Berbicara mengenai genre shoegaze di dalam sebuah obrolan tentang pergerakan musik, tidak nama satu band satu ini terlewatkan di dalamnya. Slowdive merupakan salah satu band legendaris yang membawa shoegaze menjadi sebuah fenomena permusikan di Inggris Raya. Bahkan pengaruhnya hingga ke dunia.
Terbentuk di Inggris di tahun 1989, Slowdive didirikan oleh sepasang teman kecil, Neil Halstead dan Rachel Goswell yang sudah saling mengenal dari umur 6 tahun. Keduanya berperan sebagai pemain gitar dan penyanyi di dalam tubuh band ini. Keduanya sudah mulai aktif bermusik sedari remaja. Di awal pembentukannya, Slowdive juga diisi oleh Adrian Sell (drum), Nick Chaplin (bass), dan Christian Savill (gitar)
Terakhir mengeluarkan album di tahun 2017 silam sebagai penanda kembalinya mereka ke dunia musik setelah sebelumnya bubar, Slowdive yang saat ini diisi oleh Neil Halstead, Rachel Goswell, Christian Savill, Nick Chaplin, dan Simon Scott sedang bersiap untuk menyelesaikan proyek album kelimanya.Berita terkait persiapan album baru Slowdive ini diunggah oleh Rachel Goswell melalui Instagram feed-nya, yang menggambarkan kegiatan rekaman yang dilakukan Neil Halstead bersama gitarnya dengan deskripsi foto berisi tulisan #slowdivelp5. Foto tentang lanjutan proses rekaman pun akhirnya diunggah juga melalui akun Instagram resmi milik Slowdive. Kira-kira, kejutan apa yang telah dipersiapkan oleh Slowdive? Apakah warna musiknya akan hadir dengan nuansa yang lebih segar?
Musik shoegaze memang identik dengan gemuruh efek distorsi yang menyelimuti segala aspek lagu secara keseluruhan. Uniknya, gemuruh tersebut mampu untuk menghadirkan dimensi lain yang dapat memberi jalan pada pendengar untuk mengeksplorasi ruang-ruang pada musik yang disajikan. Namun, di album sebelumnya yang lahir di tahun 2017, Slowdive menemukan formula terkini untuk menghasilkan lagu-lagu dengan tingkat kejernihan yang lebih baik, meskipun di bagian latar, suara gemuruh gabungan efek distorsi, reverb, delay, dan beragam modulasi lainnya tetap membuat musiknya terdengar megah dan lebih lembut.
Pendekatan berbeda yang ditawarkan oleh Slowdive melalui karyanya mungkin dilakukan untuk menyesuaikan dengan inovasi dan teknologi rekaman saat ini. Penyesuaian tersebut dibutuhkan Slowdive, karena album keempat ini merupakan album pertama yang mereka rilis semenjak 22 tahun setelah album ketiga, Pygmalion yang dirilis di tahun 1995. Eksperimen terbaru yang dilakukan oleh Slowdive pun ternyata memberikan hasil yang di luar dugaan. Berdasarkan chart Spotify yang ada pada profile page Slowdive, 3 buah lagu dari album terbarunya ini, Sugar for the Pill, Slomo, dan Star Roving, memiliki jumlah hasil putar yang mengesankan, setelah sebelumnya didominasi oleh album kedua mereka yang fenomenal, Souvlaki.
Di tengah gelombang britpop yang begitu besar pada zamannya, Slowdive menjadi sebuah pusaran yang sangat kuat mempertahankan genre dan kancah shoegaze di Inggris melalui album keduanya, Souvlaki yang dirilis pada tahun 1993. Saking berpengaruhnya terhadap kancah musik di Inggris, sebuah media musik internasional ternama, Pitchfork, membuat dokumenter terkait album tersebut yang dirilis pada tahun 2015. Satu tahun setelah Slowdive melakukan aksi reuni di festival musik Primavera Sound, Italia. Film dokumenter Slowdive ini menceritakan tentang bagaimana proses bermusik dan pengerjaan album Souvlaki di kala itu. Dokumenter ini menawarkan berbagai sudut pandang, mulai dari para member Slowdive, Chris Hufford selaku produser album ini, hingga Alan McGee, sebagai pendiri Creation Records, label rekaman yang menaungi Slowdive dan para musisi shoegaze terbaik di Inggris pada masa itu.
Proses rekaman album kedua dari Slowdive ini dimulai selang beberapa waktu dari kandasnya hubungan asmara Neil Halstead dan Rachel Goswell. Teman kecil yang tumbuh bersama hingga jatuh cinta dan akhirnya harus berpisah. Namun, komitmen keduanya terhadap Slowdive sangat besar, membuat prioritas album yang sedang dijalankan harus terealisasi. Shoegaze juga identik sebagai musik yang cukup memaksimalkan penyaluran emosi yang terkesan begitu kasar dan apa adanya. Namun untuk album Souvlaki, Slowdive seakan membuat emosi yang tercurahkan lebih terasa lebih tenang, bahkan terbilang legawa. Konflik antara Neil dan Rachel bisa dibilang jadi faktor utama mengapa Souvlaki hadir dengan tempo yang cukup pelan dan permainan gitar yang mendayu. Seakan-akan jadi sebuah pesan yang menceritakan proses pelepasan dan keikhlasan dari kisah cinta yang berakhir di antara mereka berdua tanpa memasukan unsur konflik dan menekankan atas kerinduan tentang momen-momen yang tidak akan bisa terulang kembali.
Proses rekaman album kedua Slowdive ini juga bisa dibilang cukup ambisius. Slowdive mencoba untuk menghubungi Brian Eno untuk dapat memproduseri album secara keseluruhan. Namun, sang maestro menolak tawaran tersebut, meskipun pada akhirnya Brian ikut menjadi produser untuk beberapa lagu di album Souvlaki. Proyek penuh ambisi Slowdive ini berhasil membuat mereka menjadi salah satu band shoegaze yang patut diperhitungkan di kala itu. Berisi 11 lagu, album kedua Slowdive ini diisi dengan lagu-lagu indah yang timeless. Di antaranya ada When The Sun Hits, Alison, dan Dagger yang hampir masuk ke dalam daftar putar para penikmat musik alternatif. Bahkan, album Souvlaki bisa didengarkan sebagai album penawar rasa sakit hati bagi setiap orang, karena lirik-liriknya yang cukup bisa dikaitkan dengan dinamika hubungan percintaan secara umum.
Sayangnya, seusai kenikmatan yang Slowdive dapatkan dari hasil penjualan dan promosi album Souvlaki, mereka seakan kehilangan arah. Mungkin panggung yang lebih banyak dari sebelumnya membuat mereka lelah dan seakan kehilangan waktu untuk menghasilkan karya lanjutan yang lebih baik di album ketiga mereka. Selain itu, badai britpop yang menerpa industri musik Inggris juga sudah tidak dapat dibendung lagi, sehingga lambat laun, popularitas shoegaze hanya jadi sebuah cerita singkat yang akan terus dikenang hingga saat ini.
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 15/10/2020
3 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Bur Zhan
15/01/2025 at 07:03 AM
Agus Sungkawa
20/02/2025 at 19:26 PM
pujanadi
24/07/2025 at 10:15 AM