Ada pertanyaan jahil yang selalu mengikuti sebelum hari H konser, “Apa sih rasanya main musik rock selama 60 tahun dengan line up yang relatif sama?”
Tidak semua band diberkahi semesta untuk bisa sampai ke titik ini. Namun, The Rolling Stones mengalaminya. Hingga mereka menggelar SIXTY, sebuah tur yang kesekian kalinya dari The Rolling Stones. Band besar ini pun menyajikan salah satu pertunjukan musik rock paling megah di dunia. Sesuai dengan judulnya, pertunjukan ini digelar untuk merayakan usia karier mereka yang ke-60.
Pembeda paling nyata dari tur kali ini adalah penggebuk drum. Paska meninggalnya Charlie Watts, The Rolling Stones memutuskan untuk melanjutkan cerita dengan Steve Jordan, drummer yang sebenarnya memang sudah ada di lingkaran pertemanan para personel band itu. Sebelum meninggal dunia, Charlie Watts sendiri sudah memastikan diri bahwa ia tidak akan berpartisipasi di dalam tur The Rolling Stones karena alasan kesehatan.
Steve Jordan tercatat beberapa kali ikut serta dalam backing band Keith Richards di berbagai proyek lain. Gaya permainannya pun mirip dengan Charlie Watts. Jadi, tidak banyak penyesuaian yang harus dilakukan oleh band ini.
(Doc. Supermusic)
SIXTY digelar pertama kali di Eropa. Sedangkan tak ada banyak titik di Inggris Raya untuk dikunjungi. Dalam rencana awal, The Rolling Stones tercatat hanya akan main di Anfield Stadium milik Liverpool FC dan festival British Summer Time di Hyde Park London. Kedua venue berkapasitas super megah.
Satu hal yang Supermusic catat tentang menyaksikan pertunjukan super besar di Inggris adalah pengaturan penonton yang super santai. Karena ini The Rolling Stones, sudah pasti ada banyak teknologi baru yang diperkenalkan untuk membuat pengalaman nonton konser jadi lebih enak. Terlebih, ternyata pandemi membawa beberapa inovasi baru yang membuat pengaturan penonton jadi lebih ringkas.
Yang paling terasa adalah sistem ticketing yang terpersonalisasi langsung di smartphone masing-masing penonton. Semua orang cukup melakukan login ke aplikasi atau buka web Ticketmaster dan tiket tersedia di sana. Masing-masing penonton akan masuk lewat pintu yang sudah ditentukan, dan hanya tinggal scan saja tiket tersebut. Penonton tidak bisa melakukan screenshot dan semua diminta untuk menunjukkan masing-masing tiket yang dimiliki.
Sistem ticketing seperti ini sekarang jadi hal yang lazim ditemui di dunia konser Inggris—dan juga Eropa pada umumnya. Penonton dari semua usia yang datang untuk menyaksikan The Rolling Stones mau tidak mau harus mengikuti sistem ini. Termasuk mereka yang keluar kandang untuk menyaksikan The Rolling Stones, entah untuk kali keberapa (baca: tua dari segi umur).
(Doc. Supermusic)
Pemandangan kaos-kaos tur lama The Rolling Stones tersebar di mana-mana. Begitu pula dengan gerombolan bocah tua nakal yang sudah minum dan joget sendiri sejak beberapa jam sebelum band pembuka bermain.
The Rolling Stones sendiri selalu mengajak band lokal sebagai pembuka konsernya. Di Liverpool, Echo and the Bunnymen kebagian giliran menjadi pembuka. Band ini adalah salah satu unit paling sukses di Merseyside—sebutan Liverpool dan sekitarnya. Dibuka oleh jagoan lokal, penonton yang datang ke konser SIXTY ini seperti mendapat bonus tambahan. Singalong terjadi sejak Echo and the Bunnymen main. Kumpulan-kumpulan kecil orang berjoget, tua-muda tumpah ruah di seluruh penjuru stadion yang perlahan-lahan mulai padat.
Di samping itu, berkesempatan langsung menginjak Stadion Anfield adalah pengalaman tersendiri yang bikin orang senang. Apalagi Liverpool FC baru saja menutup sebuah musim yang spektakuler dalam dunia sepakbola Inggris. Mick Jagger pun sempat memberi selamat kepada penonton dan penduduk Liverpool atas pencapaian tim sepakbola kesayangan mereka.
The Rolling Stones, dengan segudang katalog lagunya, tentu saja tinggal memilih lagu untuk memenuhi kerinduan penggemar. Alhasil, The Rolling Stones memajang setlist dengan setumpuk lagu hits di sepanjang satu setengah aksi enerjiknya. Penonton, yang sebagian besar sudah akrab dengan lagu-lagu hits The Rolling Stones, tak dapat menahan diri untuk singalong, dari awal hingga akhir konser.
Hits model Jumpin’ Jack Flash, Honky Tonk Women, Paint It Black, (I Can’t Get No) Satisfaction, dan Street Fighting Man dimainkan. Tidak ketinggalan versi cover milik The Beatles, I Wanna Be Your Man, yang spesial dimainkan di kota asal band tersebut.
(Doc. Supermusic)
Setlist yang dipadati single hits The Rolling Stones ini seolah-olah merespons Mick Jagger, Keith Richard, dan Ronnie Wood yang tidak pernah berhenti bergerak. Sulit dipercaya bahwa orang-orang ini sudah berusia lanjut namun mereka tetap berenergi tinggi dalam pertunjukannya
Di dalam venue, desain panggung nan megah dan kostum yang beberapa kali berganti pun seakan-akan menunjukkan bahwa semua orang di Anfield Stadium hari itu sedang menyaksikan salah satu seri pertunjukan terbaik di dunia.
Mengingat skala pertunjukannya yang besar, Liverpool hari itu sangat padat. Transportasi umum sangat ramai, hotel-hotel juga dipenuhi pengunjung dan harganya menjulang tinggi. Ini karena penonton yang datang tidak hanya dari Liverpool saja.
Di balik itu, penonton punya kontribusi yang spesial. Saat The Rolling Stones pamit sejenak untuk pura-pura selesai, secara kolektif lagu You’ll Never Walk Alone yang jadi anthem untuk Liverpool FC berkumandang. Entah apa alasannya, penonton tampak serempak menyanyikan anthem ini untuk merayakan malam itu. Epic!
Superfriends, itulah catatan perjalanan Supermusic yang spesial karena bisa menyaksikan langsung The Rolling Stones di salah satu kota paling ikonik di Inggris Raya, yang kebetulan juga sudah disinggahi band paling besar di dunia berkali-kali itu. Lewat penampilan The Rolling Stones yang enerjik malam itu, sudahkah pertanyaan iseng di awal artikel ini terjawab?
Image source: https://rollingstones.com/
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 09/07/2022
29 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
SEPTIAN DWI NUGROHO
07/03/2025 at 12:50 PM
Shella Monica
21/03/2025 at 22:58 PM
Panji Nugraha
23/03/2025 at 15:16 PM
Yanti A
24/03/2025 at 15:07 PM
Fais Arifin
27/03/2025 at 14:44 PM
YUSIA KRISTANTO
16/04/2025 at 12:38 PM
Andyyy y
22/04/2025 at 14:28 PM
Imam Ciptarjo
23/04/2025 at 09:36 AM
Nasna
23/04/2025 at 14:42 PM
Baba
23/04/2025 at 14:47 PM
Sahria
23/04/2025 at 15:05 PM
Muh Alwi
23/04/2025 at 15:36 PM
Kaharuddin 1
23/04/2025 at 15:40 PM
Hapsah k
23/04/2025 at 16:44 PM
AyuRL Ningtyas
24/04/2025 at 20:05 PM
SAKIYONO IYOK
28/04/2025 at 21:57 PM
EKO SUSILOWATI
01/05/2025 at 21:28 PM
Heri Suprapto
13/05/2025 at 08:54 AM
YC SOENARDI
15/05/2025 at 17:12 PM
SAMSUL BAHRI
23/05/2025 at 16:40 PM
ANDI WITONO
23/05/2025 at 18:27 PM
ANDI WITONO
23/05/2025 at 18:30 PM
NURHANDANY DANY
27/05/2025 at 18:54 PM
Brawijaya Hutabarat
06/06/2025 at 20:28 PM
Maoreen Lokito
12/06/2025 at 08:58 AM
Muhamad Saifudin
13/08/2025 at 21:35 PM
asep syaripudin
01/10/2025 at 11:23 AM
Cands
14/12/2025 at 03:57 AM
EMIR MUHAMMAD
01/06/2026 at 14:17 PM