldberg manajer Nirvana, Kurt sendiri tahun 1993 dapet royalti lagu sebesar 1.4 juta dolar, 200.000 dolar dari penjualan album, 600.000 dolar dari merchandise. Mereka nggak sadar, idola mereka Nirvana, kalau jadi tampil di festival Lollapalloza 1994, bayaran sekali tampil 8 juta dolar.

Saya sendiri sudah lama berpendapat, sebagai seorang yang memilih secara sadar untuk menjadi musisi dan bermusik sebagai jalan hidup, juga sebagai pilihan profesi, para musisi memang sudah saatnya harus mengakhiri romantisme bahwa ‘seniman itu kere’. Atau sudah saatnya membuang dan membakar sebuah pola pikir bahwa, ‘memikirkan uang bisa merusak kreatifitas bermusik’. Jika ongkos membuat karya seni itu tidak sedikit, jika sebuah karya album itu punya kosekuensi biaya, artinya seniman mau tak mau punya tuntutan menghasilkan uang. Tetapi bersikap seperti itu malah seringkali dibenci, kata ‘berjualan’ seringkali dianggap menyalahi aturan berkarya. Padahal Mario Puzo menulis buku legendaris The Godfather untuk mendapatkan uang, dia berhutang $ 20.000 kepada keluarga, Bank, Bandar dan lintah darat dan berakhir gemilang. Paul McCartney mengaku dirinya dan John Lennon sering duduk sebelum menulis lagu untuk The Beatles, lalu berkata: ‘Ayo kita tulis pohon uang’, dan siapa yang meragukan kesuksesan mereka?.

[pagebreak]

Dan bagi mereka yang membaca sejarah, pasti tau betul bahwa band-band dunia yang super gemilang itu perjuangannya juga hebat dan konsisten. Silahkan sebut dan tebak sendiri kisah perjuangan mereka yang kalian tau. Pasti mereka punya etos kerja keras dan kerja cerdas. Sepertinya, saya harus berbagi cerita nyata, kisah obrolan saya dengan Eski (Gitaris Cupumanik), beberapa hari setelah dia pulang dari ibadah umroh, ada pendapatnya dia yang nyangkut di kepala saya, dia bilang: 'Che, negara itu tandus, gue kagum sama upaya mereka ambil aliran air sejauh itu dari laut, dan liat gimana ekonomi mereka sekarang terus menghasilkan kesejahteraan. Ini mirip banget sama perjuangan kita Che, sebenarnya main band itu seperti kambing yang hidup di tanah yang tandus. Ngeband maenin musik Grunge itu seperti kerbau yang hidup di tanah gak subur, tapi Alhamdulillah, kita bisa bikin tanah itu subur dan terbukti kita bisa punya penghasilan dari ngeband, orang lain udah gak tahan dan pindah genre, orang-orang udah nyari penghidupan lain, dan kita masih di sini'.

Dan sangat menyenangkan, ada banyak contoh kisah sukses, band dari kalangan sidestream yang kini bisa menikmati keuntungan secara materi dan ekonomi, tentu pencapaiannya jauh melampaui band saya. Menjadi anak band yang sejahtera, terbukti bisa menghidupi diri dan keluarga, terbukti jadwal manggung mereka padat, penjualan CD yang fantastis, dan merchandise mereka yang laku keras. Mereka memutar uang pendapatan, punya modal bikin rilisan DVD, cetak buku, bikin production house, bikin cafe, masing-masing personil ada yang mendapat penghasilan sebagai penulis, sebagai pembicara, jadi host acara di TV, ikutan tampil main film dan lain-lain. Dan bermimpi jadi anak band yang punya martabat akhirnya bisa tercapai. Kamu jadi musisi misalnya punya penghasilan cukup, bisa memberi uang ke orang tua, atau anak dan istri, bisa berbagi rezeki ke kru, soundman dan orang-orang terdekat, maka tinggilah martabat kamu sebagai musisi. Martabat itu kan nilai di depan manusia. Kita tak bicara derajat, karena itu nilai di hadapan Tuhan.

Saya jadi ingat sebuah kisah satir dan mungkin ini menyedihkan bagi beberapa kalangan, cerita ini ditulis oleh seorang penulis bernama Austin Kleon, dia katakan: “Kita semua pernah mengalaminya, ketika kita berdiri di sebuah pesta, sedang menikmati hidangan, lalu seseorang asing mendekat, ia memperkenalkan diri, lalu mengajukan pertanyaan menakutkan, yaitu: ‘Hei, ngomong-ngomong apa pekerjaanmu?’. Jika profesimu dokter, guru, atau pengacara kamu aman dan selamat, dijamin kamu akan asik meneruskan obrolan dengan lancar. Yang sulit adalah jika profesimu seorang seniman, jika kamu jawab ‘Aku penulis’, bisa dipastikan pertanyaan berikutnya adalah: ‘oh, sudah ada yang terbit?’, maksud di balik pertanyaan itu padahal adalah: ‘apa pekerjaan itu menghasilkan uang?’. Bisa dibayangkan, jika menjadi seniman atau musisi adalah pekerjaan yang tak bisa diandalkan dalam mencari rezeki, kebayang kalau citra berprofesi sebagai anak band selamanya orang mengira bahwa itu adalah profesi yang lebih banyak pengeluarannya ketimbang penghasilan, kisah di atas akan menjadi kisah menyebalkan dalam sebuah obrolan. Dan akan sangat menyedihkan, jika kalimat akhirnya dalam perbincangan kita mengatakan: ‘Dulu aku pemain band, dan mimpi indah itu sudah aku kubur selamanya, karena nggak bisa diandalkan, dan akhirnya bandku bubar’. Nah jadi gimana?, memutuskan untuk main band secara profesional dan serius, lalu mendapatkan uang yang cukup, apakah itu sebuah dosa dan kesalahan?

Foto: dok. Addie MS/Twitter, dok. Che Cupumanik/Facebook, manhattanrarebooks.com

ARTICLE TERKINI

Tags:

Article Category : Noize

Article Date : 10/03/2016

Supermusic
Supermusic
Admin Music
Penulis artikel dan penggila musik rock/metal yang setiap hari ngulik rilisan baru, liputan gig, dan cerita di balik panggung band legendaris. Gue percaya musik keras itu bukan cuma suara, tapi energi dan gaya hidup. Konten gue disajikan dengan detail dan semangat yang sama garangnya sama musik yang gue bahas. Superfriends yang hidupnya nggak bisa lepas dari riff gitar dan gebukan drum pasti betah nongkrong di sini. Tiap artikel gue bikin biar lo ngerasa kayak lagi ada di depan panggung.

0 Comments

Comment
Other Related Article
image article
Noize

Rudolf Dethu: Muda, Bali, Bernyali

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Noize

Perilaku Individu Musik Indonesia di Era ‘Baby Boomers’ dan ‘Gen X’

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Noize

Yulio Piston: Tentang Menjadi Pengkritik Musik

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Noize

Sudah Saatnyakah Indonesia Punya Rock ‘n Roll Hall of Fame?

Read to Get 5 Points
image arrow
1 /

Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive