Sebuah tradisi yang dilakukan biasanya memiliki tujuan dan makna tersendiri. Tujuannya pun nggak hanya satu tapi beragam, salah satunya adalah untuk menolak bala. Nah, mengenai tradisi dengan tujuan menolak bala, Mepe Kasur dari Banyuwangi adalah salah satunya.
Setiap tanggal-tanggal khusus, masyarakat Desa Kemiren, sebagai daerah asli tempat tinggal masyarakat Suku Osing, melakukan tradisi Mepe Kasur. Tradisi ini dilakukan dengan cara menjemur kasur-kasur yang ada di rumah. Menariknya, semua penduduk desa akan bersama-sama menjemur kasur-kasurnya di depan rumah mereka. Pemandangan unik pun muncul dari tradisi Mepe Kasur ini.
[readalso url=21878]
Latar Belakang Diadakannya Mepe Kasur

Image source: twitter.com/tul_har
Nggak ada informasi secara pasti sejak kapan tradisi Mepe Kasur ini diadakan. Tapi, dari berbagai sumber yang ditemukan, tradisi jemur kasur ini sudah diadakan sejak ratusan tahun yang lalu. Masyarakat Suku Osing sering menggelar tradisi unik ini setiap tanggal 1 Dzulhijjah atau menjelang Hari Raya Idul Adha.
Tujuan diadakannya tradisi jemur kasur ini adalah untuk menolak bala. Menurut masyarakat setempat, semua penyakit dan bencana bisa bermula dari tempat tidur.
Kegiatan yang Dilakukan Saat Mepe Kasur

Image source: blogkulo.com
Ritual tradisi Mepe Kasur ini erat kaitannya dengan acara Tumpeng Sewu. Mepe Kasur diadakan pada pagi hari saat matahari mulai terbit, sedangkan acara Tumpeng Sewu digelar pada malam harinya.
Nggak jauh berbeda dengan menjemur kasur seperti yang dilakukan pada umumnya, biasanya kasur dijemur di bawah matahari dan dipukul-pukul dengan rotan. Uniknya, semua masyarakat secara massal menjemur kasur di sepanjang pinggir jalan desa.
Pemandangan yang nggak biasa ini tentu menjadi hal menarik bagi pengunjung ataupun masyarakat dari desa lain. Kasur-kasur milik warga berjejer rapi di sepanjang jalan desa, tepatnya di depan masing-masing rumah mereka.
Makna Simbol Warna Kasur yang Dijemur

Image source: twitter.com/tul_har
Yang menariknya lagi dari Mepe Kasur, ternyata kasur yang dijemur oleh masyarakat Suku Osing memiliki warna yang sama, bro. Yap, kasur-kasur tersebut memiliki warna hitam sebagai warna dasarnya. Pada bagian tepi kasur memiliki corak warna merah. Tapi, kesamaan warna kasur milik masyarakat ini bukan berarti mereka membeli kasur dalam satu pabrik yang sama. Kok bisa ya, bro?
Warna-warna kasur ini sengaja digunakan karena memiliki filosofi kehidupan. Sehingga, corak hitam dan merah pada kasur sudah digunakan secara turun-temurun. Masyarakat Suku Osing menjuluki warna kasurnya dengan istilah ‘abang cemeng’.
Masyarakat menyebutnya warna Cemeng atau hitam sebagai simbol dari makna perlindungan dari segala macam penyakit dan bencana. Sedangkan warna Abang atau merah dapat ditafsirkan sebagai warna kelanggengan. Kekompakan masyarakat saat berbaris menjemur kasur juga memiliki makna sebagai kerukunan dan kebersamaan yang kuat.
[readalso url=21845]
Maksud dan Tujuan Diadakan Mepe Kasur
Semua tradisi yang dilakukan pasti memiliki maksud yang baik menurut kepercayaan masyarakat itu sendiri. Sebagian besar masyarakat Desa Kemiren di Banyuwangi berpendapat bahwa Mepe Kasur dapat menghilangkan semua bencana dan penyakit.
Secara logika, kasur yang bersih dari debu dan kotoran mungkin dapat menghindari penggunanya dari penyakit. Namun, menurut makna simbol yang dilontarkan oleh masyarakat Suku Osing, ritual ini dapat melindungi diri dari bencana serta mempererat kelanggengan pasangan suami-istri.
Walaupun tradisi Mepe Kasur ini terlihat sesederhana menjemur dan menepuk-nepuk kasur, tapi ternyata memiliki makna yang sangat mendalam ya, bro. Semoga tradisi unik seperti ini bisa selamanya dilestarikan!
Source: boombastis.com
ARTICLE TERKINI
Article Category : Urban Action
Article Date : 14/07/2020
0 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Please choose one of our links :