Juventus dan Inter Milan menyusul Napoli menuju pintu keluar Liga Champions, menyisakan Atalanta sebagai satu-satunya wakil dari Serie A untuk bermain di babak 16 besar.
Performa klub Italia di ajang paling bergengsi Eropa ini emang bisa disebut mengecewakan. Napoli jadi tim pertama yang gugur pasca finis di peringkat ke-30. Ya gak heran, orang mereka cuma bisa menang dua kali dari delapan pertandingan.
Juventus, Inter Milan, dan Atalanta jadi tiga wakil Italia yang berhasil keluar dari fase liga. Sayangnya, gak ada dari mereka yang finis di delapan besar. Sehingga semuanya harus ngikut ke fase playoff.
Fase inilah jadi jegalan utama. Juventus ketemu Galatasaray, Inter menghadapi Bodo/Glimt, sementara Atalanta melawan Dortmund. Di atas kertas, harusnya Atalanta yang gugur. Eh, malah kebalikan, Juventus dan Inter justru tersingkir.
Nasib Nahas Juventus & Inter
Inter Milan, di atas kertas, harusnya bisa ngalahin Bodo/Glimt. Mereka adalah wakil dari Norwegia yang gak pernah diunggulkan. Bahkan sebelum Liga Champions digelar, publik memprediksi kalau tim ini cuma bisa bertahan sampai fase liga.
Makanya, kekalahan 1-3 Inter di leg pertama jauh dari dugaan. Klub besutan Christian Chivu itu diprediksi bakal membalikkan skor di leg kedua, berhubung mainnya di Giuseppe Meazza. Lah, yang terjadi justru mereka disikat 1-2.
Di sisi lain, fans Juventus udah ngibarin bendera putih lantaran kalah 2-5 dari Galatasaray pada leg pertama. Sempat ada sedikit harapan di leg kedua setelah Bianconeri unggul 3-0 di waktu normal. Sayangnya, dua gol dari Victor Osimhen dan Alper Yilmaz bikin bendera putih berkibar lebih kencang.
Dua hasil yang bikin Atalanta jadi satu-satunya survivor di Liga Champions. Itupun sebenarnya mereka sempat diujung jurang lantaran sempat kalah 0-2 di pertemuan pertama. Untungnya, La Dea bisa ngebalikin situasi usai menang 4-1 pada leg kedua.
Apa yang Bikin Wakil Italia Berguguran?
Lo mungkin bertanya-tanya, kenapa nasib wakil Serie A jadi semiris ini? Fabio Capello, yang dulu pernah melatih beberapa klub papan atas Italia, sempat ngasih analisanya waktu hadir sebagai pandit buat Sky Sport Italia.
Kata Capello gini: “Tim Italia bermain dengan kecepatan pelan. Ketika mereka bertemu tim yang mainnya press-and-run, mereka gak punya kualitasnya, gak terbiasa main di kecepatan tinggi, dan kemudian melakukan kesalahan.”
“Inilah kuncinya. Sekarang, kami gak terbiasa bermain dengan agresif. Begitu mereka naikin kecepatan di Serie A, permainan terhenti karena kontak fisiknya terlalu keras, telinga pemain kesentuh aja mereka langsung jatuh.”
“Beginilah hasilnya. Kami terlalu terbiasa bermain dengan kecepatan yang pelan, sayangnya seperti itu, dan ketika kejadian, sulit untuk menjadi tim yang berbahaya,” tutup Capello.
Setuju gak lo dengan komentar Capello?
ARTICLE TERKINI
Article Category : News
Article Date : 26/02/2026
3 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
adji Noor
26/02/2026 at 13:24 PM
Nurul Fadhilah
26/02/2026 at 17:13 PM
Garindratama Harashta
26/02/2026 at 18:27 PM