Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct Name
Please Select the gender
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
show password icon
  • circle icon icon check Contain at least one Uppercase
  • circle icon icon check Contain at least two Numbers
  • circle icon icon check Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
show password icon
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Normalcy Bias

Aneh tapi nyata di gunung, tanda bahaya sering kali sudah jelas, tapi tetap diabaikan. Cuaca memburuk, jalur mulai nggak aman, tubuh sudah kasih sinyal… tapi kita tetap lanjut. Kenapa bisa begitu?

Jawabannya bukan cuma soal nekat, tapi soal cara otak manusia bekerja.

1. Normalcy Bias Merasa “Pasti Aman-Aman Aja”

Normalcy bias adalah kondisi ketika otak kita menganggap situasi akan tetap normal, karena sebelumnya kita pernah melewati kondisi yang mirip dan baik-baik saja.

Contohnya:

·       “Dulu hujan juga aman”

·       “Anginnya biasa aja”

·       “Gunung ini sering didaki”

Padahal, gunung nggak pernah benar-benar sama tiap hari. Normalcy bias bikin kita menolak kemungkinan terburuk.

2. Mengabaikan Peringatan

Peringatan sering dianggap berlebihan, apalagi kalau datang dari:

·       Petugas basecamp

·       Papan informasi

·       Pendaki lain

Banyak yang berpikir:

·       “Ah, paling cuma jaga-jaga”

·       “Pendaki lain juga lanjut”

Masalahnya, peringatan dibuat berdasarkan data dan pengalaman, bukan asumsi.

3. Menunda Tindakan karena Rasa Tanggung

Ironisnya, rasa tanggung jawab ke tim justru bisa jadi jebakan.

Pola yang sering terjadi:

·       Ragu berhenti karena takut merepotkan

·       Takut dibilang lemah

·       Takut merusak rencana bersama

Akhirnya, tindakan penting seperti turun, berhenti, atau evakuasi ditunda sampai terlambat.

4. Meremehkan Risiko karena Ego dan Target

Target puncak, konten, atau jadwal sering bikin risiko terasa kecil.

Pikiran seperti:

·       “Dikit lagi kok”

·       “Sayang udah sejauh ini”

·       “Masa batal sekarang?”

Ini bikin risiko besar terasa sepele, dan keputusan rasional kalah sama ego.

5. Efek Ikut-Ikutan (Social Proof)

Kalau orang lain lanjut, kita ikut.
Kalau orang lain santai, kita merasa aman.

Padahal:

·       Kondisi fisik beda

·       Pengalaman beda

·       Ambang risiko beda

Gunung nggak peduli siapa yang ikut siapa, bahaya di gunung jarang datang tiba-tiba. Biasanya dia diumumkan lebih dulu lewat tanda-tanda kecil, cuaca, tubuh, atau peringatan resmi.

 

ARTICLE TERKINI

Tags:

#fakta unik

Article Category : News

Article Date : 27/02/2026

Superadventure
Admin Adventure
Superadventure
Admin Adventure
Penulis artikel petualangan outdoor dan ekstrem yang bawain kisah mendaki tebing, arung jeram, sampai menjelajah jalur off-road. Buat gue, petualangan itu lebih dari sekadar jalan-jalan, ini soal uji mental dan fisik. Tiap cerita gue kemas biar Superfriends kebawa sensasinya. Gue pengen lo yang baca ngerasa termotivasi buat keluar dari zona nyaman. Kalau lo suka tantangan alam, artikel di sini bakal bikin lo pengen langsung berangkat.

3 Comments

Comment
Garindratama Harashta

Garindratama Harashta

03/03/2026 at 19:49 PM

josss bgt
Yohanes Hariono

Yohanes Hariono

04/03/2026 at 08:42 AM

Bersahabatlah dgn alam👍 jgn sok2an nantangin alam🙏
Heni Oen

Heni Oen

04/03/2026 at 16:50 PM

Ok
Other Related Article
image article
News

Apa Itu Jaket Polar? Ini Fungsi dan Karakternya

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
News

Gunung Tangkit Tebak: Fakta, Medan, dan Tips Mendakinya

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
News

Gunung Tandikek, Kembaran Singgalang yang Menawan

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
News

Gunung Lompobattang, tertinggi kedua di Sulawesi justru jarang dibahas.

Read to Get 5 Points
image arrow
1 /

Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive