Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct Name
Please Select the gender
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
show password icon
  • circle icon icon check Contain at least one Uppercase
  • circle icon icon check Contain at least two Numbers
  • circle icon icon check Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
show password icon
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

The Upstairs

Jika mendengar nama The Upstairs, tentu tidak bisa dipisahkan dari karakter sang vokalis yang enerjik dan eksentrik. Rambut keritingnya, seakan terbentuk dari gemulainya lekukan geraknya saat berada di atas panggung bersama Band yang didirikan tahun 2001 tersebut. Ia tak lain dan tak bukan adalah Jimi Multhazam, vokalis dan salah satu pendiri dari grup musik new wave, The Upstairs. 

Jimi bersama salah seorang temannya, Kubil Idris berperan sebagai pendiri dari The Upstairs. Keduanya merupakan member orisinil yang masih hinggap di dalam tubuh The Upstairs selama 20 tahun lebih berkarya di kancah musik dalam negeri. Kini The Upstairs diisi oleh Jimi (vokal), Kubil (gitar), Fisma (bass, keyboard, dan Rian (drum).

Sekilas mengenai vokalis The Upstairs, Jimi lahir di Jakarta pada 11 Januari 1974. Jauh sebelum The Upstairs, jiwa seni dan ketertarikannya terhadap musik telah mengalir di dalam tubuh Jimi. Sejak balita, pria ini sudah gemar menggambar. Lalu, saat sekolah dasar, ia menemukan kesenangan lainnya dalam menulis. Salah satu ciri khas penulisan lirik dari Jimi Multhazam adalah penggunaan Bahasa Indonesia, baik untuk The Upstairs dan Morfem. Di masa SD, Jimi sangat menikmati tugas mengarang. Bahkan dirinya pun senang hati mengerjakan tugas teman-temannya yang kala itu sedang dilanda rasa malas. Karangan yang paling senang Jimi buat hadir dalam bentuk cerita pendek. Mungkin atas kesenangannya di masa sekolah dulu yang membuat dirinya gemar bercerita melalui karya-karya yang dibuat Jimi untuk The Upstairs dan Morfem. 

Perihal bermusik, Jimi pertama kali diperkenalkan sang kakak melalui lagu-lagu dari Rolling Stones, The Beatles, hingga The Police di masa itu. Bahkan Jimi pun mulai mendengarkan New Wave yang jadi genre untuk The Upstairs sejak masih di sekolah dasar. Masuk jadi siswa sekolah menengah pertama, pengetahuan musik Jimi pun berkembang. Di masa ini, Jimi mulai mendengarkan musik-musik heavy metal, seperti Kiss dan Twisted Sisters.

Namun, keinginan Jimi untuk bisa bermusik dalam format band ternyata hadir bukan dari musik new wave yang menginspirasi lahirnya The Upstairs. Melainkan, saat Jimi mulai mengenal musik punk rock, melalui The Dehumanizers. Pengenalan tersebut memantik keinginannya untuk bermusik dan mendirikan band semasa SMA. Aktivitas kesukaannya tersebut yang membantunya berkembang dalam melakukan eksplorasi musik, seperti aransemen dan penulisan lirik. Menurut Jimi, untuk dapat menulis lirik dalam Bahasa Indonesia secara baik, sangat dibutuhkan pengetahuan mengenai padanan kata yang banyak, selain itu tulis dengan tema yang sudah ditentukan dan jangan lupa tuangkan pengalaman di dalamnya agar para penikmat dapat membayangkan ceritanya.

Seusai SMA, vokalis The Upstairs ini melanjutkan studinya sebagai mahasiswa seni rupa di Institut Kesenian Jakarta. Kampus merupakan tempat akhirnya membawa Jimi mantap bergerak di dalam ruang lingkup permusikan. Lingkungan kampus seni yang kreatif tentunya menghadirkan kebebasan bagi jimi untuk bereksplorasi terhadap musiknya. Jimi memilih musik sebagai kanal lain dalam penyaluran ide-idenya sebagai seniman, karena menurutnya musik memberi tahapan proses penyampaian ide yang lebih singkat dibanding seni rupa. Meskipun begitu, Jimi pun tetap mengaplikasikan seni rupa ke dalam proyek musik yang dijalaninya, lewat cover album, t-shirt, dan poster. Melalui pengetahuan ilmu seni rupa juga, Jimi berhasil menampilkan citra ceria dan penuh warna untuk The Upstairs. 

Di awal kemunculannya, The Upstairs memang identik dengan pakaian kontras bahkan saling silang tabrak warna. Ternyata, Jimi memiliki alasan mengapa tata busana The Upstairs didesain sedemikian rupa uniknya. Menurutnya, pada saat The Upstairs muncul ke permukaan belantika musik Ibukota, panggung-panggung acara independen kerap kali hanya didesain secara ala kadarnya. Tata lampu juga hanya berperan untuk menyinari para pementas. Agar The Upstairs dapat tampil dengan maksimal secara visual, Jimi merancang identitas panggung untuk bandnya ini dengan memakai pakaian warna-warni. 

Dengan pendekatan yang unik di zaman itu, nama The Upstairs hampir selalu mencuat di ranah skena dan jadi musisi yang ditunggu-tunggu di hampir setiap pentas seni yang diadakan di Jakarta. Bahkan gaya panggung The Upstairs di tahun 2004 hingga 2010 diaplikasikan oleh para penggemar setianya yang dijuluki dengan nama Modern Darling. Menurut Jimi, datang ke sebuah pentas seni, setiap orang harus merasakan pengalaman audio dan visual yang menarik dan seimbang. Namun sayang, fenomena warna-warni The Upstairs sudah tidak bisa dinikmati seperti dulu. Kini tampilan tata busana panggung The Upstairs didesain terkesan lebih netral dan kalem. Penasaran dengan gaya baru dari The Upstairs? Tonton video di bawah ini

Di luar The Upstairs, Jimi pun aktif berperan sebagai vokalis dari band rock alternatif bernama Morfem bersama Pandu (gitar), Yusak (bass), dan Freddie (drum). Morfem lahir karena Jimi ingin lebih melakukan eksplorasi terhadap penulisan liriknya, meskipun beberapa penikmat musik mengatakan bahwa lirik Jimi untuk The Upstairs merupakan karya-karya penulisan Jimi yang terbaik. Namun, menjembatani perbedaan keduanya, Jimi menyatakan bahwa lirik-liriknya untuk The Upstairs dirancang dengan komposisi yang puitis. Memainkan gaya bahasa dan analogi jadi ciri khas lirik The Upstairs, namun dengan tema yang lebih general. Sedangkan di Morfem, Jimi mencoba untuk menulis dengan tema yang lebih fokus dan spesifik namun diutarakan dengan gaya bahasa yang biasa diucapkan sehari-hari. Bersama Morfem, Jimi sudah melahirkan album berjudul Indonesia (2011), Hey, Makan Tuh Gitar! (2013), SneakerFuzz (2014), Dramaturgi Underground (2016), dan Binar Wajah Sebaya (2020).

ARTICLE TERKINI

Tags:

#The Upstairs # jimi multhazam # morfem # new wave

Article Category : Super Buzz

Article Date : 10/10/2020

Supermusic
Supermusic
Admin Music
Penulis artikel dan penggila musik rock/metal yang setiap hari ngulik rilisan baru, liputan gig, dan cerita di balik panggung band legendaris. Gue percaya musik keras itu bukan cuma suara, tapi energi dan gaya hidup. Konten gue disajikan dengan detail dan semangat yang sama garangnya sama musik yang gue bahas. Superfriends yang hidupnya nggak bisa lepas dari riff gitar dan gebukan drum pasti betah nongkrong di sini. Tiap artikel gue bikin biar lo ngerasa kayak lagi ada di depan panggung.

3 Comments

Comment
Brawijaya Hutabarat

Brawijaya Hutabarat

29/04/2025 at 17:36 PM

Coll
GRACE JELIA PUTRI TADETE

GRACE JELIA PUTRI TADETE

14/09/2025 at 04:08 AM

Good
Muhammad

Muhammad

06/02/2026 at 14:18 PM

Suka
Other Related Article
image article
Super Buzz

The Dare Lepas Single Terbaru yang Berjudul Strangestreetfellows

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Super Buzz

Tampil di Jepang, Isyana Sarasvati Akan Kolaborasi Bareng Mantan Gitaris Megadeth

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Super Buzz

Milledenials Luncurkan Musik Video untuk Single Precious Me dan Feel Any Pain

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Super Buzz

Break Out Day Fest Cirebon Berlangsung Super Seru!

Read to Get 5 Points
image arrow
1 /

Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive