Sejak pertama kali didirikan di tahun 2008, Neon Gold Records memang mencoba untuk menghadirkan keunikan sebagai daya tarik mereka. Ketika label rekaman berdiri di kutub major dan independen, Lizzy Plapinger mendirikan Neon Gold Records untuk menjadi sebuah label rekaman yang berdiri di pasar butik. Berdirinya label rekaman asal New York City di pasar butik ini bukan sekadar istilah belaka. Sejak awal dibentuk Neon Gold Records memang sudah lekat dengan citra eksklusif.
Lizzy Plapinger selaku pendiri Neon Gold Records menginginkan agar label rekamannya hanya fokus merilis single dalam format piringan hitam saja. Konsep pemasaran tersebut yang membedakan Neon Gold Records dengan label rekaman di kutub independen maupun major label. Namun, jika dilihat dari nama musisi yang bernaung di bawah Neon Gold Records, bisa dibilang label rekaman asal New York City ini condong diasosiasikan sebagai label rekaman independen. Meskipun setelah satu tahun didirikan, Neon Gold Records memutuskan untuk bekerja sama dengan Columbia Records.
Sejak pertama kali didirikan oleh Lizzy Plapinger, Neon Gold Records memang sudah memiliki target atau pangsa pasar sendiri. Hal tersebut dibuktikan oleh Neon Gold Records melalui musisi yang tergabung di dalamnya. Musisi yang tergabung di dalam Neon Gold Records didominasi oleh musisi pop yang kerap kali melakukan eksperimen untuk karya-karyanya. Nama-nama musisi tersebut di antaranya adalah Passion Pit, Ellie Goulding, Marina, Gotye, Christine & The Queens, Charli XCX, Matt Maeson, dan Tove Lo.
Awal mula Neon Gold Records lahir di dalam sebuah asrama kampus tempat Lizzy Plapinger tinggal dan belajar. Di masa tersebut, dirinya mendirikan label rekaman Neon Gold Records bersama teman kuliahnya, Derek Davies. Keinginan mereka berdua dalam mendirikan sebuah label rekaman didasari oleh masa-masa remaja dari Lizzy Plapinger dan Derek Davies. Keduanya tumbuh besar di tahun 1980-an dan cukup sering membuat album mixtape. Kegiatan tersebut dilakukan oleh pendiri label rekaman Neon Gold Records dengan membuat kompilasi berdasarkan lagu dari musisi favorit mereka. Dari situ, mereka mendistribusikan kompilasi lagu kepada teman-teman mereka sebagai sarana memperkenalkan rekomendasi lagu baik baru maupun lawas.
Di masa kuliahnya, kedua pendiri Neon Gold Records tersebut juga mendapatkan kesempatan untuk magang di berbagai label rekaman, seperti Vice Records dan AAM. Meskipun dianggap sebagai label rekaman dengan cakupan yang tidak terlalu luas, label rekaman tersebut fokus untuk menjangkau audiens muda yang sesuai dengan usia kedua pendiri Neon Gold Records tersebut. Lizzy Plapinger mengakui bahwa dirinya juga ikut terlibat dalam produksi acara media di kampusnya. Sehingga dirinya memahami dinamika anak muda sebagai insight untuk membangun Neon Gold Records.
Pop jadi landasan genre yang dipilih oleh Neon Gold Records. Pasalnya ketika mereka mendirikan label rekaman tersebut, musik pop menjadi salah satu genre yang kurang diminati oleh anak muda dan anak kuliahan. Banyak di lingkungan mereka lebih menyukai musik-musik rock, metal, serta eksperimental. Mengetahui ada celah di ranah musik pop, akhirnya Neon Gold Records berdedikasi untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda demi kembali menarik minat anak muda untuk mendengarkan musik dari genre tersebut.
Sepanjang perjalanan karier dari Neon Gold Records, label rekaman yang dibentuk oleh Lizzy Plapinger tersebut juga diasosiasikan sebagai organisasi yang berhasil menemukan dan mendukung proses distribusi karya dari musisi-musisi berkualitas. Di antaranya adalah Vampire Weekend, Lana Del Rey, Chvrches, Grouplove, hingga Walk the Moon.
Image courtesy of Josephine Cardoni
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 21/08/2021
7 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Smard man
28/01/2025 at 10:08 AM
GRACE JELIA PUTRI TADETE
22/02/2025 at 15:37 PM
Tiurnatalia Manalu
23/02/2025 at 19:42 PM
RIYAN MUTAQIN
08/03/2025 at 15:16 PM
AyuRL Ningtyas
28/04/2025 at 18:49 PM
elin
19/02/2026 at 07:47 AM
Yogi Putra Pratama
07/03/2026 at 10:57 AM