METAL TIMUR JAUH: SEBUAH PERKENALAN
Sebagai bagian dari budaya populer selama setengah abad, heavy metal sudah mengalami beberapa kali perubahan bentuk, pernah sangat populer, pula dilupakan para penggemar musik, hingga menyebar sampai sudut-sudut dunia yang tak pernah terkira sebelumnya. Jati diri heavy metal memang lahir di Eropa dan Amerika Serikat, namun kontribusi para musisi dan band di belahan dunia lain tidak bisa dipandang sebelah mata.
Nama besar seperti Sepultura dan Loudness merupakan contoh atas ketangguhan heavy metal dalam beradaptasi di lingkungan spesifiknya, berubah sedemikian rupa tapi masih tetap mempertahankan intensitas dan energinya. Sepultura memperlihatkan bahwa heavy metal bisa berpadu dengan kebudayaan sang musisi. Sementara Loudness, band heavy metal Jepang pertama yang direkrut oleh label major asal Amerika Serikat, pernah menembus tangga Billboard, membuktikan bahwa kualitas musik mereka setara dengan band Eropa dan AS.
Sepeninggal Loudness, hingga kini komunitas dan kancah heavy metal di Asia, khususnya Asia Timur terus berkembang. Heavy metal menemukan wajah dan bentuk lainnya di Korea Selatan, Tiongkok, Taiwan dan Jepang. Ada band yang masih menggunakan cetak biru dari Eropa dan AS, juga musisi dan band yang menyuntikkan kebudayaan lokal ke dalam dentuman distorsi mereka, hingga para pionir yang menciptakan heavy metal versi mereka sendiri dan menjadi contoh bagi mereka di Eropa dan AS.
Berikut ini adalah beberapa band yang menyuburkan keragaman di kancah heavy metal global. Mereka mampu menawarkan warna baru dan melanjutkan garis keturunan panjang yang dimulai ketika Iommi memetik tritone di Birmingham, Inggris. Ini adalah perkenalan dengan heavy metal rasa timur jauh.
1. Crash – Korea Selatan
Trio thrash metal asal Seoul ini adalah bagian dari gelombang ke dua heavy metal Korea Selatan, di mana sound thrash, grindcore, death, dan hair metal mulai populer di kalangan anak muda. Crash berdiri pada 1991, dan merilis album perdana berjudul Endless Supply of Pain (terinspirasi dari album Kreator, Endless Pain) di tahun 1993, yang diproduseri oleh Colin Richardson (Brutal Truth, Carcass, Fear Factory). Album tersebut memiliki sound thrash metal yang dipengaruhi Kreator dan Sepultura era Arise (1991). Di album-album berikutnya, seperti To Be or Not To Be (1995) dan Experimental State of Fear (1997), sound Crash memuat banyak pengaruh industrial dan death metal.
2. Black Kirin – Tiongkok
Beranggotakan tujuh personel, Black Kirin yang berdiri pada tahun 2012 sudah merilis dua album penuh, yaitu 哀郢/Yellow River (2015) dan 箫韶/National Trauma (2016). Menggunakan metode sampling, Black Kirim mengawinkan bebunyian instrumen tradisional Tiongkok, vokal black metal dan sound cerah death metal Gothenburg. Grup asal Changcun, provinsi Jilin ini juga diiringi gaya bernyanyi opera tradisional (旦/Dan) Tiongkok, sekaligus menunjukkan bahwa metal bisa berpadu dengan instrumen tradisional tanpa harus mengorbankan salah satu elemen tersebut.
- Tengger Cavalry – Mongolia
Kuintet folk metal ini dimotori oleh Nature Ganganbaigal, seorang multi-instrumentalis asal Beijing berdarah Mongolia. Nature memulai proyek ini pada 2010 setelah meraih sarjana dalam studi komposisi musik film dari New York University dan merasa bahwa dirinya akan kesulitan mendapat tempat dalam industri. Dia pun akhirnya memilih jalur lain, menyatukan melodic death metal dan folk Mongolia, lengkap dengan instrumen morin khuur, igil dan sanxian yang dilapisi teknik bernyanyi Tuvan. Tengger Cavalry, yang sudah merilis empat album, mendobrak batasan dan mendefinisikan ulang folk metal yang selama ini didominasi folk Eropa. Grup ini juga salah satu dari hanya tiga grup beraliran cadas yang pernah tampil di panggung prestisius Carnegie Hall, New York.
- Chthonic – Taiwan
Grup asal Taipei ini menggunakan kombinasi unik black metal dan ekspresi akan kebebasan serta kemerdekaan politik, terutama aspirasi masyarakat Taiwan. Hal ini dicerminkan oleh aktivitas Freddy Lim (vokal) yang aktif dalam pergerakan sosial, baik bersama Amnesty International maupun New Power Party, namun, keunikan Chthonic tak hanya sampai di situ. Selain tema lirik yang menceritakan ulang sejarah dan mitos masyarakat Taiwan, mereka juga mampu memadukan symphonic black/death metal dengan berbagai instrumen tradisional Taiwan, Jepang, Tiongkok serta Tibet, untuk membangun musik yang atmosferik. Sejak album 高砂軍/Takasago Army (2011), Chthonic kerap menggunakan instrumen koto, shamisen, tingsha, shakuhachi dan seruling pgaki untuk mendampingi erhu yang sudah mereka pakai sejak album perdana. Band seperti Chthonic adalah bukti nyata kemungkinan pengembangan metal yang tak berbatas.
5. Boris – Jepang
Getaran nada-nada rendah dari trio asal Tokyo ini sanggup merobek gendang telingamu. Wata, Atsuo dan Takeshi adalah bagian dari garda depan heavy metal dunia. Eksplorasi mereka dari Absolutego (1996) hingga kini, menghadirkan berbagai elemen-elemen tak terduga. Stoner rock, doom metal, drone, psychedelic rock, shoegaze, noise rock, powerviolence dan J-Rock adalah segelintir genre yang pernah dicicipi Boris, seringkali dalam satu album sekaligus, selagi mempertahankan kekhasan sound mereka sendiri. Kolaborasi Boris dengan musisi dari berbagai genre, seperti Sunn O))), Merzbow, Keiji Haino, Michio Kurihara dan Ian Astbury pun mengembangkan sound mereka menjadi bebunyian yang sulit ditebak. Bisa dibilang, hanya Boris yang terdengar seperti Boris. Mereka adalah pemegang obor tradisi panjang eksperimentasi kancah heavy metal.
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 28/01/2017
3 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Garindratama Harashta
04/09/2025 at 18:24 PM
Garindratama Harashta
04/09/2025 at 18:24 PM
elin
02/02/2026 at 08:32 AM