Mafia Pemantik Qolbu kembali lagi dengan sebuah kabar terbaru. Setelah menutup tahun 2021 lalu dengan single kolaborasi bersama Putra Timur dan Shinjoko, Mafia Pemantik Qolbu menghadirkan single anyar berjudul Siar. Single baru ini dirilis pada 25 Maret 2022.
Beberapa personel Mafia Pemantik Qolbu sendiri seperti Alit Djarot (vokal) dan Daniel Hasudungan (gitar, keyboard) sebelumnya memang sempat terlibat dalam beragam proyek musik bersama musisi lainnya. Alit pernah menjadi produser dari album Putra Timur, Mahligai, serta EP dari Binar, Jalan Rindang Dua Tiga.
Pengalaman-pengalaman di luar perjalanan bermusik Mafia Pemantik Qolbu itu telah menjadi sebuah pembelajaran baru bagi mereka. Semua hal itu terekam hingga akhirnya tergambar dalam single Siar dan beberapa materi mendatang.
“Ini yang bikin setidaknya bagi kami, lebih kerasa matang dalam penulisan lagu dan pemilihan sound yang berbeda”, ungkap drummer Rakha Suryandaru.
Single Siar sendiri membawa sebuah cerita mengenai ambisi. Secara spesifik, Mafia Pemantik Qolbu ingin menceritakan ambisi-ambisi dari seorang pecundang.
“Sederhananya sebenarnya liriknya tentang orang yang banyak berandai-andainya, tapi malah nggak ngelakuin apa-apa makanya di liriknya ada bagian ‘Sementara ku lanjut berdansa di tidurku’, padahal dia sudah ngebayangin ke mana-mana, namanya sama mukanya tersiar di seantero penjuru, sisi-sisi loser-nya kita lah,” lanjut Alit.
Setelah rilisnya single Siar, kuintet ini juga menjanjikan sebuah album yang rencananya akan hadir di penghujung tahun 2022 ini. Sementara single terbaru mereka ini sudah bisa didengarkan di berbagai platform.
Pada Februari 2019 lalu, Mafia Pemantik Qolbu mengumumkan bahwa dua single mereka telah resmi dirilis. Unit art rock asal Jakarta yang terdiri dari Abram Dionisius (gitar), Alit Djarot (gitar dan vokal), Daniel Hasudungan (gitar, keys), Rakaputra (bass), dan Rahka Agung (drum) menyajikan dua buah single yaitu Rupa Rupa dan Bubatual. Kedua single itu dirilis di beberapa kanal music streamin seperti Spotify dan Apple Music.
Meski dirilis dalam waktu bersamaan, kedua single yang memiliki perbedaan sound. Hal ini menggambarkan keluasan musikalitas dari band yang kerap disingkat MPQ tersebut.
Single yang bertajuk Rupa Rupa merupakan lantunan nada yang mudah didengar, memberikan kesan sejuk yang bersinggah dalam bayang alternative rock macam Radiohead. Vokal dan liriknya pun mengalur halus sama seperti komposisi musik yang mereka runtutkan, lika-likunya mulus, dan tidak terkesan dipaksakan.
Sementara single Bubatual adalah single kedua mereka yang lebih keras. Build-up lagu ini konstan dari awal hingga akhir trek menjadi ujung tombak yang pantas untuk menutupnya dengan puas, terasa pas di telinga. Ketika membahas liriknya, lagu Mafia Pemantik Qolbu ini mengangkat sisi romantis perspektif Hayam Wuruk dari Perang Bubat, yaitu perang yang terjadi antara Jawa dan Sunda di masa silam, tentang segala kesalahpahaman pernikahan yang melatarbelakanginya.
Sebelumnya, kedua single ini sudah pernah dirilis dalam format live session dan diunggah via kanal YouTube mereka bertajuk Se-fruit Live Session.
MPQ juga merilis Last Man pada Agustus 2019. Last Man adalah hal yang baru dan sangat berbeda dari materi MPQ sebelumnya. Liriknya pun ditulis dalam bahasa Inggris yang bercerita tentang seseorang yang mengabaikan realita.
“Orang ini sih sadar kalo lebih banyak yang melek sama realita dibandingkan sama yang suka ngayal, Tapi segitu enggak pedulinya dia sama realita dan lebih milih untuk percaya sama khayalannya.”
Sementara pada Oktober 2021 lalu, Mafia Pemantik Qolbu mengadakan hearing session dalam rangka lahirnya album penuh pertama mereka, Di Dalam Rebahan. Album ini sendiri sudah dinikmati di seluruh layanan musik digital mulai 18 Oktober 2021 lalu.
Menurut MPQ, album Di Dalam Rebahan dimaksudkan sebagai sebuah temporary self-healing. Para pendengar dapat menyandarkan kepala sejenak dan memisahkan diri dari permasalahan yang dihadapi sehari-hari. Sementara lagu-lagu dalam album ini membahas seputar isu yang terjadi dalam diri manusia yang dinarasikan sebagai monolog seseorang yang terlarut dalam lamunannya.
Hearing session album Di Dalam Rebahan yang dimoderatori oleh Ardian Bantet. Selain memperdengarkan 11 lagu yang terdapat di dalam album, acara ini juga dilengkapi oleh pembahasan dan diskusi mengenai proses kreatif dari segi penulisan musik hingga materi visual seperti artwork dan video musiknya.
Image source: Pop Hari ini
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 20/04/2022
1 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Muhamad Saifudin
21/10/2025 at 19:07 PM