Unit veteran grindcore asal Malang, Extreme Decay, melanjutkan momentum kembalinya mereka ke industri musik Tanah Air.
Setelah melepas EP baru bertajuk "Antiviral" pada Juli 2021, mereka kembali merilis ulang mini album tersebut ke dalam format piringan hitam 7". Kali ini, Extreme Decay bekerja sama dengan label rekaman Samstrong Records.
Rilisan berisi 7 nomor lagu ini sudah resmi beredar di pasaran sejak 15 Maret 2022 lalu. Extreme Decay bersepakat dengan Samstrong Records untuk merilis ulang mini album mereka ke dalam bentuk piringan hitam setelah rilisan awal mereka tahun lalu ludes terjual.
Terdapat perbedaan menyoal materi musik dari rilisan pertama dengan rilisan piringan hitam ini. Jika sebelumnya hanya berisi 5 lagu, Extreme Decay menambahkan 2 lagu baru yang belum pernah dirilis sebelumnya untuk format piringan hitam.
“Bedanya, kalau Antiviral format kaset itu berisi 5 lagu saja. Sedangkan dalam format vinyl ini ada tambahan dua lagu yang belum pernah dirilis sehingga total berisi 7 lagu. Salah satunya adalah lagu “Kolaps” yang direkonstruksi ulang oleh musisi noise asal Yogyakarta, Indra Menus.” ungkap Extreme Decay dalam keterangan resmi.
Meski begitu, Extreme Decay kembali memperlakukan rilisan mereka kali ini dengan eksklusif. Piringan hitam 7" untuk EP Antiviral ini hanya dicetal terbatas dalam 250 kopi saja.
Mereka membaginya kedalam 2 warna plat, yaitu hitam dengan hanya 150 kopi dan warna oranye dengan hanya 100 kopi yang sama-sama dibanderol dengan harga Rp 200.000,-.
Sebetulnya, rencana untuk merilis mini album ini ke dalam format piringan hitam sudah tercetus sejak tahun lalu ketika pertama kali merilis Antiviral. Namun, rencana itu nyatanya harus mundur karena beberapa hal.
Materi mini album Antiviral dalam format piringan hitam ini juga telah mengalami proses remixed dan remastered yang dikerjakan oleh Yobbi Ananta di Grim Studio (Jakarta) pada tanggal 2-6 Agustus 2021 lalu.
Sebagai bagian dari promosi perilisan vinyl ini, Extreme Decay meluncurkan single baru “Invasi Pengerat” yang dikemas dalam wujud video musik garapan Dimas Tirta Arwana dan sudah bisa disimak melalui kanal YouTube Samstrong Records.
Adapun, mini album Antiviral pertama kali dirilis Extreme Decay pada 22 Juli 2021, bertepatan dengan perayaan Record Store Day 2021 yang digagas oleh Disaster Records.
“Sebenarnya, mini album kami ini materi sisipan yang muncul tiba-tiba di katalog Disaster Records. Kebetulan Disaster lagi merilis beberapa kaset pas momen RSD (Record Store Day – RED). Terus, kami tawarin saja karena kebetulan materinya sudah siap. Semuanya memang serba cepat dan mendadak”, dikutip dari sang gitaris, Ravi ketika diwawancarai oleh Rian Pelor di radio Play FM.
Tajuk ‘Antiviral’ pun sengaja diambil dari salah satu judul lagu yang termuat di dalam mini album tersebut. Menurut pihak Extreme Decay, pemilihan tajuk tersebut dilatarbelakangi oleh sebuah film dengan judul yang sama. Film tersebut pun menceritakan isu seputar kultur media sosial yang tidak sehat, pemujaan dunia selebritis, kultus idol, serta obsesi manusia akan hedonisme.
*****
Extreme Decay merupakan unit pengusung musik grindcore yang terbentuk di kota Malang pada tahun 1998. Sejak awal karirnya, mereka sudah langsung memproduksi berbagai karya rekaman dalam berbagai format.
Formasi Extreme Decay saat ini digawangi oleh Ravi (gitar/vokal), Ruli (gitar/vokal), Nizar (bass/vokal), dan Eko (drum/vokal). Sekarang, Extreme Decay sedang sibuk menyiapkan materi split album dengan Busuk yang akan dirilis oleh Unleash Records, proyek reissue salah satu album klasik mereka, serta materi musik terbaru untuk bakal album penuh Extreme Decay yang akan dirilis pada tahun 2022.
Selain mini album dan album split, Extreme Decay juga sedang menyiapkan materi-materi musik teranyarnya untuk persiapan menuju album penuh yang rencananya akan hadir di tahun 2022.
“Akhir tahun ini, kami akan kembali masuk studio rekaman dan menyiapkan materi album penuh untuk dirilis di tahun 2022. Pinginnya sih kami bisa menemukan variasi dan elemen baru lagi dalam komposisi musik Extreme Decay berikutnya”, tutup mereka.
Album ini akan menjadi lanjutan dari materi terakhir yang dilepas oleh Extreme Decay yaitu album 'Holocaust Resistance' pada 2010. Mereka menegaskan bahwa Extreme Decay tak pernah vakum, namun diakui bahwa butuh waktu untuk bisa berkumpul dan mempersiapkan segalanya.
"Extreme Decay sebenarnya tak pernah vakum. Kami masih cukup rutin kumpul bersama dalam satu band. Bahkan di tahun 2018 lalu kami menjalani tur mini di Bintan dan Singapura. Hanya saja, dalam dua tahun terakhir ini kami merasa sudah waktunya serius menyusun dan memproduksi sebuah EP atau rencana album baru secara penuh," ujar mereka.
Image source: Instagram/Extreme Decay
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 12/04/2022
17 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Ald /
12/10/2024 at 17:24 PM
Riani El
26/11/2024 at 09:42 AM
AyuRL Ningtyas
18/01/2025 at 18:30 PM
O Heni
09/02/2025 at 23:05 PM
Julia Margaret
09/02/2025 at 23:24 PM
SAWI TRI
10/02/2025 at 16:37 PM
SAWI TRI
10/02/2025 at 16:37 PM
Luthfi Purnama Guna Wibawa
28/02/2025 at 14:55 PM
GRACE JELIA PUTRI TADETE
08/05/2025 at 06:08 AM
SEPTIAN DWI NUGROHO
09/05/2025 at 13:28 PM
Heri Suprapto
16/05/2025 at 08:48 AM
RAJIN SILALAHI
17/08/2025 at 11:07 AM
Budi Nurcahyo
14/10/2025 at 09:41 AM
Muhamad Saifudin
27/10/2025 at 20:01 PM
EMIR MUHAMMAD
10/01/2026 at 13:55 PM
RENI HENDRAYANI
10/01/2026 at 16:00 PM
Muhammad Rafli Maulana
07/03/2026 at 16:06 PM