Para pemain Die Roten yang sudah tua menjadi kendala sang bek untuk berekspresi.
Matthijs De Ligt curhat soal situasinya di Bayern Munich, dengan ia merupakan salah satu pemain muda yang baru datang ke Allianz Arena musim panas ini.
Dengan mayoritas pemain Bayern berusia lebih tua darinya, ia merasa sulit untuk mengekspresikan dirinya sebagai seorang anak muda.
Padahal, di Juventus, dia juga satu tim dengan para pemain veteran seperti Gianluigi Buffon, Giorgio Chiellini hingga Leonardo Bonucci. Tapi, ia merasa canggung ketika bertemu dengan para pemain senior di Bayern.
“Ketika Anda bergabung ke tim dengan para legenda sepert ini, itu menjadi sulit bagi pemain muda seperti saya dalam mengekspresikan diri,” ujar De Ligt dalam wawancaranya dengan ESPN.
“[Meski begitu] saya belajar banyak dari pemain-pemain ini dan setiap hari saya bisa mengambil banyak hal positif dari mereka, jadi saya bisa menjadi pemain yang lebih baik.”
Sebelum membela Die Roten, De Ligt sebelumnya pernah bermain untuk Juventus dan Ajax, dengan ia menjelaskan bagaimana perbedaan tim Italia dan Belanda tersebut.
“Gaya bertahannya benar-benar berbeda. Di Ajax, Anda benar-benar melakukan pressing tinggi. Anda harus mengambil risiko, namun di Juventus saya belajar hal baru lagi, di mana mereka lebih fokus pada apa yang ada di belakang Anda,” imbuhnya.
“Di Italia, tempo pertandingannya juga tidak begitu cepat. Mereka memenangkan empat Piala Dunia dengan gaya bermain seperti ini, jadi saya benar-benar memahami bahwa mereka merasa ini adalah cara yang tepat untuk memenangkan pertandingan.”
De Ligt lebih lanjut mengungkapkan bagaimana gaya kepelatihan Maurizio Sarri, yang memboyongnya ke Turin dari Ajax pada 209 lalu. Dia juga menyayangkan pemecatan sang manajer satu tahun setelah dirinya bergabung.
Sang bek mengatakan: “Saya bergabung ke Juve dengan rencana untuk memainkan sepakbola yang lebih menyerang, karena pada waktu itu Sarri adalah pelatihnya dan dia sangat terkenal di dunia sepakbola, memainkan sepakbola yang luar biasa bersama Napoli dan Chelsea.”
“Saya berharap Juve waktu itu bergaya seperti Ajax. Namun, sayangnya setelah satu tahun, dia langsung dipecat.”
ARTICLE TERKINI
Article Category : All Supersoccer
Article Date : 29/07/2022
0 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Please choose one of our links :