"Plastik itu bubar karena korban putaw, heroin," ucap Didit Saad, gitaris Plastik, saat bertemu dengan SuperMusic.id. Ini adalah pengakuan penting dari pelaku sejarah musik Indonesia. Sebab, kisah sejarah mesra musik dan narkoba tak selalu gamblang di permukaan, membuat kita selalu meraba apa yang sebenarnya terjadi.
Di sebuah sore di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, pada bulan Oktober 2016. Didit berbagi kisah tentang skena musik era 1990-an. Sebuah era di mana musik dan narkoba bercengkrama dengan intim.
Plastik adalah satu dari sekian banyak band yang merasakan dampak pahit narkoba, di balik pesona semu barang haram itu. Selain Plastik, satu nama besar yang lekat dengan citra narkoba di era 1990-an adalah Slank. Menariknya, baik Plastik maupun Slank berada di pusaran pergaulan yang sama, Potlot.
Tidak hanya Plastik dan Slank, beberapa musisi dan band yang lahir di Potlot pun memiliki histori tersendiri dengan narkoba.
Jalan Potlot yang berada di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, memang begitu tenar. Lingkar pergaulan seniman di sana bisa dibilang memiliki pengaruh terhadap industri musik era 1990-an.
"Bisa dibilang komunitas Potlot itu bisa jadi salah satu pionir. Bisa dibilang drug messenger. Berdasarkan pengakuan anak-anak yang nongkrong di sana, Ari Lasso salah satunya, dia pernah cerita ke gue kalau pertama kenal drugs karena nongkrong di Potlot. Hampir semua personel Dewa 19 dulu sempat menggunakan (narkoba). Cerita tentang drugs yang paling legend ya anak-anak Slank. Sampai akhirnya Slank pecah. Kalau mau dibedah, problemnya karena drugs," kata pengamat musik Wendi Putranto.
Berbekal dari informasi itu, SuperMusic.id lantas menggali lebih dalam tentang jerat narkoba di pusaran band era 1990-an. Wendi membeberkan, sebenarnya pada masa itu nyaris semua area tongkrongan anak muda sudah disusupi narkoba. Terlebih, tempat nongrkong anak-anak band.
"Gue pada era 1990-an, sempat nongkrong di Blok M. Di sana ada anak punk, metal, thrash metal, grindcore. Bisa gue bilang drugs masuk ke semua komunitas. Sama gilanya dengan yang terjadi di Potlot. Vokalis dan bassist Rotor kena, drummer Roxx juga, mereka (yang di luar Potlot) kena narkoba juga. Saat ini mereka sudah pada meninggal, mungkin tidak secara langsung meninggal karena drugs, tetapi yang jelas ada vokalis Rotor, yang terkena penyakit karena dampak penggunaan narkoba. Kalau Arry Roxx bisa dbilang memang terjadi (meninggal) karena drugs."
Gara-gara Putaw
Terlalu banyak kisah junkie era 1990-an tewas karena overdosis. Tak terkecuali para musisi. Ditelusuri lebih dalam, tumbangnya nyawa para pengguna narkoba itu karena efek dari putaw atau heroin. Didit Saat, mengakui bahwa putaw dan heroin adalah narkoba yang sangat menyiksa penggunanya, baik secara fisik maupun mental.
"Sebenarnya bukan tanpa alasan pemerintah perang lawan putaw. Drugs yang satu itu doang, cuman enak di tiga bulan pertama. Setelah itu sampai mati, bikin sakit-sakitan. Paling parah bisa merubah personality. Orientasi orang yang pakai putaw udah bukan karier, tetapi bagaimana cara mendapatkan barang itu," kata Didit.
Tidak heran, musisi yang awalnya menggunakan putaw atas nama pemicu kreativitas menjadi terjerat dan akhirnya hancur. "Band-band yang pakai putaw pasti hancur, karena kepribadian akan berubah. yang culas jadi maling untuk memenuhi kebutuhan membeli barang itu," lanjut Didit.
Mendapatkan putaw atau narkoba jenis lainnya bukan hal sulit di era 1990-an. Menurut kesaksian Wendi dan Didit, sekitar pertengahan 1990-an, dengan uang Rp50 ribu hingga sekitar Rp100 ribu, putaw bisa didapat. Pada masa itu, upaya hukum memberangus narkoba belum seperti saat ini. Sehingga, pengguna dan pengedar menjadi leluasa.
Sebagai gambaran bebasnya peredaran narkoba kala itu, Didit menceritakan kisah saat dirinya menjalani tur puluhan kota bersama Plastik. "Dulu gue bawa putaw selalu ditenteng, gue taruh di kotak seukuran kotak sepatu. Gue bawa tur karena biar gampang kalau sedang di luar kota dan butuh barang itu. Waktu lewat bandara, saat diperiksa, paling petugasnya cuma bilang, 'Dasar anak band.' Dulu sebebas itu."
Bukan hanya Didit yang merasakan bebasnya era itu. Wendi juga menjelaskan situasi serupa, "Pada era itu, jarang ada yang tertangkap polisi. Dari semua cerita tentang drugs, jarang ada peristiwa anak band ketangkep polisi di era itu. Slank, Ari Lasso, enggak pernah tertangkap. Pengawasan polisi pada saat itu lebih rendah dibanding zaman sekarang. Kalau anak-anak sekarang dengan sadar enggak mau menyentuh barang-barang itu.. Enggak tahu kenapa. Mungkin karena pengaruh campaign. Tapi di era 1990-an, ketemu anak band hampir pasti nge-drugs."
Sebagai anak muda yang melewati era 1990-an, Wendi cukup akrab dengan "drugs culture" yang menginvasi Jakarta. Kebetulan, sepupu Wendi memiliki studio band di kawasan Jakarta Timur yang kerap dijadikan basis pertemuan dan latihan band-band underground, di antaranya Betrayer dan Trauma. Di situ Wendi menyaksikan sendiri anak-anak band menghirup putaw sebelum latihan.
"Satu per satu teman gue yang ada di lingkaran itu mati. Gue ingat ketika mereka sudah pada nyepet satu-satu, terus pada tepar dan ketiduran semua," kisah Wendi. Perlu diketahui, pesta narkoba itu tak jarang dilakukan di dalam studio musik, sebuah bukti betapa eratnya kultur narkoba dengan anak band era itu.
Salah Kaprah
Sejenak melihat kultur narkoba di kancah musik dunia, apa yang terjadi bisa dibilang tidak jauh beda dari peristiwa musik era 1990-an di Indonesia. Di Amerika, Inggris, atau belahan dunia lain, narkoba dan musik punya sejarah panjang. Didit tidak menyangkal bahwa dia dan beberapa rekan sejawatnya terinspirasi gaya hidup musisi luar.
"Tren drugs akibat dari kebocoran informasi. Kami melihat Kurt Cobain bisa sebesar itu dengan keadaan yang "memprihatinkan." Dia junkie tapi bisa sehebat itu, seperti juga Eric Clapton, Jimi Hendrix, Jeff Beck, sehingga kami melihat dengan memakai drugs itu keren dan seperti jaminan punya musik yang menjanjikan. "
Sayangnya, waktu itu informasi soal bahaya narkoba belum dipahami awam. Tak jarang para pemuda, terutama seniman - termasuk Didit - menganggap narkoba sebagai stimulan kreativitas.
"Kalau yang dipikirkan gue, waktu tahun 1993 pengin bangun Plastik, gue punya visi bikin band yang psychedelic. Mau enggak mau harus ada trigger-nya, dulu merasa enggak bisa sampai di titik itu kalau enggak nge-drugs. Gue dulu punya semua jenis drugs."
"Jadi begitu gue memulai band, gue mengondisikan setiap masuk studio bikin lagu, semua harus pakai barang itu. Gue minta pada pakai heroin, putaw. Dulu gue mikir enggak cukup pakai ganja doang untuk bikin musik kami. Yang enggak pakai pada saat itu cuma Ipang. Dia (Ipang) menjadikan momen kawan-kawannya pada makai untuk inspirasi menulis lagu. Dia orang yang pintar banget, kalau tidak pintar, lihat teman-temannya pada pakai, kalau enggak ikutan pakai ya pasti pergi dari lingkungan pemakai," tukas Didit.
Setelah puas bertualang dengan narkoba, Didit memutuskan berhenti di tahun 1997. Dia sempat mencapai titik puncak jadi pecandu, hingga mengonsumsi obat-obatan dengan dosis yang sangat membahayakan.
"Gue dulu semuanya masuk. Bahkan untuk yang upper, gue enggak cukup ekstasi dan LSD, akhirnya gue cari amphetamine murni yang cair, disuntik. Hitungan detik langsung terasa. Turunnya empat hari kemudaian. Enggak bisa tidur selamat empat hari itu."
Plastik berada di titik nadir karena narkoba. Para personelnya tidak lagi fokus bermusik, karena fokus mereka telah dikacaukan narkoba. Perlahan tapi pasti, mereka karam. Mimpi membentuk band dengan segala konsep ditelan belenggu candu.
"Bubarnya Plastik itu gentlement agreement, setelah kontrak dengan label habis, kami jalan masing-masing. Cari selamat masing-masing. Itu di tahun 1998. Gue tahun 1997. Gue berhenti karena menikah."
Sayangnya, Didit tetap merasakan pilunya efek laknat narkoba. Dia kehilangan kakaknya, Imanez - yang dikenal sebagai musisi reggae - pada tahun 2004. "Kakak gue telat berhentinya," kata Didit singkat.
Badai narkoba di industri musik baru terasa mendapat perlawanan ketika masuk era milenium. Pemerintah Indonesia sendiri baru membentuk peraturan resmi terkait narkoba pada tahun 1997, yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Menysul dua tahun kemudian, dibentuk Badan Koordinasi Narkotika Nasional. Sejak saat itu secara berkala kampanye anti-narkoba dan literasi bahaya narkoba digalakkan.
Rasanya tidak adil menyalahkan para korban narkoba. Terlebih menitik beratkan bahwa hanya musisi rock yang memiliki image pecandu. Sebagai gambaran badai narkoba era 1990-an benar-benar menyapu industri musik, Hedi Yunus yang dikenal sebagai penyanyi pop dan vokalis Kahitna, pernah mengaku hidup sebagai pecandu di medio pertengahan era 1990-an. Ini bukti kuat bahwa jerat narkoba tak pandang siapa musisi dan dari aliran musik apa yang menjadi korbannya.
Baca Juga: Jim Root Telecaster Telecaster Untuk Gitaris Hard Rock & Metal
"Gue akhirnya lebih percaya musik yang dikeluarkan itu murni dari orangnya, bukan dari drugs, karena gue sudah rasain itu semua," tutup Didit.
ARTICLE TERKINI
Article Category : News
Article Date : 07/11/2016
0 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Please choose one of our links :