Sun Eater, sebuah label rekaman independen Tanah Air, telah merilis mini album yang diberi judul Sounds Cute Might Later (September). Mini album kompilasi ini menjadi yang kedua dalam rangkaian mini album lainnya yang digarap bersama sejumlah musisi. Mini album kompilasi ini menampilkan lagu-lagu baru dari .Feast, penyanyi dan penulis lagu Agatha Pricilla, dan band metalcore Séda.
Tiga lagu di antaranya adalah Luruh yang dibawakan oleh Séda, Esok Siapa Tau dibawakan oleh Agatha Pricilla, dan Ali yang dibawakan oleh .Feast. Ketiga lagu tersebut memiliki nuansa dan hentakan yang berbeda-beda, yang keras dan cadas, hingga yang manis dan groovy.
Mini album Sounds Cute Might Delete Later ini adalah seri yang disusun Sun Eater setelah debutnya yang dimulai pada Agustus 2021 lalu. Sun Eater akan merilis mini album macam ini untuk setiap bulan hingga akhir tahun 2021 mendatang.
Sounds Cute Might Delete Later adalah seri yang disusun oleh Sun Eater, yang meluncurkan entri debutnya pada bulan Agustus. Mini album akan dirilis setiap bulan hingga akhir tahun 2021.
Mini Album Kompilasi Volume 1
Mini album pertama Sun Eater bertajuk Sounds Cute Might Delete Later Vol. 1 dirilis pada 27 Agustus 2021 lalu. Mini album ini menampilkan dua lagu. Di antaranya adalah lagu Hari yang Baik untuk Berbohong oleh Hindia, alias Baskara Putra, yang juga jadi pentolan .Feast. Dalam lagu ini, Baskara Putra bekerja sama dengan teman satu band all-star Sun Eater di Lomba Sihir, Rayhan Noor. Satu lagu lagi berjudul Samudra, Samudra dibawakan oleh Aldrian Risjad.
Sun Eater mengungkapkan bahwa strategi rilis mereka untuk seri mini album adalah cara untuk memerangi batas kreativitas yang disebabkan oleh krisis akibat pandemi COVID-19 di Indonesia. Selain itu, Sun Eater sebagai salah satu label rekaman independen Indonesia juga berharap bahwa serial ini bisa digunakan sebagai ‘songdump’ untuk mengumpulkan lagu-lagu yang tidak terlalu serius milik para musisi.
Baskara Putra, yang menjabat sebagai A&R Head Sun Eater mengatakan dalam keterangan persnya, “Kami merasa ini bukan waktu yang tepat bagi kami untuk merilis materi utama seperti [konsep] album dan mini album saat ini. Musik bukanlah kebutuhan utama pada saat seperti ini dan semua orang fokus pada apa yang benar-benar penting sebagai gantinya.”
“Dengan begitu, kami merasa lebih baik merilis lagu-lagu yang menghibur dan mencairkan suasana tanpa harus mengalihkan pandangan dari pandemi,” ungkapnya.
Sebagai informasi, pemilihan judul mini album kompilasi Sounds Cute Might Delete Later ini terinspirasi dari frasa “felt cute might delete later” yang sering dijumpai pada unggahan media sosial milenial dan gen z. Umumnya, frasa itu mencakup unggahan selfie serta photodump yang diunggah tanpa konteks tertentu. Sementara untuk materi lagunya, “Sounds Cute Might Delete Later” yang sudah dirilis kedua kalinya ini tentu bukanlah materi lagu serius dengan kaliber yang biasa dikerjakan para musisi. ‘Songdump’ justru diusung sebagai materi lagu untuk mini album kompilasi Sun Eater ini dengan maksud memasukkan lagu apa adanya.
Untuk rilisan serial selanjutnya, Sounds Cute Might Delete Later berharap bisa menampilkan musik-musik baru dari musisi Indonesia lainnya seperti Mantra Vultura, Glaskaca, Maseta, hingga Fufufu yang terdiri dari Natasha, Udu, dan Awan.
.Feast pada awal tahun 2021 lalu telah memberikan bocoran album terbaru mereka yang diberi judul Membangun & Menghancurkan, Hingga kini, album terbaru itu masih dirahasiakan tanggal rilisnya.
Siapa Sun Eater?
Sun Eater dibentuk sebagai label musik, perusahaan rekaman, dan talent management asal Jakarta. Sun Eater muncul dengan ragam musik dan estetikanya sendiri dengan spektrum pop, rock, dan elektronik. Mereka juga memiliki pangsa pasar sendiri yang mengatapi sejumlah band dan solois yang namanya ikut melambung seperti .Feast, Hindia, Agatha Pricilla, Séda, Mantra Vutura, Rayhan Noor, dan masih banyak lagi.
Sun Eater pun kerap menggelar beberapa festival kecil sebelum pandemi COVID-19, salah satunya yang terkenal adalah festival bertajuk Here Comes The Sun yang sukses digelar di Studio Palem Kemang, Jakarta Selatan, 2019 lalu. Lewat Here Comes The Sun, Sun Eater mencoba memperkenalkan talent-talent terbaik mereka pada khalayak luas. Kesuksesan itu dilanjutkan dengan Here Comes The Sun 2020 yang digelar secara virtual pada Oktober 2020 lalu.
Dilansir dari Siasat Partikelir, Kukuh Rizal Arfianto, sosok di balik kesuksesan acara tersebut mengatakan Here Comes The Sun selalu memberi sesuatu yang belum pernah disajikan sepanjang tahun. Namun, menurut Kukuh, ada perbedaan acara yang digelar secara luring dan daring. Menurutnya, Here Comes The Sun 2020 yang digelar secara virtual tidak semudah menyajikan event yang digelar sebelum pandemi, jauh lebih banyak menyita waktu, tenaga, dan biaya. Kukuh mengakui bahwa gelaran acara musik secara virtual tidak akan bisa menyamai experience dari gelaran secara langsung.
Meski begitu, ia yakin harus maju terus dan belajar lebih banyak untuk dapat menyajikan event yang selalu diingat para pendengar Sun Eater. Bersama timnya, ia berusaha memaksimalkan experience gelaran virtual tersebut lewat fitur-fitur yang ada, misalnya lewat interactive chat dan lain sebagainya.
Tak hanya festival, Sun Eater juga memiliki toko daring yang terkenal bernama Sundongyang. Toko daring ini menjual beragam music merchandise mulai dari CD, piringan hitam, t-shirt, sweater, gelang dan aksesori, stiker, totebag, hingga jersey.
Image source: https://www.instagram.com/suneatercoven/
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 27/10/2021
10 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Yohanes Hariono
14/02/2025 at 13:17 PM
AKHMAT KHUDDORI
05/03/2025 at 18:49 PM
DEVI TRI HANDOKO
28/03/2025 at 10:24 AM
Lukman Hakim
19/04/2025 at 09:51 AM
ERLAN SAPUTRA PRIADY
26/05/2025 at 08:31 AM
Imam Ciptarjo
10/07/2025 at 08:48 AM
Andyyy y
23/07/2025 at 19:03 PM
Ricka Dwi Ayu Ningtyas
25/07/2025 at 19:59 PM
Agus Sungkawa
15/10/2025 at 19:36 PM
DIAH TITI SARI YANURWATI
08/01/2026 at 22:03 PM