Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct Name
Please Select the gender
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
show password icon
  • circle icon icon check Contain at least one Uppercase
  • circle icon icon check Contain at least two Numbers
  • circle icon icon check Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
show password icon
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Agung Hellfrog: Jurnal Burgerkill Menginvasi Eropa (Part 1)

Untuk saya pribadi, sebuah tur di manapun itu selalu saya jadikan momen untuk proses pembelajaran saya ke depannya. Oleh karena itu senang sekali rasanya kali ini kami (Burgerkill) bisa melakukan sebuah tur di Eropa. Karena sudah pasti kita akan mendapat sebuah pengalaman baru saat kita melakukan tur ini.

Sebenarnya untuk Belanda sendiri ini merupakan kali kedua kita datang ke negara tersebut. Berbeda dengan dua negara lain, yaitu Prancis dan Belgia yang merupakan kali pertama kita ke sana. Seharusnya Jerman juga masuk ke dalam plan awal kita untuk tur eropa kali ini, cuma karena satu dan lain hal akhirnya Jerman tidak jadi kita masukkan ke dalam rangkaian tur.

Mungkin beberapa teman ada yang belum tahu, bahwa pada awalnnya rencana kami adalah kita ingin melakukan tur Eropa dan juga Amerika, tapi di tengah persiapan tur ada kendala di visa untuk melakukan tur ke Amerika yang membuat kami harus menunda kunjungan kita ke negara tersebut.

Untuk tur kali ini, kami melihat tenyata sangat memungkinkan bagi band dari Indonesia untuk main di luar negeri, asalkan kita membentuk networking-nya terlebih dahulu. Karena bisa dibilang salah satu kunci kenapa kami bisa melakukan tur kali ini salah satunya adalah networking. Mulai dari titik mana saja yang akan kami datangi, di mana kami stay dan sebagainya. Dan setelah punya networking dan memperoleh kepastian tentang titik-titik mana saja yang mau didatangi dan plan lainnya, barulah kami mencari partner, Alhamdulillah SUPER INVASION mendukung kita untuk berangkat ke sana.

Kami berangkat tanggal 16 Oktober, direct flight dengan rute Jakarta-Amsterdam. Kami tiba di Amsterdam pada keesokan harinya, 17 Oktober. Dari bandara, kami langsung menuju Eindhoven karena stay di sana. Di Eindhoven kami stay di salah satu teman yang akrab kami sapa "Mba Intan". Mba Intan sendiri merupakan promotor Burgerkill selama tur Eropa kali ini. Mba Intan sendiri sudah pernah menangani salah satu band dari Indonesia juga sebelumnya, salah satuya adalah Slank.

19 Oktober-Cirque Electrique Paris, Prancis

Tanggal 18 Oktober, tepatnya pukul 11 siang kami meluncur ke titik pertama dari rangkaian tur ini, Cirque Electrique Paris, Prancis. Kami tiba di Paris pada malam hari karena perjalanan dari Eindhoven ke Paris memerlukan waktu sekitar 8 jam perjalanan.

Di Paris kami tinggal di salah satu kenalan, seorang musisi yang memang tinggal di sana. Lagi-lagi kami memanfaatkan network yang kami punya. Teman kami ini juga tinggal bersama salah satu aktivis untuk event-event musik di tempat tersebut, karena hampir tiap bulan selalu saja ada gigs yang dibuat oleh orang tersebut, mulai dari gigs kecil sampai yang skalanya lebih luas. Singkat cerita di tempat merekalah kita stay untuk venue pertama.

Besoknya setelah melakukan rutinitas seperti sarapan, chit-chat dan lain sebagainya, barulah pada sore harinya kami berangkat menuju venue Cirque Electrique. Jadi venue ini memang sebuah tempat yang digunakan untuk mengadakan pertunjukan, satu tempat dibagi-bagi menjadi beberapa venue dengan beberapa ukuran. Mulai dari venue besar sampai kecil. Untuk kali ini kami memang tampil di venue yang tidak besar. Meskipun tidak besar, venue kali ini memang untuk mengadakan pertunjukan yang lebih intim.

Di venue pertama ini kami tampil dengan band lain, yaitu Warfuck, Purelent Excretor dan Insanity. Insanity adalah salah satu teman kami juga dari Indonesia yang selalu bareng dengan Burgerkill untuk tur di Eropa kali ini.

Yang menarik dari Prancis adalah, saya adalah salah satu orang yang suka dengan band metal Prancis. Jadi waktu eranya album Burgerkill album Berkarat, saya sama Eben sempat mengoleksi rilisan-rilisan band-band Prancis. Karena menurut kami berdua, band-band Prancis mempunyai karakter sendiri, makanya pada saat itu kita suka sekali dengan band Prancis, salah satunya adalah Nostromo.

Rilisan yang berpengaruh dari Nostromo adalah saat mereka merilis album akustik, di situ seolah membuka perspektif baru bagi kami bahwa band metal juga jangan takut untuk membuat sesi akustik, karena sudah dibuktikan oleh Nostromo yang bisa membuat musik sekeras itu menjadi format akustik dan tetap "cowok".

Dari band-band yang tampil pada malam itu, saya melihat warna musik metal Prancis sebagaimana yang saya dengar sebelumnya, demikian juga dengan metalhead-nya yang juga mempunyai karakternya sendiri. Meskipun bisa dibilang secara umum banyak orang Eropa yang tidak suka kepada orang-orang Prancis karena konon "katanya" orang-orang Prancis itu rasis, tidak mau menggunakan bahasa lain, ini lah itu lah dan lain sebagainya, tapi saat kami sudah dalam konteks "metalhead', tidak ada batasan apapun itu.

Di titik pertama ini, bagi Burgerkill bisa dibilang sebagai momen yang menentukan untuk titik-titik ke depannya. Jadi saat itu kami tampil semaksimal mungkin dengan memberikan yang terbaik. Kami sudah tidak lagi memikirkan berapa jumlah penonton yang hadir atau apapun itu.

Nyatanya Alhamdulillah, respons para audiens yang hadir sangat bagus. Yang pada awalnya para audiens mengamati seperti apa musik Burgerkill, akhirnya pada lagu ketiga dan seterusnya mereka mulai berinteraksi dengan kami; mulai dari headbanging, moshing sampai stage diving.

Setelah beres manggung, kami langsung “membangun” network di sana. Memang Burgerkill juga sudah berencana untuk selalu networking di setiap titik tur. Setelah itu baru kami kembali ke tempat persinggahan dan besoknya langsung lanjut ke titik selanjutnya, yaitu Belgia.

Oh iya, sebelum kami meluncur ke Belgia, pada pagi harinya saya menyempatkan diri melakukan syuting video klip untuk salah satu lagu di proyek solo saya.

20 Oktober-JOC Mons, Belgia 

Jarak antara Paris-Belgia tidaklah sejauh perjalanan kami sebelumnya, kurang lebih setengah dari jarak Eindhoven-Paris. Di Belgia kami stay di tempat teman kami yang bernama Sarah yang tinggal bersama kakaknya bernama Mickey. Sarah sendiri adalah seorang punk rocker, dialah yang nantinya meng-arrange gigs Burgerkill di Belgia.

Yang menarik adalah saat datang ke tempat tersebut, kami sudah langsung tahu kalau kami datang ke kediaman sesama metalhead, karena semua orang yang ada di sana "dandanannya" memang sudah metalhead banget. Ditambah setting-an rumah, playlist dan ornamen-ornamen lain di tempat tersebut memang metal banget. Dan ternyata tempat itu juga merupakan tempat yang disinggahi oleh Jeruji sewaktu mereka melakukan tur Eropa beberapa tahun lalu.

Di Belgia, Burgerkill manggung di venue yang (bagi orang Belgia) disebut "Cave". Memang bentuk venue-nya seperti gua, ruangannya tidak terlalu besar tapi sangat artistik. Di venue kali ini suasananya lebih intim dari venue sebelumnya di Paris. Kita tampil hadap-hadapan dengan penonton, tanpa FOH, hanya dengan backline yang ada. Melihat sambutan baik dari penonton saat Insanity tampil (Insanity selalu tampil sebelum Burgerkill di tur kali ini), otomatis kita pun lebih "tenang" untuk tamil pada malam itu.

Meskipun cukup minimalis, tapi yang menarik di titik kali ini adalah respons penonton yang lebih "seru" dari titik sebelumnya.  Saya sendiri sampai kaget melihat respons audiens yang ada di sini. Saya ingat betul ada seorang penonton wanita dengan penampilan casual bahkan cenderung terlihat pendiam, tapi saat Burgerkill tampil justru orang itulah yang paling "brutal" responsnya, mulai dari headbanging sampai berani buka baju atasannya sampai tinggal pakai bra. 

Dengan respons yang bagus, sama seperti di titik sebelumnya kami pun chit-chat dengan orang-orang yang hadir di sana. Selain penonton yang berani buka baju atasannya, hal menarik lainnya adalah banyak audiens yang dateng ke tempat tersebut mengenakan merchandise dari Jeruji.

Awalnya sempat kaget juga, sampai akhirnya saya tanya langsung ke orang tersebut mengenai Jeruji, dan ternyata memang mereka tahu tentang Jeruji, mereka pun masih ingat saat Jeruji datang ke sana, bahkan menanyakan ke saya kapan Jeruji bakal ke sana lagi. Saya pribadi ikut merasa bangga untuk Jeruji yang sudah berhasil meninggalkan kesan baik sewaktu mereka di Belgia. Bisa dibilang proses mingle kami kali ini lebih lama dari titik sebelumnya, karena banyak dari audiens yang ingin tahu lebih jauh tentang musik-musik lain yang ada di Indonesia.

21 Oktober-De Bank Eindhoven, Belanda

Keesokan harinya kami langsung meluncur lagi ke titik selanjutnya di Belanda. Sampai di Belanda, kami istirahat sebentar lalu langsung lanjut pergi ke venue lagi untuk setup dan soundcheck sebelum tampil pada malam harinya.

Yang berbeda dari dua titik sebelumnya adalah kali ini kita tidak perform di depan komunitas metal. Jadi ceritanya saat itu di Belanda sendiri lagi memang lagi ada sebuah event yang bernama Dutch Design Week. Event tersebut adalah acara yang dibuat oleh pemerintah Belanda untuk mengakomodasi para senimannya untuk melakukan pameran.

Sebagaimana tema dari event tersebut, otomatis pengunjung yang datang di acara tersebut mayoritas adalah para seniman. Yang kami lihat sekilas dari audiens yang hadir pada event tersebut, bisa dibilang mereka berasal dari kalangan A dan B. Untuk kami pribadi ini merupakan sebuah tantangan tersendiri karena akan tampil bukan di depan metalhead yang notabene sudah familiar dengan jenis musik yang biasa kami mainkan. 

De Bank, itulah nama venue kali ini. Venue yang baru dibuat oleh pemerintah Belanda ini memakai warna merah sebagai warna dominan, tempat ini memang mempunyai kesan yang bisa dibilang classy. Ada tiga band yang perform pada malam itu, yaitu Insanity, Sue Me, dan Burgerkill yang ketiganya memainkan genre berbeda satu sama lainnya; grindcore (Insanity) stoner (Sue Me), dan metal (Burgerkill).

Meskipun yang datang dari berbagai kalangan dan umur berbeda, tapi ternyata mereka tetap bisa mengapresiasi sebuah karya seni, tidak melihat apapun genrenya. Buat kami ini adalah sebuah pengalaman baru, karena meskipun kami tidak tampil di depan metalhead, orang-orang tetap stay sampai kami selesai tampil. Bahkan booth merchandise Burgerkill langsung diserbu sama mereka, sampai ada yang nanya kita tuh dari mana, dan gimana caranya untuk cari tahu info tentang Burgerkill.

Ada salah satu penonton yang dari penampilannya saya menyimpulkan bahwa dia adalah seorang desainer. Dia menghampiri saya dan bilang "Terus terang saya tidak tahu siapa kalian, dan saya baru dengar tentang kalian, sorry for that, tapi setelah melihat kalian perform barusan, mulai hari ini saya akan mengikuti tentang kalian." Untuk saya pribadi itu adalah salah satu bentuk  apresiasi yang cukup berkesan karena meskipun bisa dibilang mereka bukan metalhead, tapi mereka bisa merespons seperti itu.

Tiga titik pertama di atas adalah pertama kalinya Burgerkill mangung tiga hari, di tiga tempat di tiga negara berbeda. Di titik pertama di Prancis dengan suasana show metal yang ortodoks, di titik kedua di Belgia yang sangat intim dengan penonton dan di titik ketiga di Belanda dengan audiens berbeda. Bisa dibilang tiga hari itu adalah penentuan untuk tur kali ini, karena kita merasa tiga pangung pertama itu seolah menjadi test case untuk medan-medan yang akan kita hadapi ke depannya. Setelah titik ketiga ini, kita ada break sampai tanggal 25 Oktober, dan titik selanjutnya dari rangkaian tur kali ini adalah di Groningen, Belanda.

Surprise saat Break time

Meskipun judulnya break time, sebenarnya selama 21 hari kami di Eropa, waktu yang digunakan untuk benar-benar beristirahat tanpa aktivitas hanya satu hari. Jadi setiap hari selama di sana kami punya agenda apa yang akan dilakukan di luar manggung.

Saat tur ini sebenarnya ada rencana untuk melakukan syuting video klip untuk salah satu lagu di album Adamantine, tapi kabar buruknya adalah saya lupa bawa kostum, karena konsep video klipnya ingin para personel menggunakan kostum yang sama. Akhirnya diputuskan untuk perihal kostum tidak harus sama.

Namun, kabar baiknya adalah kami mendapatkan tawaran menarik dari sebuah clothing company di sana. Yang menarik dari clothing company ini adalah mereka menggunakan konsep butik, bukan streetwear. Dan mereka juga sering mengambil tema-tema seperti martial art, samurai dll.

Kabar ini datang dari mba Intan yang tiba-tiba menanyakan ke kami apakah Burgerkill tertarik untuk bekerja sama dengan salah satu clothing company di sana. Akhirnya kami membuat appointment dengan mereka, dan singkat cerita kami membuat kerja sama dengan clothing company tersebut untuk terlibat dalam pembuatan video klip Burgerkill. Oh iya nama clothing company tersebut adalah Mulucraze, teman-teman bisa searching jika mau. Selama break time kami sibuk mencari spot-spot yang akan kita pakai untuk syuting. Sampai akhirnya tiba waktunya kami harus kembali fokus ke panggung selanjutnya.

Bersambung ke part 2...

ARTICLE TERKINI

Tags:

#Burgerkill #Agung Hellfrog #adamantine tour 2018 #eropa #Super Invasion #super invasion 2018

Article Category : Noize

Article Date : 05/12/2018

Supermusic
Supermusic
Admin Music
Penulis artikel dan penggila musik rock/metal yang setiap hari ngulik rilisan baru, liputan gig, dan cerita di balik panggung band legendaris. Gue percaya musik keras itu bukan cuma suara, tapi energi dan gaya hidup. Konten gue disajikan dengan detail dan semangat yang sama garangnya sama musik yang gue bahas. Superfriends yang hidupnya nggak bisa lepas dari riff gitar dan gebukan drum pasti betah nongkrong di sini. Tiap artikel gue bikin biar lo ngerasa kayak lagi ada di depan panggung.

1 Comments

Comment
Maoreen Lokito

Maoreen Lokito

26/06/2025 at 08:56 AM

Good
Other Related Article
image article
Noize

Rudolf Dethu: Muda, Bali, Bernyali

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Noize

Perilaku Individu Musik Indonesia di Era ‘Baby Boomers’ dan ‘Gen X’

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Noize

Yulio Piston: Tentang Menjadi Pengkritik Musik

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Noize

Sudah Saatnyakah Indonesia Punya Rock ‘n Roll Hall of Fame?

Read to Get 5 Points
image arrow
1 /

Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive