Gunung Sumbing merupakan gunung tertinggi ketiga di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru dan Gunung Slamet yang memiliki ketinggian 3.371 mdpl. Secara administratif, Gunung Sumbing terletak di tiga wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Wonosobo.
Kegiatan mendaki gunung sendiri sudah menjadi hobi banyak orang, termasuk Rudi. Setelah berbulan-bulan lamanya jalur pendakian harus ditutup karena pandemi corona, akhirnya beberapa jalur pendakian sudah dibuka kembali termasuk salah satunya adalah Gunung Sumbing.
Namun, mendaki gunung di tengah pandemi dan masa Adaptasi Kebiasaan Baru mungkin nggak sama seperti sebelum adanya pandemi. Karena harus mengikuti serangkaian protokol kesehatan yang ditetapkan dari pihak pengelola Gunung Sumbing itu sendiri.
Pengalaman Rudi yang sudah mendaki Gunung Sumbing juga bisa menjadi contoh buat yang mau mendaki di tengah pandemi nih, bro.
[readalso url=22012]
Merasa Aman Karena Sudah Mengikuti Aturan

Rudi bersama keempat temannya mendaki Gunung Sumbing via Butuh Kaliangkrik pada 18 Juli lalu. Buat seorang Rudi yang memang hobi banget mendaki, bisa kembali mendaki gunung tentu menjadi hal yang dirindukan.
Menurut Rudi, ia nggak merasa was-was atau takut untuk mendaki di tengah pandemi seperti sekarang. Karena seperti yang diketahui, telah ada aturan dan ketentuan yang harus diterapkan oleh semua pendaki.
Peraturan seperti membawa Surat Keterangan Sehat, memakai masker, cuci tangan, dan membawa kebutuhan kebersihan lainnya sudah diikuti oleh Rudi dan keempat temannya. Jadi, nggak ada rasa takut untuk kembali mendaki gunung.
Untuk registrasi sebelum mendaki juga nggak susah, “Gampang sih daftarnya di Instagram @symphony_sumbing udah ada petunjuknya tinggal kita ikutin aja,” ujar Rudi.
Proses Penerapan Protokol Kesehatan Sebelum Mendaki

Image source: instagram.com/symphony_sumbing
Sebelum bisa masuk ke jalur pendakian, Rudi dan keempat temannya harus menjalani prosedur yang diterapkan terlebih dahulu.
“Sampai di basecamp Symphony Sumbing jam 9 malam, terus disuruh cuci tangan, dicek suhu tubuh, abis itu disemprot cairan disinfektan. Baru setelah itu kita bisa masuk ke dalam basecamp. Dan di dalam basecamp nggak boleh lebih dari 50 orang,” kata Rudi.
Rudi juga menambahkan, sebelum mendaki Gunung Sumbing, rata-rata para pendaki yang berjumlah sekitar 50 orang harus bermalam dulu di basecamp sebelum akhirnya bisa mendaki di pagi harinya.
“Untuk sementara jalur pendakian Gunung Sumbing baru bisa diakses sama yang domisili wilayah Jawa Tengah dan DIY aja, kebetulan Kartu Identitas gue juga emang domisili Jateng,” ungkap Rudi.
Rudi menambahkan, sebenarnya bisa aja kalau kartu identitasnya domisili dari luar wilayah Jawa Tengah atau DIY mau mendaki Gunung Sumbing. Tapi, harus ada surat izin tinggal di Jawa Tengah atau DIY dari Kepala Dusun atau RT dan RW setempat. Misalnya mahasiswa yang tinggal di Jawa Tengah atau DIY yang ber-KTP di luar domisili tersebut.
Namun, karena memang hobi, itu semua siap dilakukan para pendaki demi bisa kembali mendaki Gunung Sumbing.
[readalso url=22002]
Suasana Mendaki di Tengah Pandemi

Image source: tenda-inspirasi.com
Rudi dan keempat temannya mendaki Gunung Sumbing pada 18 Juli pukul 09.00 waktu setempat dan akhirnya sampai di basecamp terakhir pukul 17.00 waktu setempat. Setelah bermalam, keesokan harinya pada pukul 07.00, dia dan keempat temannya dari basecamp terakhir melanjutkan pendakian sampai ke puncak.
Saat kembali turun ke basecamp pada pukul 10.00, Rudi dan keempat temannya melanjutkan turun pendakian pada pukul 11.00 dan sampai di basecamp pukul 16.00. Rudi dan keempat temannya menghabiskan 2 hari 1 malam selama pendakian ke Gunung Sumbing. Menurutnya, nggak ada kesulitan selama pendakian ini.
Suasana pendakian pun nggak sama seperti biasanya, di tengah pandemi seperti ini, ternyata masih jarang orang-orang yang mau mendaki.
“Kalau suasananya lebih sepi pendaki, ya mungkin karena lagi pandemi dan yang naik ke Gunung Sumbing juga dibatasi cuma 50 orang. Di jalan selama pendakian kita paling ketemu satu atau dua rombongan doang, jadi nggak terlalu banyak orang,” ungkap Rudi.
Perbedaan pendakian di tengah pandemi dan sebelum pandemi memang terasa banget bedanya. Namun menurut Rudi sendiri, dia lebih menyukai suasana mendaki saat sepi seperti di tengah pandemi ini.
“Lebih nyaman dan nggak berisik pas di tenda. Nah, masalah sampah juga pihak basecamp sekarang sudah tegas, semua barang yang kita bawa itu ditulis nanti pas turun dicek semua. Jadi nggak ninggalin sampah terlalu banyak,” lanjut Rudi.
[readalso url=21943]
Rencana Mendaki Gunung Lain
Setelah mendaki Gunung Sumbing, Rudi sudah punya rencana mau mendaki gunung lagi di bulan Agustus atau September nanti. Rudi berencana mau mendaki Gunung Kembang atau Sindoro. Tentu nggak lupa juga untuk terus mengikuti aturan yang diterapkan.
Rudi sendiri juga berharap supaya pandemi ini cepat selesai, jadi buat semua orang yang mau jalan-jalan atau naik gunung nggak perlu lagi ribet mengurus segala macam perizinan.
“Buat para pendaki yang mau naik saat pandemi, taati aja peraturan dari pengelola gunungnya yang paling penting. Jangan cuma karena ego jadi merugikan semua pihak,” begitu pesan Rudi buat para pendaki yang mau naik gunung di tengah pandemi.
Nah, buat yang mau mendaki gunung di tengah pandemi, patuhi aturan yang berlaku dan jangan lupa untuk selalu jaga kebersihan dan kesehatan, bro!
ARTICLE TERKINI
Article Category : Trending
Article Date : 01/08/2020
0 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Please choose one of our links :