Extreme Decay merilis ulang salah satu album legendarisnya, Sampah Dunia Ketiga. Album ini sudah seumuran anak kuliahan, alias 20 tahun. Sampah Dunia Ketiga dilepas ulang dalam format piringan hitam (vinyl) oleh Disaster Records, Snakecharm Records, dan Samstrong Records. Tahun 2022 ini, album Sampah Dunia Ketiga dirilis oleh Extreme Souls Production (ESP) dalam bentuk kaset dan CD-R berjumlah sedikit. Album ini sendiri direkam di Natural Studio Surabaya pada April 2001 silam.
Saat album Sampah Dunia Ketiga lahir, eksistensi Extreme Decay juga lagi naik daun, energinya besar sekali. Usia juga masih muda. Lajang pula, bebas mau ngapain aja. Formasi mereka saat itu adalh Afril di vokal, Ravi di gitar, Yuda di bass, dan Eko di drum. Yang namanya masih muda, mereka masih cenderung keras kepala dan punya semangat yang meluap-luap. Mereka juga terus mengusung jalan hidup “do it yourself” dan juga sikap cuek yang tidak tedeng aling-aling.
(Sumber foto: Dok. Extreme Decay - Press Release)
Eko bercerita tentang proses rekaman bertahun silam. "Rekaman Sampah Dunia Ketiga ya di studio Natural, pakai live recording. Kalau ada yang salah ya ulang lagi dari awal. Pokoknya sehari kudu kelar waktu itu! Perangkat rekamannya masih analog banget. Saya saja saat itu masih belajar take drum pakai metronom," kenang Eko.
Visual di cover album Sampah Dunia Ketiga kala itu masih menggunakan foto yang dibajak dari internet. Mereka secara spesifik mengakui bahwa mereka terinspirasi oleh visual album Need to Control-nya Brutal Truth. Akhirnya, mereka pun memakai cara yang sama, dengan sopannya, menulis "Front picture stolen from Countingdays Poster" pada kreditnya. Pada zaman itu, memang kancah underground banyak yang menggunakan cara yang sama. Paparan informasi yang terbatas walau sudah ada internet gelombang pertama menjadi penyebabnya.
Afril mengungkap desain terbaru cover Sampah Dunia Ketiga. "Sekarang kita ganti pakai sampul yang baru dan orisinil." Lalu Ravi yang menangani departemen desain grafis menambahkan, "Iya, kalau desain yang baru ini aku garap sendiri. Konsep dasarnya ya tetap sama kayak yang dulu. Pakai foto yang aku olah sendiri di rumah."
(Sumber foto: Dok. Extreme Decay - Press Release)
https://extremedecay.bandcamp.com/album/sampah-dunia-ketiga
Kalau ingin tahu ada berapa lagu di dalam Sampah Dunia Ketiga, oke, kita bocorin. Isinya 26 lagu, tapi durasinya cuma 30 menit saja. Komposisinya kira-kira grindcore tradisional yang akarnya dari punk/crust di berbagai sisi. Wajar, mereka rajin mendengarkan Napalm Death, Brutal Truth, dan album-album punk atau hardcore klasik lainnya.
Tema liriknya spesifik. Hampir seluruh lirik dari 26 lagu yang ada isinya mengkritik isu sosial dan politik dari kacamata warga dunia ketiga. Mereka menyiratkan skeptis dengan retorika demokrasi, HAM, dan pemerintahan yang adil dan beradab.
Tidak ketinggalan, Extreme Decay juga merekam ulang lini Terror Reign dari Regurgitate (band goregrind Swedia) dan Condemned System dari Terrorizer (band grindcore Amerika) di album Sampah Dunia Ketiga ini. Tidak hanya sampai di sana, kedua lagu ini direncanakan akan menjadi bagian album tribut untuk kedua band tersebut. Nantinya, album tribut ini akan dilepas ke pasar internasional oleh salah satu label rekaman di luar negeri.
Album Sampah Dunia Ketiga punya andil besar dalam mewarnai kancah underground di kota Malang rentang awal 2000-an. Aktifitas bermusik jalur ekstrem mulai bermunculan setelah sebelumnya terasa sedikit sekali referensi dan akses informasi. Extreme Decay besar bersamaan denga tumbuh kembangnya semangat berkolektif dan memperluas relasi. Belum lagi rekaman dari label minor, gig, dan tur luar kota secara swadaya. Zine bermunculan, ada juga gogon (gosip-gosip underground). Gaya hidup ini didukung juga secara penampilan dengan berkembangnya distro dan clothing line.
Di medio masa itu, Sampah Dunia Ketiga lahir dan direspons dengan sangat baik. Ekspos didapatkan lebih besar setelah merilis Sampah Dunia Ketiga. Bahkan konon, Sampah Dunia Ketiga menjadi album esensial sebagai tolak ukur peradaban musik grindcore di Indonesia.
Sudah bernostalgianya, kita kembali ke rilisan ulang album Sampah Dunia Ketiga dalam format barunya. Medium yang akan digunakan untuk merilis ulang Sampah Dunia Ketiga adalah piringan hitam (vinyl) berukuran 12". Vinyl dirgahayu 20 tahunan ini akan dikemas dalam gatefold dengan seperangkat bonus stiker, poster, woven patches, dan liner notes oleh Samack—salah satu penulis yang mengawali budaya zine DIY di scene lokal. Keseluruhan materi lagu dimastering ulang oleh Yobbi Ananta di Grim Studio Jakarta.
Vinyl ini hanya ada 100 kopi dan dibanderol seharga Rp420 ribu dan sudah beredar sejak 1 September 2022. Selamat mendengarkan kembali album Sampah Dunia Ketiga!
Image source: https://www.instagram.com/extremedecay.grind/
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 25/09/2022
14 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Luthfi Purnama Guna Wibawa
26/02/2025 at 00:20 AM
Lukman Hakim
26/02/2025 at 08:36 AM
pujanadi
22/03/2025 at 22:19 PM
Andriyan Yan
13/04/2025 at 01:00 AM
Sitti Wahida
16/04/2025 at 16:05 PM
DEVI TRI HANDOKO
20/04/2025 at 09:15 AM
Cands
12/05/2025 at 23:05 PM
Muhamad Saifudin
07/06/2025 at 23:31 PM
Agus Sungkawa
19/06/2025 at 20:16 PM
Agus Sungkawa
19/06/2025 at 20:17 PM
MA Roz
12/08/2025 at 19:17 PM
Budi Nurcahyo
17/10/2025 at 09:13 AM
A. Kun n
10/11/2025 at 16:19 PM
Muhammad Rafli Maulana
07/02/2026 at 20:24 PM