Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct Name
Please Select the gender
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
show password icon
  • circle icon icon check Contain at least one Uppercase
  • circle icon icon check Contain at least two Numbers
  • circle icon icon check Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
show password icon
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Kompleksitas di Balik Kesederhanaan

Langkah-langkah yang Koil lakukan selama beberapa tahun terakhir melunturkan image underground dan cult yang selama ini lekat pada mereka. Hal tersebut membuat para die hard fans Koil mundur satu demi satu. Berkurang atau bertambahnya kuantitas fans bukan soal bagi Koil. Bagaimana lagi, mereka memang tidak pernah berusaha menjaga fans. Koil lebih mementingkan berkarya dan melahirkan album dengan kualitas maksimum untuk mendulang kesenangan dan keuntungan.

Pembicaraan Tim SuperMusic ID dan J.A Verdijantoro (Otong) dan Leon Ray Legoh (Leon) dari Koil masih berlanjut ngalor-ngidul di Rumah Makan Legoh. Sambil duduk santai, mereka bicara soal apa istimewanya band mereka yang katanya paling tidak produktif, pemalas dan memiliki semua sifat buruk yang dimiliki sebuah band.

Dari awal terbentuk sampai sekarang, Koil hanya memiliki tiga album studio dan satu album reissue. Ini tergolong jumlah yang sedikit mengingat kalian terbentuk sejak tahun 1993. Apakah menurut kalian sedikitnya album ini menjadi indikator produktivitas Koil?

Otong: Iya, kita sih band paling tidak produktif se-Indonesia. Emang paling males dan enggak produktif dalam membuat musik.

Leon: Malasnya enggak dibuat-buat juga sebenernya. Akhirnya jatuhnya enggak produktif.

Tapi kalian setuju bahwa jumlah rilisan album bisa jadi indikator prodiktivitas sebuah band?

Otong: Salah satunya itu. Kalau band sering manggung, tapi jarang ngeluarin album baru juga, ya… kehitungnya enggak produktif, tapi mereka laku.

Leon: Band yang produktif setidaknya merilis lagu baru, album baru atau DVD gitu.

Kenapa Koil memilih jalan seperti sekarang ini?

Otong: Alasan nomor satu sih banyak gangguan untuk bikin lagu. Lagunya sih ada. Stok lagu banyak. Cuma pasti ada aja gangguan, kalau tahun ini ada yang dua lagi ngurus pernikahan, kita berdua ngurus restauran. Banyak deh.

Leon: Jadi bukan enggak mau produktif. Maunya sih produktif, tapi keadaannya enggak memungkinkan buat kita jadi produktif. Rencananya sih dari dulu pengen ngeluarin album, ‘Ya, ayo, setahun atau dua tahun lagi kita ngeluarin album’. Tapi, akhirnya kepotong lagi, ketunda, ya akhirnya seperti ini. Akhirnya belum.

Kalau diperhatikan, jarak rilis ketiga album kalian memang tergolong lama. Selain ada gangguan tadi, apakah waktu tersebut memang digunakan untuk mengejar kualitas yang maksimal?

Otong: Kayanya lebih ke gangguan tadi. Kalau soal bagus, mau kita bikin cepat atau lama, sama aja. Enggak mungkin Koil ngeluarin album yang enggak bagus. Kita sadar diri, sampai sekarang belum pernah. Tapi, yang pernah terjadi, jaman dulu kita masuk album kompilasi Persib. Kita harus nyelesein dua bulan lagi. Nah, kita enggak bisa bikin lagu bagus dipatok deadline. Kita bisanya seselesainya. Itu pun rata-rata enggak dibikin barengan, berempat. Kalau bikin album, sebelum hasilnya bagus itu enggak akan kita rilis. Batasan kita berempat, kalau kita ke depannya bikin lagu dan lagunya enggak bagus, kita enggak akan pernah rilis lagu itu. Kalau kita rilis album, itu adalah hasil maksimum dari kita. Tapi, kita cukup sombong dengan hasil lagu Koil yang sudah bisa dinikmati orang-orang.

Apa yang kalian maksud dengan kata sombong ini sendiri?

Otong: Kualitas lagu-lagu Koil, misalnya album kita yang dirilis tahun 2001, kalau didengar tahun 2015, dari segi sound, lirik dan mixing tidak akan terdengar jadul, tidak akan terdengar out of date dari segi perkembangan teknologi dan jaman. Jadi, kalau kamu ngedengerin lagu Koil 2001 dibandingkan dengan band lain yang rilisannya 2001, mungkin CD band lain bakal terdengar sangat jadul.

 

"Keistimewaan kita bisa dibilang ada di jaman dulu, karena kita bisa bikin hasil karya yang melebihi jamannya."

 

Kenapa menjadi tidak out of date dari segi produksi kelihatannya sangat penting untuk kalian?

Otong: Kita mengerti tata cara membuat sound yang bagus. Dulu pola pikir kita canggih. Ya, kalau sekarang mah udah enggak canggih lagi. Secara semua teknologi udah ada, jadi jaman sekarang enggak perlu terlalu capek mikirin gimana si musik ini tetap up to date. Jaman dulu, sebelum tahun 2005, alat-alat dan teknologi masih sangat sederhana dan kuno. Keistimewaan kita bisa dibilang ada di jaman dulu, karena kita bisa bikin hasil karya yang melebihi jamannya. Untuk jaman sekarang, musik dan tata suara udah bisa kayak apa aja. Malah yang sekarang kita bikin berusaha meng-capture heavy metal 1980-an. Buat sepuluh tahun ke depan kita harap lagu-lagu Koil enggak out of date. Tapi gue rasa lagu Koil enggak akan out of date.

Leon: Kita pengennya membuat musik begini dengan kualitas seperti ini. Pas kita dengerin lagi musik kita yang dulu, ternyata masih sama kayak jaman sekarang. Teknologi sekarang udah edan sih.

Bicara masalah teknologi, sekarang sudah ada penjualan musik secara online, tapi justru kalian lebih memilih menggunakan rilisan fisik. Apakah kalian memang lebih suka cara-cara yang konvensional?

Otong: Kemungkinan besar ke depannya kita hanya merilis piringan hitam dan CD. Tapi, ada beberapa pihak yang minta kita merilis kaset. Tapi, kalau bentuk digital, kayak iTunes, kita enggak bisa jawab. Kita enggak pernah ngurusin.

Apakah kontrak kalian dengan label major tidak memengaruhi kebijakan penjualan secara digital?

Otong: Enggak. Kita masuk label karena mereka ingin merilis album kita yang sudah dirilis. Kita hanya kontrak setahun dan enggak ada yang istimewa. Persoalannya gini, kita ditawarin dan ternyata menguntungkan, menguntungkannya bukan dari segi uang sih. Kita juga bingung, pokoknya menguntungkan.

Lantas, apakah alasan kalian menerima kolaborasi/kerja sama dari Ahmad Dhani dan Charlie karena keuntungan juga?

Otong: Kita sebagian besar nerima karena diajakin teman sih. Tidak ada sesuatu yang besar di balik itu semua. Tidak ada konsep-konsep yang terlalu serius juga untuk hal tersebut. Semuanya karena yang ngajakin teman. Kalau pun bukan teman, kita pernah diajakin Dhani Ahmad. Kita enggak dapat uang juga, tapi bukan masalah uangnya. Dhani Ahmad kan musisi yang lumayan terhormat, walaupun mungkin banyak yang enggak suka. Tapi, menurut kita dia orangnya baik dan akhirnya kita bersahabat setelah projek itu. Enggak ada yang susah di balik itu.

Leon: Semuanya simpel, dia datang, suka musik kita dan terjadilah kerja sama itu. Efeknya gimana, ya, kita enggak terlalu mikirin juga.

 

"Fans kita enggak suka sama movement kita yang seperti itu. Jadi mereka senangnya, Koil adalah band underground dan cult. ‘Kalau kerja sama jangan yang begitu, dong, kerja sama tuh sama Burgerkill".

 

Setelah dijalani, efek seperti apa yang lebih banyak kalian terima?

Leon: Efeknya buruk. Cuma, pas pelaksanaannya kan kita enggak mikir. Misalnya kerja sama bareng The Fly. Karena mereka teman kita juga, ya kami terima. Kita enggak mikirin efeknya kayak apa.

Otong: Fans kita enggak suka sama movement kita yang seperti itu. Jadi mereka senangnya, Koil adalah band underground dan cult. ‘Kalau kerja sama jangan yang begitu, dong, kerja sama tuh sama Burgerkill’. Sementara yang ngajakin yang kaya gitu, yang ngajakin Charlie, Dhani Ahmad, ya kita kan enggak minta (tertawa).

Apakah kalian peduli dengan keinginan-keinginan fans? Misalnya soal image underground dan cult tadi.

Leon: Pedulinya karena kita mesti membalas aja kali, ya (tertawa). Karena kita mesti menjawab mereka.

Otong: Enggak tau sih peduli atau enggaknya.

Dalam sebuah wawancara, kalian pernah mengatakan Koil mencoba melakukan segala hal agar fans kalian terus-menerus berkurang. Apakah itu hanya humor belaka?

Otong: Kita enggak pernah tau fans kita bertambah atau berkurang, tapi kalau dimarahi fans sering. Apalagi sejak bekerjasama dengan Dhani dan Charlie. Bukan kerjasama sih, itu hanya bentuk kolaborasi, ya. Dua hal itu membuat.. kalau dari surat, email dan tanggapan di media sosial, kita dapat menyimpulkan hal ini membuat kita banyak kehilangan fans. Tapi kita enggak tau, secara statistik apa ini membuat kita kehilangan fans apa justru menambah. Yang jelas, die hard fans kita, follower kita jaman dulu, mereka berhenti ngikutin Koil karena hal-hal tadi. Kita enggak tau mau jawab apa kalau ditanya pertanyaan kayak gitu. Jawaban kita yang paling mending adalah, ya kita enggak peduli. Mau lu berhenti ngikutin Koil syukur, mau terus-terusan syukur, soalnya yauwis lah. Kita enggak punya amunisi untuk nyenengin lu. Kita enggak punya cara menyenangkan fans. Yang kita bisa adalah kita membuat lagu sebagus-bagusnya. Mau fans lama suka syukur, mau fans generasi sekarang suka juga syukur.

Memang kalian sejak awal ingin melakukan yang kalian suka dan kalian mau, bukan?

Leon: Ya. Kita kalau terlalu banyak memenuhi permintaan fans malah enggak bagus. Kerja kita enggak objektif lagi.

Otong: Kreativitas kita jadi seolah fans itu klien.

Leon: Kayak label lah, si label pengen musik Koil kayak gini gitu. Dari dulu label menyetir artis. Kalau fans kayak gitu juga ya sama aja. Kita enggak bisa memenuhi semua keinginan mereka. Yang bisa, kalau kita manggung terus ngajak foto-foto, hayu (tertawa). Sama-sama enak lah.

Sekelompok fans lebih suka image kalian yang cult dan underground. Apakah image ini memang terbentuk dengan sendirinya atau kalian sengaja membentuknya? Sementara di wawancara lain kalian pernah mengatakan memang tidak memiliki pakem indie.

Otong: Kita berempat aja punya visi yang berbeda, tapi satu yang menyatukan visi kita adalah kami ingin Koil ini mendatangkan uang. Terus kita enggak tau caranya. Hal yang paling kita enggak pengen itu… Di Indonesia banyak musisi yang di hari tuanya miskin. Mereka sering manggung, kamu tau Chrisye, kan? Chrisye, Ahmad Albar, mereka laku, tapi di masa tua enggak punya uang. Karena kita sudah tua, masa muda kita dihabiskan untuk manggung. Kita main band dari umur 20-an. Dua puluh tahun kita habiskan untuk manggung. Kalau band kayak kita kadang angka bayarannya bagus, tapi kita juga was-was takutnya angkanya enggak cukup waktu kita pensiun.

Yang kita pikirkan, gimana supaya band tetap jalan dan kehidupan di luar band tetap jalan dan gabungan dari itu semua membuat kita enggak jadi miskin. Itu konsep yang paling susah dari semuanya, biar semua berjalan dengan baik. Dengan hasil akhir, semoga kita berempat dan semua anak buah kita hidupnya mapan. Kebetulan kita rejekinya enggak kayak Noah dan Dhani Ahmad, dari main musik dan jadi seleb dapat angka yang besar. Yang lebih kita maintain tuh kerjaan kita sehari-hari. Main band tuh mengganggu perkerjaan sehari-hari. Main band mengganggu kita menjalani restauran. Padahal pemasukan kita yang paling mending kan dari restoran ini.

 

Sikap realistis Koil membuat mereka lebih memilih menutup mata dan telinga pada hal yang sia-sia. Di luar ketidakpedulian itu, mereka adalah band yang sangat mementingkan kualitas dan idealisme. Bermusik memang bukan segalanya, namun bagian dari kehidupan mereka yang juga dijalani dengan keseriusan. 

ARTICLE TERKINI

Tags:

#Koil #Interview

Article Category : Super Buzz

Article Date : 02/10/2015

Supermusic
Supermusic
Admin Music
Penulis artikel dan penggila musik rock/metal yang setiap hari ngulik rilisan baru, liputan gig, dan cerita di balik panggung band legendaris. Gue percaya musik keras itu bukan cuma suara, tapi energi dan gaya hidup. Konten gue disajikan dengan detail dan semangat yang sama garangnya sama musik yang gue bahas. Superfriends yang hidupnya nggak bisa lepas dari riff gitar dan gebukan drum pasti betah nongkrong di sini. Tiap artikel gue bikin biar lo ngerasa kayak lagi ada di depan panggung.

0 Comments

Comment
Other Related Article
image article
Super Buzz

The Dare Lepas Single Terbaru yang Berjudul Strangestreetfellows

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Super Buzz

Tampil di Jepang, Isyana Sarasvati Akan Kolaborasi Bareng Mantan Gitaris Megadeth

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Super Buzz

Milledenials Luncurkan Musik Video untuk Single Precious Me dan Feel Any Pain

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
Super Buzz

Break Out Day Fest Cirebon Berlangsung Super Seru!

Read to Get 5 Points
image arrow
1 /

Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive