Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct Name
Please Select the gender
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
show password icon
  • circle icon icon check Contain at least one Uppercase
  • circle icon icon check Contain at least two Numbers
  • circle icon icon check Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
show password icon
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Serunya Nonton Aksi The Wedding Present, Ageing Gracefully!

The Wedding Present adalah salah satu alumni C86 yang masih terus berkarya sampai sekarang. Bisa menyaksikan aksi mereka secara live dan tetap bertenaga adalah sebuah anugerah yang penting untuk dirayakan.

C86 sendiri adalah sebuah penanda zaman. Di tahun 1986, NME merilis sebuah kompilasi double cassette yang berisikan nama-nama baru di masa itu. Kebanyakan dari mereka kemudian punya cerita penting dan mengubah arah musik independen Inggris bertahun-tahun kemudian. Selain The Wedding Present, di dalam kompilasi ini juga ada nama-nama seperti The Pastels dan Primal Scream. Lalu, C86 juga menjadi cikal bakal musik yang dikenal luas sebagai Jangle Pop, yang biasanya memadukan dua gitar yang memainkan nada dan melodi berbeda.

Nama The Wedding Present sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari satu-satunya member sekaligus penulis lagu band ini yang posisinya tidak pernah digantikan orang lain, David Gedge. Sepanjang puluhan tahun, ia terus menulis dan merilis karya. Ada dua kendaraannya, The Wedding Present dan Cinerama.

Di tahun 2022 ini, The Wedding Present sedang melangsungkan tur Inggris dan Eropa berjudul Seamonsters 30th Anniversary Tour. Seperti judulnya, sepanjang rangkaian, mereka memainkan materi dari album Seamonsters secara berurutan dari depan sampai belakang, plus sejumlah lagu hits lain. Seamonsters sendiri adalah album ketiga The Wedding Present yang dirilis tahun 1991 silam.

Tur ini semestinya berlangsung di tahun 2021 lalu. Tapi, seperti layaknya banyak konser lain, ada banyak penyesuaian waktu dan pembatalan yang harus dilakukan.

Seamonsters 30th Anniversary Tour ini dimainkan di banyak venue berkapasitas tidak lebih dari 500 orang. Namun, turnya sendiri akan singgah di lebih dari 30 kota di Inggris. Jadi, kesempatan untuk nostalgia benar-benar diberikan oleh band ini.

The Wedding Present sendiri sebenarnya tidak pernah absen lama merilis karya baru, kecuali di periode 1996-2005. Selebihnya, mereka terus menerus produktif. Personelnya memang gonta-ganti, tapi David Gedge sendiri bisa memastikan bahwa energi besar untuk The Wedding Present masih bisa dihidupi.

Selain kariernya yang panjang, menyaksikan The Wedding Present adalah sebuah pengalaman berharga melihat bagaimana musik bisa membawa orang untuk terus menerus merayakan apa yang mereka suka. Di kebanyakan panggung yang sudah dan akan dilewati oleh band ini, penontonnya adalah mayoritas orang paruh baya yang mengambil kembali t-shirt vintage mereka dan mengenakan lagi setelan favorit untuk pergi ke konser musik. Beberapa orang tampak membawa keluarga atau sekadar nostalgia dengan teman-teman tongkrongannya. Tidak lupa sambil minum tanpa henti dari bar-bar yang pasti tersedia di masing-masing venue.

(Doc. Supermusic)

Pemandangan sejenis terjadi pula di Arts Club, Liverpool, pada Sabtu, 21 Mei 2022 lalu. Arts Club adalah sebuah venue di gedung tua yang disulap jadi tempat pertunjukan. Bentuknya semi amphiteater. Jadi, panggung ada di bawah dan penonton bisa berdiri di tangga-tangga yang lebih tinggi. Tempat ini berada di kompleks padat Liverpool City Center yang memang hanya punya akses jalan kaki. Pintu belakang ke toiletnya bahkan langsung berhadapan dengan kawasan pemukiman dan bisa menjelma menjadi pintu keluar langsung begitu pertunjukan selesai.

Biasanya, pertunjukan akan dimulai pukul 20.00 waktu setempat. Seringkali, ada band pembuka yang berfungsi memanaskan suasana. Namun, nama band itu umumnya tidak ditulis di materi publikasi. Jadi, wajar sekali jika penonton tidak mengetahui siapa yang bermain sebagai pembuka konser tersebut.

Seperti di pertunjukan-pertunjukan lain album ini, materi Seamonsters dimainkan dari depan sampai belakang sesuai dengan urutan album. Di era kemunculan album ini, logika penyusunan urutan lagu dalam sebuah album masih memperhitungkan pembagian dua babak. Karena format kaset dan piringan hitam masih dipertahankan, sebelum CD mulai dikenal luas.

David Gedge pun lempeng, tidak berkomunikasi sama sekali. Album Seamonsters sendiri merupakan karya The Wedding Present bersama produser Steve Albini, yang juga bertanggung jawab untuk beberapa album Nirvana. Di album ini, mereka mulai banyak mencampurkan distorsi gitar khas indie rock yang mengganti sentuhan jangly yang sebelumnya kental.

Setelah materi-materi Seamonsters selesai dimainkan, barulah David Gedge membuka komunikasi. “Halo, perkenalkan, kami adalah band semi legendaris The Wedding Present. Dan tadi adalah Seamonsters,” katanya.

Penonton tentu saja sumringah. Dan, berada di tengah penonton pertunjukan band ini rasanya seperti ada di tengah sekumpulan bocah tua nakal yang kena pengaruh alkohol tapi masih belum sepenuhnya panas. Ketika mulai memainkan hits mereka seperti Brassneck, Everyone Thinks He Looks Daft, Interstate 5, dan beberapa lagu lainnya, baru mereka sibuk berdansa. Lantai Arts Club juga bergoyang ketika mayoritas penonton meloncat-loncat.

Menjadi tua dari segi usia tapi masih bisa melakukan kegiatan seperti itu di pertunjukan musik, rasanya menyenangkan juga, ya. Yang seru juga, The Wedding Present juga tidak canggung untuk memainkan materi-materi baru mereka. Misalnya, I Am Not Going To Fall in Love With You yang baru dirilis bulan Februari 2022 lalu.

(Doc. Supermusic)

Saat ini, The Wedding Present sedang mencoba sebuah strategi baru untuk merilis secara lepasan single setiap bulannya. Dalam sebuah pernyataan sebelum memainkan lagu I Am Not Going To Fall in Love With You, David Gedge mengatakan, “Jika di 1992 kami merilis single setiap minggu, maka sekarang kami merilisnya setiap bulan. Bedanya, dulu dalam format 7”, sekarang rilisnya digital.”

Dengan sejarah yang panjang, segudang katalog, serta penggemar yang loyal, sepertinya The Wedding Present bisa jadi contoh bagaimana musisi bisa ageing gracefully dan tetap relevan untuk generasinya. Kisah bagus untuk pelajaran band-band Indonesia, nih. Bagaimanapun juga, kan kita bakal tua dimakan usia. Tapi, masak main musik harus berhenti, sih? Terima kasih atas pelajaran dan inspirasinya ya, The Wedding Present!

ARTICLE TERKINI

Tags:

#Rock # Konser #Liverpool #Album Seamonsters #The Wedding Present

Article Category : Super Buzz

Article Date : 08/06/2022

Supermusic
Admin Music
Supermusic
Admin Music
Penulis artikel dan penggila musik rock/metal yang setiap hari ngulik rilisan baru, liputan gig, dan cerita di balik panggung band legendaris. Gue percaya musik keras itu bukan cuma suara, tapi energi dan gaya hidup. Konten gue disajikan dengan detail dan semangat yang sama garangnya sama musik yang gue bahas. Superfriends yang hidupnya nggak bisa lepas dari riff gitar dan gebukan drum pasti betah nongkrong di sini. Tiap artikel gue bikin biar lo ngerasa kayak lagi ada di depan panggung.

9 Comments

Comment
SEPTIAN DWI NUGROHO

SEPTIAN DWI NUGROHO

07/03/2025 at 12:56 PM

Serunya Nonton Aksi The Wedding Present, Ageing Gracefully!
Shella Monica

Shella Monica

21/03/2025 at 22:58 PM

.
Panji Nugraha

Panji Nugraha

23/03/2025 at 15:16 PM

#SUPERLIVE
Yanti A

Yanti A

24/03/2025 at 15:07 PM

mantap
YUSIA KRISTANTO

YUSIA KRISTANTO

16/04/2025 at 12:38 PM

Dengan sejarah yang panjang, segudang katalog, serta penggemar yang loyal, sepertinya The Wedding Present bisa jadi contoh bagaimana musisi bisa ageing gracefully dan tetap relevan untuk generasinya. Kisah bagus untuk pelajaran band-band Indonesia, nih. Bagaimanapun juga, kan kita bakal tua dimakan usia. Tapi, masak main musik harus berhenti, sih? Terima kasih atas pelajaran dan inspirasinya ya, The Wedding Present!
Imam Ciptarjo

Imam Ciptarjo

23/04/2025 at 09:37 AM

Seamonsters 30th Anniversary Tour ini dimainkan di banyak venue berkapasitas tidak lebih dari 500 orang.
NURHANDANY DANY

NURHANDANY DANY

27/05/2025 at 18:54 PM

Serunya Nonton Aksi The Wedding Present, Ageing Gracefully!
Agus Samanto

Agus Samanto

30/06/2025 at 20:07 PM

nice to read
Muhamad Saifudin

Muhamad Saifudin

16/09/2025 at 19:37 PM

Nice news!
Other Related Article
image article
Super Buzz

The Dare Lepas Single Terbaru yang Berjudul Strangestreetfellows

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Super Buzz

Tampil di Jepang, Isyana Sarasvati Akan Kolaborasi Bareng Mantan Gitaris Megadeth

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Super Buzz

Milledenials Luncurkan Musik Video untuk Single Precious Me dan Feel Any Pain

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Super Buzz

Break Out Day Fest Cirebon Berlangsung Super Seru!

Read to Get 5 Points
image arrow
1 /

Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive