Sejak pertama kali dibentuk di tahun 1994, Wilco hingga saat ini masih jadi salah satu band beraliran alternative rock berkualitas. Sebut saja salah satu albumnya, Summerteeth yang Wilco rilis pada tahun 1999 merupakan salah satu karya yang cukup memiliki pengaruh terhadap perkembangan karier band asal Chicago, Amerika Serikat tersebut.
Mengenai salah satu karya terbaik yang datang dari Wilco, band tersebut mengumumkan merilis ulang album Summerteeth yang sempat rilis di tahun 1999 dalam edisi deluxe version untuk tahun 2020. Untuk deluxe version album Summerteeth, Wilco merilis album ketiganya tersebut dalam format lima buah piringan hitam yang satu di antaranya berisi rekaman saat Wilco tampil untuk memeriahkan acara di Tower Records dua hari setelah album tersebut rilis di tahun 1999. Tidak hanya itu, keempat piringan hitam dari album ketiga yang Wilco rilis ulang ini diisi dengan rekaman demo, aransemen yang tidak terpublikasi atau outtakes, serta aransemen versi alternatif, beserta karya Wilco yang resmi dirilis pada album Summerteeth sebelumnya.
Summerteeth edisi deluxe version dari Wilco ini sudah dijual sejak awal November lalu. Sedikit sejarah tentang album ketiga Wilco, penggarapan materi album Summerteeth cukup dipengaruhi oleh berbagai macam karya sastra yang lahir di abad ke-20 serta pengalaman pribadi yang dialami oleh Jeff Tweddy, sang vokalis dan salah satu pendiri Wilco. Album Summerteeth juga jadi penanda baru bagi rekam jejak karier Wilco, pasalnya untuk dua album sebelumnya A.M. dan Being There, Wilco terkenal menggemari proses rekaman live. Sedangkan untuk album ketiganya, Wilco memilih untuk memproses semua materinya di dalam studio menggunakan software rekaman Pro Tools dengan rangkaian tahap yang panjang.
Album ketiga dari Wilco ini juga dianggap sebagai album pertama dari Wilco yang mendapatkan respon positif dari berbagai kritikus serta media musik. Respon tersebut tentunya membantu penjualan albumnya yang mencapai 200 ribu keping. Sebuah angka yang cukup memuaskan bagi Wilco yang kala itu baru tumbuh di usia kelimanya. Hasil penjualan tersebut cukup membayar segala proses yang perlu dilalui Wilco untuk membuat album Summerteeth. Proses penggarapan dan rekaman materi untuk album ketiga Wilco ini sudah dimulai sejak tahun 1997, sesaat setelah Wilco menyelesaikan tur untuk album keduanya. Jeff Tweedy mengakui bahwa proses rekaman album ketiga yang dirinya rekam untuk Wilco ini cukup menghadirkan efek introspektif terhadap dirinya. Pada saat rekaman, Jeff Tweedy mengakui dirinya berada dalam kondisi emosional yang tidak stabil. Kondisi tersebut disebabkan oleh jadwal tur Wilco yang cukup menyita banyak waktunya dan membuat Jeff Tweedy harus merelakan waktu bersama istri dan anaknya dalam waktu yang lama.
Permasalahan akan waktu yang dialami Jeff Tweedy cukup memengaruhi warna musik untuk album ketiga Wilco ini. Jeff Tweedy juga menyematkan ide-ide epik yang dirinya temui sesaat setelah membaca karya-karya sastra dari abad ke-20. Kala itu, Jeff Tweedy diketahui memang memilih untuk menyendiri dan membaca buku untuk membantunya melewati hari-hari dalam mengatasi permasalahan pribadinya.
Di sela-sela perekaman album ketiga Wilco tersebut, Jeff Tweedy membaca buku karangan Henry Miller, William H. Gass, dan John Fante. Selain digunakan untuk menjernihkan pikirannya, kegiatan membaca buku digunakan oleh Jeff Tweedy karena dirinya kala itu ingin meningkatkan keahlian dalam menulis. Menurutnya, untuk dapat menulis lirik dengan baik, Jeff Tweedy juga perlu meningkatkan pemahamannya dalam membaca. Aktivitas tersebut akhirnya dibuktikan melalui lirik-lirik brilian yang dirinya tulis untuk album ketiga Wilco, Summerteeth. Meskipun sebagian besar lirik yang ditulisnya secara jelas menceritakan tentang permasalahan yang dialami oleh dirinya dan Sue Miller, istri dari vokalis Wilco tersebut.
Di tengah-tengah proses rekaman, Wilco sempat rehat sejenak dalam menyelesaikan proyek Summerteeth. Wilco memutuskan untuk melakukan kolaborasi hasil ajakan dari Billy Bragg. Kolaborasi tersebut menjadi sebuah album yang dirilis atas nama Billy Bragg & Wilco berjudul Mermaid Avenue. Seusai proses rekaman album kolaborasi antara Billy Bragg dan Wilco selesai, band rock alternatif asal Chicago ini segera kembali masuk ke dapur rekaman untuk menyelesaikan proyek Summerteeth yang mereka tinggalkan.
Kali ini, Wilco menyelesaikan proyek album ketiganya di studio Kingsize Soundlabs yang berlokasi di Chicago dengan dukungan dari Dave Trumfio dan Mike Hagler sebagai teknisi rekaman setelah sebelumnya Wilco melakukan sesi rekaman pertama di studio rekaman milik Willie Nelson yang berada di kawasan Texas. Jeff Tweedy bersama mendiang Jay Bennett, anggota multi instrument di tubuh Wilco yang meninggal pada tahun 2009, menginginkan pendekatan musik yang lebih eksperimental untuk proses mixing album Summerteeth. Untuk album ketiga Wilco ini, kedua anggota band tersebut sepakat untuk melakukan proses overdub pada setiap materi yang akan disematkan di Summerteeth.
Kedua anggota di tubuh Wilco tersebut menginginkan nuansa lagu yang berperan sebagai pengiring dan latar untuk lirik-lirik kelam yang ditulis oleh Jeff Tweedy. Meskipun terkesan jadi langkah yang cukup kreatif, nyatanya ide Jeff Tweedy dan Jay Bennett tersebut harus dibayar dengan terhapusnya kontribusi anggota lain di dalam tubuh Wilco. Untuk proses overdub tersebut, Jeff Tweedy dan Jay Bennett mulai memaksimalkan penggunaan alat musik seperti Mellotron, tambourine, dan synthesizers. Bahkan Jay Bennett pun mengambil alih porsi rekaman permainan bass dan drum yang seharusnya diisi oleh John Stirratt dan Ken Coomer. Keduanya menyayangkan sikap yang diambil oleh rekan yang tergabung di dalam Wilco kala itu.
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 17/12/2020
4 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
SAKIYONO IYOK
23/06/2025 at 08:30 AM
Lukman Hakim
24/08/2025 at 21:17 PM
Muhammad Jodi Indra
30/09/2025 at 10:54 AM
Yohanes Hariono
30/03/2026 at 04:16 AM