Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct Name
Please Select the gender
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
show password icon
  • circle icon icon check Contain at least one Uppercase
  • circle icon icon check Contain at least two Numbers
  • circle icon icon check Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
show password icon
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Uniknya Fenomena Awan Lenticular, Kayak Gunung Lagi Pakai Topi

Fenomena awan unik ini disebut-sebut sebagai awan jenis lenticularis, dan sudah beberapa kali terlihat menyelimuti berbagai puncak gunung di Indonesia. Puncak Gunung Semeru, Rinjani, Sindoro, Sumbing dan beberapa puncak gunung lainnya tercatat pernah dipayungi awan yang mempesona ini.

Dibalik keindahannya, awan lenticular ini punya fakta-fakta yang menarik lho, bro. Berikut ini beberapa fakta menarik terkait awan lenticular yang kerap menaungi puncak gunung.

[readalso url=21542]

Terbentuknya Awan Lenticular

Awan unik ini dinamai lenticular clouds atau awan lenticular karena bentuknya yang menyerupai lensa lenticular atau lensa cembung-cekung, bro. Pada umumnya, awan ini mempunyai tiga jenis yang dikelompokan dari ketinggiannya.

Pertama, altocumulus standing lenticularis (ACSL), yaitu awan lenticular yang ada di dataran rendah. Kedua, stratocumulus standing lenticularis (SCSL), awan lenticular yang ada di dataran dengan ketinggian tingkat menengah, dan cirrocumulus standing lenticularis (CCSL), yaitu awan lenticular yang keberadaannya lebih tinggi dari atmosfer.

Awan yang menyelimuti puncak Gunung Rinjani pada 17 Juli 2019 yang lalu, merupakan contoh awan lenticular tipe pertama, yaitu altocumulus standing lenticularis (ACSL). Penyebabnya, tak lain dari arus udara lembab yang bergerak terhalang oleh gunung-gunung besar, sehingga menabrak dan terdorong ke sekitar puncak gunung. Udara lembab tersebut kemudian mengalami kondensasi atau pengembunan, sehingga terbentuklah gumpalan awan yang menaungi puncak gunung tersebut.

Beberapa Awan Lenticular di Indonesia

Image source: navyastraveldiary.com

Fenomena awan unik ini bisa dibilang langka dan sangat jarang terjadi. Meskipun begitu, beberapa jajaran puncak gunung di Indonesia tercatat beberapa kali pernah bertopikan awan cantik ini. Selani Gunung Rinjani, ada juga Gunung Semeru juga pernah terlihat bertopikan awan lenticular yang sangat unik ini. Pada tanggal 10 Desember 2018, Mahameru terlihat lebih beda dan lebih menawan dari biasanya. Awan lenticular nampak tenang dan sangat indah menaungi puncak gunung tertinggi di Indonesia itu.

Gunung Sumbing pun pernah beberapa kali dihampiri awan yang menyerupai bentuk mangkuk terbalik ini. Tak mau kalah dari saudara kembarnya, Gunung Sindoro juga pernah terlihat beberapa kali bertopikan awan lenticular yang sangat langka ini. Udara pegunungan Indonesia yang lembab membuat awan lenticular kerap beberapa kali terlihat di puncak-puncak gunung Indonesia lainnya.

Kerap Dikaitkan dengan Mitos Warga Setempat

Kehadirannya di puncak Gunung Rinjani yang berdekatan dengan gempa yang melanda wilayah NTB, membuat beberapa masyarakat mengaitkan awan lenticular dengan mitos pertanda buruk. Namun, mitos tersebut tidak dibenarkan oleh pihak BMKG.

Dilansir dari laman liptan6.com, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mataram, Agus Rianto, mengatakan bahwa fenomena topi awan di puncak Gunung Rinjani tak ada kaitannya dengan pertanda gempa yang terjadi akhir-akhir ini di Nusa Tenggara Barat. Ia mengatakan itu hanyalah fenomena alam biasa dari awan Lenticular.

Berbahaya Bagi Penerbangan

Meskipun demikian, kemunculan awan lenticular tetap memunculkan potensi bahaya bagi dunia penerbangan, karena gelombang gunungnya. Awan ini sangat ditakuti para pilot pesawat yang melewatinya atau bahkan hanya terbang di dekatnya karena bisa menyebabkan turbulensi alias guncangan hebat di udara. Gelombang gunung ini bahkan bisa saja menyebabkan turbulensi pada cuaca cerah atau disebut Clear Air Turbulence (CAT).

So, itu dia informasi mengenai awan lenticular yang mempesona. Tetap dirumah saja dan jaga kesehatan ya, bro. Dan satu lagi, tetap semangat!

 

Referensi : www.liputan6.com
www.idntimes.com

ARTICLE TERKINI

Tags:

#Beginner #Extreme #solo-traveling

Article Category : Trending

Article Date : 05/05/2020

Superadventure
Superadventure
Admin Adventure
Penulis artikel petualangan outdoor dan ekstrem yang bawain kisah mendaki tebing, arung jeram, sampai menjelajah jalur off-road. Buat gue, petualangan itu lebih dari sekadar jalan-jalan, ini soal uji mental dan fisik. Tiap cerita gue kemas biar Superfriends kebawa sensasinya. Gue pengen lo yang baca ngerasa termotivasi buat keluar dari zona nyaman. Kalau lo suka tantangan alam, artikel di sini bakal bikin lo pengen langsung berangkat.

0 Comments

Comment
Other Related Article
image article
Trending

5 Kelezatan Kuliner Khas Daerah yang Sangat Dinanti Saat Lebaran

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Trending

Kuliner Khas Nusantara yang Wajib Hadir Saat Buka Puasa

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Trending

Ide Bisnis yang Lumayan Menguntungkan di Bulan Ramadan

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Trending

Mengenal Slow Tourism, Tren Traveling Viral Selain Virtual Tour dan Staycation

Read to Get 5 Points
image arrow
1 /

Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive