Aneh tapi nyata di gunung, tanda bahaya sering kali sudah jelas, tapi tetap diabaikan. Cuaca memburuk, jalur mulai nggak aman, tubuh sudah kasih sinyal… tapi kita tetap lanjut. Kenapa bisa begitu?
Jawabannya bukan cuma soal nekat, tapi soal cara otak manusia bekerja.
1. Normalcy Bias Merasa “Pasti Aman-Aman Aja”
Normalcy bias adalah kondisi ketika otak kita menganggap situasi akan tetap normal, karena sebelumnya kita pernah melewati kondisi yang mirip dan baik-baik saja.
Contohnya:
· “Dulu hujan juga aman”
· “Anginnya biasa aja”
· “Gunung ini sering didaki”
Padahal, gunung nggak pernah benar-benar sama tiap hari. Normalcy bias bikin kita menolak kemungkinan terburuk.
2. Mengabaikan Peringatan
Peringatan sering dianggap berlebihan, apalagi kalau datang dari:
· Petugas basecamp
· Papan informasi
· Pendaki lain
Banyak yang berpikir:
· “Ah, paling cuma jaga-jaga”
· “Pendaki lain juga lanjut”
Masalahnya, peringatan dibuat berdasarkan data dan pengalaman, bukan asumsi.
3. Menunda Tindakan karena Rasa Tanggung
Ironisnya, rasa tanggung jawab ke tim justru bisa jadi jebakan.
Pola yang sering terjadi:
· Ragu berhenti karena takut merepotkan
· Takut dibilang lemah
· Takut merusak rencana bersama
Akhirnya, tindakan penting seperti turun, berhenti, atau evakuasi ditunda sampai terlambat.
4. Meremehkan Risiko karena Ego dan Target
Target puncak, konten, atau jadwal sering bikin risiko terasa kecil.
Pikiran seperti:
· “Dikit lagi kok”
· “Sayang udah sejauh ini”
· “Masa batal sekarang?”
Ini bikin risiko besar terasa sepele, dan keputusan rasional kalah sama ego.
5. Efek Ikut-Ikutan (Social Proof)
Kalau orang lain lanjut, kita ikut.
Kalau orang lain santai, kita merasa aman.
Padahal:
· Kondisi fisik beda
· Pengalaman beda
· Ambang risiko beda
Gunung nggak peduli siapa yang ikut siapa, bahaya di gunung jarang datang tiba-tiba. Biasanya dia diumumkan lebih dulu lewat tanda-tanda kecil, cuaca, tubuh, atau peringatan resmi.
ARTICLE TERKINI
Article Category : News
Article Date : 27/02/2026
3 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Garindratama Harashta
03/03/2026 at 19:49 PM
Yohanes Hariono
04/03/2026 at 08:42 AM
Heni Oen
04/03/2026 at 16:50 PM