Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct Name
Please Select the gender
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
show password icon
  • circle icon icon check Contain at least one Uppercase
  • circle icon icon check Contain at least two Numbers
  • circle icon icon check Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
show password icon
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Dominasi Klub Raksasa, Fenomena yang Bikin Sepakbola Nggak Kompetitif!

Bro, apa klub sepakbola favorit lo? Most likely, jawaban lo adalah nama klub besar yang konsisten tampil bagus, menang pertandingan, dan punya banyak piala yang dipajang di stadion mereka. Sekarang, coba lo ingat lagi, dari kapan lo suka klub itu, dan udah berapa lama klub itu ada di klasemen atas liganya? Udah lama kan? Itu karena dalam sepakbola jaman sekarang, ada dominasi klub-klub raksasa yang selalu dekat dengan potensi gelar juara. Masalahnya adalah, semakin ke sini dominasi klub raksasa ini semakin menghilangkan unsur kompetisi dalam sepakbola. Bahkan, sebelum pertandingan dimulai lo udah bisa tau mana yang bakal menang, apalagi kalau tim raksasa itu tanding lawan tim kecil yang masih berjuang di peringkat bawah atau tengah. Kenapa sih sepakbola jadi kayak gini? Yuk kita coba cari tau bareng, Superfriends!

Supaya gampang cari datanya, kita mampir ke benua yang punya skena sepakbola paling besar di dunia, yaitu Eropa. Di sana ada beberapa liga ternama yang selalu didominasi segelintir klub, dan mungkin cuma 1 liga besar yang masih seru dari sisi kompetisi yang imbang yaitu liga Inggris. Liga kayak Prancis, Spanyol, dan Jerman udah bertahun-tahun dikuasai klub itu-itu lagi. Kok bisa? Alasannya mungkin nggak mengejutkan lagi buat lo, bro, karena sepakbola itu bukan sekadar permainan dan olahraga. Sepakbola itu bisnis.

Logika bisnis dalam sepakbola nggak lepas dari jumlah fans, jumlah piala, dan seberapa bagus performa tim. Klub yang pernah punya skuad luar biasa bagus pastinya akan memegang lebih banyak piala. Permainan yang bagus juga akan mengundang lebih banyak fans baru. Contoh gampangnya kayak Real Madrid di era Los Galacticos. Dengan deretan pemain kelas dunia yang terkenal jago dan punya penggemar banyak banget, Real Madrid nggak cuma unggul di lapangan, mereka juga unggul di keuangan.

Pertandingan sepakbola yang diisi pemain-pemain terbaik dunia tentunya lebih seru untuk ditonton dibanding pertandingan yang isinya pemain-pemain lo nggak tau siapa. Alhasil, penjualan tiket untuk pertandingan-pertandingan Real Madrid selalu ludes habis. Setiap kemenangan mereka, setiap gol cantik Raul dan Zidane, dan setiap piala baru yang mereka angkat mengundang fans baru. Fans ini nantinya akan ikut membeli tiket juga, dan mendorong manajemen klub untuk melakukan perluasan stadion supaya bisa menampung lebih banyak penonton. Nah, ini baru dari sisi penjualan tiket, belum penjualan merchandise kayak jersey resmi dan souvenir lainnya. Belum juga menghitung pendapatan dari sponsor, yang pastinya nggak main-main, Superfriends!

Dari Semua sumber pendapatan ini, klub besar jadi bisa profit, dan menarik investor untuk terlibat dalam perputaran finansial klub. Di sinilah muncul kehadiran investor dari Timur Tengah dan kawasan lain yang punya banyak pengusaha kaya. Adanya investasi besar kayak gitu membuat klub-klub raksasa ini punya kemampuan untuk membeli pemain kelas dunia pada generasi berikutnya, supaya siklus ini bisa berulang lagi, dan terus dilanggengkan sampai entah kapan. Gokil ya, bro.

Korban terbesar dari sistem ini adalah klub kecil sampai menengah yang punya pemain muda berbakat. Tinggal nunggu waktu aja sampai mereka dapat tawaran dengan angka yang sulit ditolak. Akhirnya pemain itu pindah ke klub raksasa, dan klub kecil itu kembali ke perjuangan yang sama untuk bisa bertahan di liga utama negaranya.

Nah, sistem kayak gini ternyata dianggap merusak sepakbola dan udah menuai banyak kritikan dari para pengamat. Kalau menurut lo sendiri gimana, Superfriends?

ARTICLE TERKINI

Tags:

#Futsal Soccer

Article Category : News

Article Date : 22/03/2022

Supersoccer
Admin Soccer
Supersoccer
Admin Soccer
Penulis artikel dan analis sepak bola yang siap ngasih lo kabar terbaru dari liga lokal sampai turnamen internasional. Skor, gosip transfer, sampai analisis pertandingan gue tulis dengan cepat dan tajam. Buat gue, sepak bola itu kombinasi drama, strategi, dan emosi yang nggak ada duanya. Superfriends yang nggak mau ketinggalan momen panas di lapangan hijau wajib mantengin update gue. Semua info gue sajikan biar lo selalu jadi yang paling update.

Source:https://medium.datadriveninvestor.com/the-business-of-football-breaking-down-the-finances-of-a-football-club-8263614059d8

0 Comments

Comment
Other Related Article
image article
News

Ukuran Lapangan Futsal Mini vs Standar FIFA, Apa Bedanya?

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
News

Peluang Como 1907 ke Liga Champions Gede Banget! Itu Kata Opta Loh

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
News

Profil Hector Souto: Karier, dan Kiprahnya di Dunia Futsal

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
News

Juventus Mau Rekrut Lewandowski! Jadi Partner Dusan Vlahovic Nih?

Read to Get 5 Points
image arrow
1 /

Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive