Di tengah era digital yang makin menggila, semua musisi sekarang udah main di platform streaming. Dari yang dulu ngandelin kaset sampe CD, sekarang semua serba klik, termasuk scene metal yang dulu identik sama distribusi fisik dan jaringan underground.
Tapi satu hal yang nggak berubah: attitude. Dan itu masih dipegang kenceng sama GRAUSIG.
Band death metal pionir asal Jakarta ini udah eksis lebih dari 3 dekade. Yup, sekitar 37 tahun mereka bertahan di jalur keras, ngelewatin berbagai era, dari analog sampe digital, tanpa kehilangan taringnya.
Setelah sempat ngerilis “Litani Agoni” di Agustus 2025, sekarang GRAUSIG balik lagi dengan lanjutan ceritanya lewat single terbaru berjudul “Chant Of Blight.”
Nggak cuma sekadar lagu baru, track ini jadi semacam kelanjutan naratif dari rilisan sebelumnya. Vibenya makin gelap, makin dalam. “Chant Of Blight” sendiri bisa diartikan sebagai mantra kehancuran dan itu bukan cuma judul doang.
Lagu ini ngebawa cerita tentang sosok yang kebakar dendam karena takdir pahit. Dendamnya nggak berhenti di dunia hidup, tapi malah jadi obsesi buat nyusul ke alam kematian. Bukan buat damai, tapi buat balas dendam dengan cara yang lebih kejam. Singkatnya: dark banget.
Dari sisi produksi, GRAUSIG juga masih konsisten ngejaga kualitas. Mixing digarap sama Yuda di K-Studio, sementara mastering tetap dipercayakan ke Dan Randall di Mammoth Sound Mastering, USA. Jadi secara sound, udah kebayang bakal sepadat dan sebrutal apa.
Perjalanan panjang sejak 1989 jelas bukan hal gampang. Tapi GRAUSIG buktiin kalau umur bukan alasan buat melunak. Justru makin ke sini, mereka makin solid dan relevan—bahkan di era digital sekarang.
GRAUSIG juga ngerilis video musik “Chant Of Blight” di YouTube (Grausig Channel), barengan sama perilisan di semua platform digital.
ARTICLE TERKINI
Article Category : News
Article Date : 01/05/2026
1 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
DEVI TRI HANDOKO
01/05/2026 at 15:21 PM