Well Whale hadir meramaikan industri musik Indonesia. Kuarter pop asal Bandung ini perlahan mencoba konsisten berkarya melalui pembuktian rilisnya album penuh perdana mereka bertajuk Bittersweet Kisses pada 30 Oktober 2020.
Dirilis oleh label independen Maritime Records, album pertama Well Whale berisikan delapan trek yang cocok dan sangat layak menjadi soundtrack harian kamu. Bukan tanpa alasan, Well Whale menggarap album ini dengan materi-materi original buah dari pemikiran para personel masing-masing.
Kamu bisa mendengar sentuhan muda-mudi dalam single Kung Fu Kenny atau I Can’t Stand, hingga mendengarkan lagu-lagu Well Whale sambil melamun pada single Asleep dan Diana.
Buat kamu yang telah lama mengikuti jejak unit pop ini, album Bittersweet Kisses memang menjadi rumah dan wadah terakhir dari sejumlah lagu tunggal yang sebelumnya telah Well Whale rilis secara berkala setidaknya sejak 2019.
Secara komplet, delapan trek dari album Well Whale ini dirilis dalam format cakram padat bersampul monokrom dengan dominasi hijau. Warna-warna ini seolah mengingatkan kita pada rilisan-rilisan awal Sarah Records. Mengingatkan juga kalau Maritime yang sudah menjejaki kancah sejak paruh kedua millenium ketiga lekat dengan nilai-nilai yang diusung label asal Bristol tersebut.
Perilisan album Bittersweet Kisses dari Well Whale juga menambah lagi satu daftar pop amatir baru dari Bandung yang selama ini tak banyak diisi oleh wajah-wajah muda. Hadirnya Well Whale membuka kembali keran musisi-musisi pop amatir yang sempat pampat di Bandung.
Foto yang digunakan dalam artwork diambil oleh Gifran Sonagi, sementara penyuntingan design grafisnya diserahkan kepada Galih Suryana Putra. Proses mixing dilakukan di LF Studio oleh Alif Rizki Pratama dan mastering dilakukan di Fuzzy Room oleh Rashief.
Track List Bittersweet Kisses dari Well Whale:
Kung Fu Kenny
She's a Punk
Sleeping
Diana
Asleep
Crush
Pipe Dream
I Can't Stand.
Perjalanan Well Whale Menuju Album Perdana
Well Whale terbentuk sejak Agustus 2018 dengan formasi yang solid yaitu Faizal Agusdin (vokal, bas), Kelana Ashil (drum), Puteri Ayesha (vokal, gitar), dan Raja Mahardika (gitar) di Jatinangor, Bandung. Berada di jalur independen, Well Whale merangkak perlahan dalam berkarya sekaligus mencoba konsisten.
Karier mereka dimulai dengan merilis single perdana berjudul She's a Punk pada Mare 2019. Lagu ini disebut Well Whale sebagai cara mereka mengisahkan sebuah momen ekspresi kultural di mana seorang wanita melawan pemikiran konservatif mengenai wanita yang tinggal di daerah dengan kultur budaya patriarki.
Intinya, lagu ini menggambarkan bahwa wanita pun bisa melakukan hal-hal yang dilakukan oleh pria seperti menikmati konser musik yang agak keras tanpa memikirkan stigma negatif yang akan menempel padanya. Lagu ini menjadi bentuk keinginan wanita yang ingin mencoba mengekspresikan apa yang disukai di ruang publik.
Selain itu, She’s a Punk adalah lagu yang secara musik memiliki chord simpel dan ear-catchy, ditambah dengan unsur twee yang manis, serta sedikit nuansa punk yang cukup menghentak. Lagu ini terbilang sukses sebagai tanda dimulainya perjalanan karier Well Whale.
Single kedua Well Whale lantas keluar pada Oktober 2019 dengan judul Pipe Dream. Lagu ini dapat dimaknai sebagai gambaran dari impian dan realita di kehidupan. Tentang sebuah ilusi atau fantasi yang sangat sulit untuk menjadi kenyataan.
“Pada akhirnya situasi dan kondisi seperti ini menempatkan kita pada posisi untuk memilih antara terus mengejar impian dan cita-cita pribadi, atau memikul tanggung jawab kehidupan?” kata sang pencipta lagu, Kelana.
“Kita juga seringkali terus memikirkan apakah setiap langkah yang telah kita lakukan dari hari ke hari adalah langkah yang tepat? Kayaknya kita juga harus lebih sering mendengarkan lagu Que Sera Sera deh,” tuturnya.
Memasuki tahun 2020, Well Whale mulai menemui titik cerah dalam perjalanan kariernya. Well Whale merilis single ketiga berjudul Diana yang sekaligus menjadi awal perjalanan mereka di bawah naungan Maritime Records.
Raja Mahardika menyebutkan bahwa lagu Diana bisa diartikan sebagai perasaan ketika kita kehilangan hal-hal atau orang-orang yang kita sayangi secara perlahanan dan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Lagu Diana bisa diibaratkan seperti saat kita duduk di teras pada sore hari dan mengenang hari-hari yang telah lalu. Bisa juga saat ditinggal oleh seseorang yang memutuskan untuk tak lagi bersama, dan menyaksikan semuanya perlahan pudar," kata Raja.
Proses mixing dan mastering untuk lagu Diana dikerjakan Alif Rizki Pratama (LF Studio) dan Rashief Muhammad (Fuzzy Room). Lagu ini didistribusikan secara digital oleh Maritime Records. Bersama Maritime Records pula Well Whale akhirnya bisa mewujudkan cita-cita sebuah band untuk merilis album.
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 19/11/2020
15 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Agus Samanto
11/03/2025 at 04:16 AM
pujanadi
12/03/2025 at 11:12 AM
AyuRL Ningtyas
12/03/2025 at 23:08 PM
Musdalifa
13/03/2025 at 14:25 PM
Naz rul
13/03/2025 at 14:41 PM
RAHAYU YAYUK
11/04/2025 at 16:54 PM
Budi Nurcahyo
14/04/2025 at 08:19 AM
Hapsah k
24/04/2025 at 20:16 PM
Sultan
24/04/2025 at 21:11 PM
Yusri
24/04/2025 at 21:24 PM
Ari m
24/04/2025 at 21:29 PM
Faisal
15/05/2025 at 19:20 PM
Yohanes Hariono
18/05/2025 at 08:42 AM
Ricka Dwi Ayu Ningtyas
11/07/2025 at 22:38 PM
IRWAN JAELANI
15/01/2026 at 11:44 AM