Tahun 2021 menjadi momen kembali eksisnya unit veteran grindcore asal Malang, Extreme Decay. Band yang terbentuk sejak 1998 tersebut merilis EP terbaru mereka yang diberi tajuk 'Antiviral'.
Awalnya EP ini dikeluarkan dengan format kaset pada Juli lalu yang bertepatan dengan perayaan Record Store Day 2021 yang digagas oleh Disaster Records pada 22 Juli lalu.
Mini album yang dirilis melalui Disaster Records dan berisi 5 track tersebut dirilis dalam format kaset dengan jumlah terbatas sebanyak 100 keping saja. Ravi selaku salah satu personil dari Extreme Decay menceritakan proses perilisan dari mini album terbaru tersebut.
“Sebenarnya, mini album kami ini materi sisipan yang muncul tiba-tiba di katalog Disaster Records. Kebetulan Disaster lagi merilis beberapa kaset pas momen RSD (Record Store Day – RED). Terus, kami tawarin saja karena kebetulan materinya sudah siap. Semuanya memang serba cepat dan mendadak”, dikutip dari sang gitaris, Ravi ketika diwawancarai oleh Rian Pelor di radio Play FM.
Tajuk ‘Antiviral’ pun sengaja diambil dari salah satu judul lagu yang termuat di dalam mini album tersebut. Menurut pihak Extreme Decay, pemilihan tajuk tersebut dilatarbelakangi oleh sebuah film dengan judul yang sama. Film tersebut pun menceritakan isu seputar kultur media sosial yang tidak sehat, pemujaan dunia selebritis, kultus idol, serta obsesi manusia akan hedonisme.
Sebenarnya, format kaset dari Antiviral sudah ludes terjual dalam waktu singkat, tidak lama setelah RSD digelar. Namun cerita lainnya adalah, EP tersebut akan dihadirkan dalam format piringan hitam 7” oleh Samstrong Records yang akan beredar di penghujung tahun ini. Kabar baiknya, akan ada tiga lagu tambahan yang masuk di dalam format tersebut.
Tak cuma itu, kabarnya Extreme Decay juga sedang menyiapkan materi-materi musik teranyarnya untuk persiapan menuju album penuh yang rencananya akan hadir di tahun 2022.
“Akhir tahun ini, kami akan kembali masuk studio rekaman dan menyiapkan materi album penuh untuk dirilis di tahun 2022. Pinginnya sih kami bisa menemukan variasi dan elemen baru lagi dalam komposisi musik Extreme Decay berikutnya”, tutup mereka.
Album ini akan menjadi lanjutan dari materi terakhir yang dilepas oleh Extreme Decay yaitu album 'Holocaust Resistance' pada 2010. Mereka menegaskan bahwa Extreme Decay tak pernah vakum, namun diakui bahwa butuh waktu untuk bisa berkumpul dan mempersiapkan segalanya.
"Extreme Decay sebenarnya tak pernah vakum. Kami masih cukup rutin kumpul bersama dalam satu band. Bahkan di tahun 2018 lalu kami menjalani tur mini di Bintan dan Singapura. Hanya saja, dalam dua tahun terakhir ini kami merasa sudah waktunya serius menyusun dan memproduksi sebuah EP atau rencana album baru secara penuh," ujar mereka.
Nah, sebelum EP Antiviral ini dilepas, Extreme Decay sudah lebih dulu melepas single yang masuk sebagai salah satu nomor di dalamnya berjudul 'Kolaps' pada 7 Juli lalu.
‘Kolaps’ adalah sebuah lagu berdurasi singkat yang tetap mempertahankan pacuan irama grindcore. Serta menyelipkan pengaruh kuat dari nada-nada crust, hardcore dan power violence. Ini bukti kalau Extreme Decay masih belum menunjukkan tanda-tanda untuk mengurangi kecepatan musik mereka. Bahkan mungkin lebih ngebut daripada sebelumnya.
Lirik lagu ‘Kolaps’ bercerita soal bencana ekologi. Tentang kondisi lingkungan yang semakin buruk dan mengalami proses percepatan kejatuhannya akibat ulah sebagian umat manusia yang tamak dan pola industri yang tidak berkelanjutan. Jika diamati dari seluruh baris liriknya ini mutlak lagu protes. Lagu yang selalu relevan dengan kondisi di belahan bumi manapun.
“Tidak ada yang menyangka kita akan berada di situasi seperti sekarang ini. Di saat kondisi menjadi semakin suram dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya,” ungkap para personel Extreme Decay merujuk pada pandemi Covid-19 yang masih melanda dunia dan belum kunjung berakhir.
"Sudah hampir dua belas tahun berselang sejak kami merilis album Holocaust Resistance. Setelah mengalami berbagai hal, akhirnya kami merasa ini saatnya untuk membuat sesuatu kembali. Melontarkan apa yang tertimbun di kepala kami selama ini. Dan tetap membuat rencana hingga beberapa waktu ke depan,” jelas mereka.
Formasi Extreme Decay saat ini diperkuat oleh Afrl (vokal), Ravi (gitar/vokal), Ruli (gitar/vokal), Anizar Yasmeen (bass/vokal), dan Eko (dram/vokal). Sejak mereka terbentuk dua dekade lalu, Extreme Decay sudah menelurkan beberapa karya rekaman album.
Di antaranya seperti 'Progressive Destruction (2000)', 'Sampah Dunia Ketiga (2002)', dan Holocaust Resistance. Mereka juga sempat melepas kompilasi bertajuk 'Grinding Assault' pada 2015 lalu.
Image source: Instagram/Extreme Decay
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 28/08/2021
14 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Ericka Adelia
06/02/2025 at 17:01 PM
Garindratama Harashta
07/02/2025 at 11:26 AM
EDI SASONO
07/02/2025 at 12:47 PM
EDI SASONO
07/02/2025 at 12:48 PM
Smard man
07/02/2025 at 16:53 PM
Rusdin
07/02/2025 at 20:47 PM
SUSILO UTOMO
08/02/2025 at 09:55 AM
DENNY ADHY NUGROHO
08/02/2025 at 11:24 AM
pujanadi
09/02/2025 at 15:27 PM
O Heni
09/02/2025 at 23:03 PM
Bur Zhan
11/02/2025 at 13:11 PM
Luthfi Purnama Guna Wibawa
28/02/2025 at 14:57 PM
Andriyan Yan
14/04/2025 at 00:39 AM
GRACE JELIA PUTRI TADETE
08/05/2025 at 06:08 AM