Jika membahas tentang musik di era 1990-an hingga awal 2000-an, nama Papa Roach merupakan salah satu nama yang menghiasi industri musik internasional kala itu. Bahkan tidak jarang, Papa Roach jadi perbincangan hangat di tengah obrolan para penikmat musik. Masuk ke dalam genre alternative metal, Papa Roach memberikan bumbu berbeda pada musiknya kala itu. Musik metal yang sarat akan beatdown membuat Papa Roach mencoba pendekatan lirikal menggunakan teknik rap. Dengan pendekatan unik ini, kerap kali Papa Roach dianggap sebagai salah satu band yang masuk ke dalam kategori kelompok musik nu-metal atau rap metal.
Sejarah tentang Papa Roach, band ini dibentuk pada tahun 1993 di saat seluruh founding member-nya masih duduk di bangku sekolah. Kala itu, Jacoby Shaddix yang kini menjabat sebagai vokalis dan frontman Papa Roach bertemu dengan Dave Buckner yang mengisi posisi drummer di masa awal terbentuknya band ini. Mereka berdua bertemu di lapangan olahraga Vacaville High School. Saling bertukar obrolan dalam membentuk band, akhirnya Jacoby dan Dave mulai mencari anggota lainnya untuk melengkapi formasi band tersebut. Pertama mereka bertemu dengan Jerry Horton yang didaulat sebagai pemain gitar. Jerry kala itu merupakan seorang siswa tetangga dari Vanden High School. Pertemuan Jacoby dan Dave bersama Jerry disusul oleh Ben Luther sebagai pemain trombon dan Will James sebagai pemain bass.
Kelima remaja tersebut sepakat untuk membuat band, namun masih belum menggunakan nama Papa Roach. Panggung pertama mereka dimulai dengan mengikuti lomba festival musik sekolah dengan membawakan lagu Fire milik Jimi Hendrix. Sayangnya, keberuntungan tidak berada di sisi mereka kala itu. Papa Roach kalah dalam perlombaan tersebut dan di tengah perjalanannya. Ben Luther sang trombonis memilih hengkang dari band dan dilanjut oleh Dave yang memutuskan keluar untuk fokus dengan dunia akademisnya. Masih memiliki semangat, secara gerilya keempat anggota yang tersisa terus mencoba peruntungan untuk dapat tampil di atas panggung. Hingga akhirnya mereka mulai merekam materi dan merilis EP pertamanya berjudul Potatoes for Christmas menggunakan nama Papa Roach. Nama band tersebut diambil dari nama panggilan kakek dari sang vokalis.
Dalam proses rekamannya, peran Dave digantikan sementara oleh Ryan Brown di tahun 1994. Pada tahun 1995, Dave kembali ke dalam tubuh Papa Roach dan ikut berkontribusi ke dalam proses rekaman EP kedua mereka berjudul Caca Bonita. Satu tahun setelah rilis EP kedua, Papa Roach kembali ditinggalkan oleh salah satu anggotanya. Sekarang giliran sang pemain bass, Will James yang memilih hengkang dan digantikan oleh Tobin Esperance yang telah lama bergabung di Papa Roach, sebelumnya sebagai kru panggung dan teknisi.
Selama masa aktifnya, Papa Roach berhasil merilis 10 album penuh, yang terakhir dirilis di tahun 2019 lalu. Namun, jika berbicara mengenai pencapaian mainstream Papa Roach, band ini nyatanya baru dapat dikenal oleh audiens yang lebih luas ketika mereka merilis album keduanya. Sebelum mendapat pencapaian terbaik di dalam perjalanannya, Papa Roach sempat gagal mendapatkan atensi melalui album perdananya di tahun 1997, Old Friends from Young Years. Kegagalan tersebut membuat Papa Roach perlu menemukan rumus baru dalam pembuatan musiknya. Akhirnya mereka kembali masuk ke dalam dapur studio untuk merekam demo yang berhasil membawa mereka mendapatkan kontrak rekaman bersama DreamWorks Records.
Keberhasilan tersebut meningkatkan percaya diri Papa Roach untuk kembali merilis album penuh mereka. Album kedua mereka diberi judul Infest rilis di tahun 2000. Setelah rilis album keduanya, barulah Papa Roach mulai mendapatkan atensi yang cukup berlimpah dari para penikmat musik di Amerika Serikat dan Kanada. Atensi tersebut hadir berkat suksesnya single pertama mereka, Last Resort yang diputar di radio-radio sebagai materi promosi album terbarunya. Kesuksesan single perdana tersebut, membawa nama Papa Roach menduduki posisi pertama di tangga lagu modern rock versi Billboard. Selain itu, albumnya juga masuk ke dalam peringkat 5 besar di chart album 200 Billboard. Kesuksesan album kedua Papa Roach juga membawa mereka mendapatkan penghargaan platinum di tahun yang sama.
Gencar berpromosi untuk album keduanya tersebut, Papa Roach melakukan rangkaian tur dan hadir sebagai pengisi acara untuk festival musik ternama. Di tahun 2000 Papa Roach berhasil menembus festival musik alternatif Vans Warped Tour, serta ikut meramaikan rangkaian konser The Anger Management Tour bersama Limp Bizkit dan musisi hip hop ternama, Eminem, E-40, Xzibit, hingga Ludacris. Ketenaran Papa Roach juga membawa nama mereka keluar dari benua Amerika. Di tahun 2001, Papa Roach mendapatkan kesempatan untuk mengisi panggung Ozzfest sebagai bintang utama. Ozzfest merupakan rangkaian konser yang terselenggara di Amerika Serikat dan Inggris dan Papa Roach berhasil bermain sebagai main performer di kedua negara tersebut. Di tahun yang sama, Papa Roach juga kerap manggung untuk acara-acara yang diselenggarakan oleh MTV, baik secara off air atau on air. Keberhasilan album Infest nyatanya masih terus membawa keberuntungan bagi Papa Roach. Di tahun 2010, Papa Roach kembali mendapatkan penghargaan platinum untuk ketiga kalinya. Penghargaan ini diterima berkat hasil penjualan album kedua Papa Roach ini berhasil menembus 3 juta keping di Amerika Serikat. Untuk penjualan total di seluruh dunia, Papa Roach mengantongi hasil penjualan sebanyak 8 juta keping hanya untuk album keduanya ini.
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 20/10/2020
0 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Please choose one of our links :