Masih ingat dengan skandal Calciopoli yang terjadi pada tahun 2006 lalu? Meski sudah berlalu lama, sejumlah media masih cukup sering merilis informasi yang tidak diketahui oleh publik pada waktu itu.
Skandal Calciopoli berakhir dengan hukuman degradasi ke Serie B untuk tim yang disebut sebagai pelaku utamanya, Juventus. Selain itu, klub berjuluk Bianconeri tersebut juga mendapatkan hukuman pengurangan poin serta pencabutan dua gelar Serie A.
Pelakunya bukan cuma Juventus saja. Beberapa klub papan atas Italia lainnya juga mendapatkan hukuman meski tidak seberat Bianconeri, seperti AC Milan, Fiorentina, Lazio dan Reggina. Keempat klub tersebut mendapatkan pengurangan poin.
Kasus ini menjadi duka mendalam untuk sepak bola Italia yang masih berjaya. Apalagi, pada saat itu, Italia sedang berjuang di pentas Piala Dunia hingga akhirnya keluar sebagai juara. Kasus Calciopoli pun masih menjadi perbincangan hingga saat ini.
Baru-baru ini, RAI 3 merilis hasil investigasi spesial perihal skandal Calciopoli. Investigasi tersebut memuat sejumlah hasil wawancara baru, termasuk dengan Paolo Bergamo selaku pengatur jadwal wasit periode 1999-2005.
Bergamo menyebutkan kalau presiden Inter Milan dulu, Massimo Moratti, sempat mengajak dirinya bertemu dalam sesi makan malam. Pada momen itu, Moratti menyampaikan keluhannya perihal kinerja wasit saat Inter bertanding.
“Moratti mengajak saya makan malam pada Juli 2002. Saya ke rumahnya, duduk bersama istri kami dan belum lima menit, dia berkata: ‘anda harus memberitahu saya kenapa wasit membenci Inter’. Dia percaya kami mengirim wasit yang membenci Inter, untuk membuat mereka kalah,” kata Bergamo.
Masalah utama dalam skandal Calciopoli adalah tentang klub-klub yang melakukan kontak dengan pihak wasit. Investigasi RAI 3 ini mengungkap informasi bahwa hampir semua klub melakukan hal serupa, bukan cuma lima tim yang telah didakwa bersalah.
“Kami memulai dengan Juventus karena ada elemen yang lebih banyak, kami sejatinya ingin melihat ke klub lain. Mari berkata jujur, hampir semua klub terlibat,” kata Giandomenico Lepore, Jaksa umum yang ikut membantu pengumpulan penyadapan telepon dalam kasus Calciopoli.
“Suatu hari, majalah Espresso melaporkan semua penyadapan telepon. Tiba-tiba, semua telepon ditutup dan yang tersisa dari kami adalah Juventus. Kami punya kecurigaan soal siapa yang membocorkan kesaksian, tapi tidak memiliki bukti nyata, jadi kami tidak tahu.”
“Seandainya kami bisa melanjutkan investigasi, Inter berikutnya setelah Juve,” sambung Lepore.
Investigasi RAI 3 juga mencantumkan rekaman hasil penyadapan telepon antara presiden FIGC saat itu, Franco Carraro, dengan Bergamo. Carraro menginstruksikan Bergamo untuk tidak berada di pihak Juventus jika sedang dilanda keraguan.
“Jika ragu, jangan untungkan Juventus,” katanya, jelang laga antara Inter Milan melawan Juventus yang dipimpin oleh Pasquale Rodomonti. “Begini, kalau [Pierluigi] Collina tidak masalah, sebab jika Collina melakukan kesalahan semua orang akan diam.”
“Rodomonti adalah wasit yang tidak memiliki reputasi hebat… Ya Tuhan, jika Rodomonti berbuat kesalahan melawan Inter, itu akan jadi gempar. Ada perbedaan 15 poin antara kedua tim. Jika anda ragu, percaya saya, pikirkan tim yang jauh di belakang,” lanjutnya.
Pertandingan itu sendiri kemudian berakhir dengan skor imbang 2-2. Pada laga tersebut, Juventus sempat unggul 2-0 dan Inter nyaris kehilangan pemain lantaran Francesco Toldo lolos dari kartu merah.
ARTICLE TERKINI
Article Category : All Supersoccer
Article Date : 18/04/2023
Source:RAI 3, Football Italia
0 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Please choose one of our links :