Berdiri di tahun 2001, Efek Rumah Kaca berawal dari gagasan Cholil Mahmud, Adrian Yunan Faisal, Hendra dan Sita yang ingin memulai bermusik dan sepakat untuk membuat band bersama. Selang beberapa waktu, Akbar Bagus Sudibyo ikut bergabung di dalam tubuh Efek Rumah Kaca setelah diperkenalkan oleh teman mereka. Sebelum memutuskan nama Efek Rumah Kaca, band pop ini dikenal dengan nama Hush, lalu Superego. Dua tahun berselang setelah berdiri, Hendra dan Sita memutuskan untuk keluar dari band tersebut. Selanjutnya, Efek Rumah Kaca dikenal sebagai three piece band yang diisi Cholil (vokal, gitar), Adrian (bass, vokal), dan Akbar (drum).
Cholil, vokalis sekaligus gitaris di band ini pernah mengutarakan awal mula keinginannya bermain musik. Ketertarikannya untuk bermain musik itu hadir pada masa SMA. Cholil, frontman Efek Rumah Kaca saat masih duduk di bangku SMA yang kerap datang ke pentas seni SMA-SMA lainnya dengan kurasi band-band bagus menurutnya. Dari kebiasannya menghadiri gelaran pentas seni, membuat dirinya tertarik untuk membuat band dan terjun menggeluti dunia musik, hingga akhirnya ikut mendirikan Efek Rumah Kaca.
Menurut banyak orang dan penggemarnya, Efek Rumah Kaca merupakan band pop yang menyuarakan isu sosial, politik, serta budaya di dalam lirik lagunya. Lirik yang tersemat pada lagu-lagu band asal Jakarta ini kerap kali terdengar kritis namun puitis. Cholil sang vokalis mengaku bahwa dalam penulisan liriknya, pria tersebut cukup terpengaruh dengan karya-karya jurnalistik. Cholil pun menjelaskan bahwa sedari kecil dirinya gemar membaca koran. Menurut sang vokalis, saat dirinya menulis lirik untuk Efek Rumah Kaca output yang hadir lebih terkesan seperti sedang mewartakan atau mendokumentasikan sesuatu. Amarah jadi salah satu pemicu mengapa vokalis band ini terus menulis lirik-lirik yang bertemakan peristiwa-peristiwa di ranah sosial, budaya, dan politik, bahkan yang menyentuh ranah personal bagi para personel di dalam tubuh Efek Rumah Kaca.
Selama perjalanan kariernya di dunia musik, Efek Rumah Kaca telah melahirkan 3 buah album dan 1 mini album. Di tahun 2007 mereka merilis album self-titled sebagai debutnya. Di album perdananya, Efek Rumah Kaca terkesan tidak perlu berkompromi terhadap karyanya. Salah satu lagu yang populer di album ini hingga sekarang adalah Di Udara. Lagu Di Udara menceritakan tentang kematian pegiat hak asasi manusia, Munir. Di album yang sama, mereka juga memiliki lagu yang berjudul Cinta Melulu yang pada saat perilisannya sempat sering diputarkan berbagai stasiun radio di kota-kota besar. Untuk lagu Cinta Melulu, Efek Rumah Kaca menceritakan tentang fenomena ramainya permusikan Indonesia dengan band-band pop melayu saat itu, seperti Kangen Band, ST12, dan masih banyak band lainnya. Setahun berselang dari perilisan albumnya, Efek Rumah Kaca mendapatkan penghargaan The Best Cutting Edge versi MTV Indonesia.
Di tahun 2008, Efek Rumah Kaca kembali merilis album. Untuk album keduanya, Efek Rumah Kaca memberi judul Kamar Gelap. Salah satu single populer dari album ini adalah Kenakalan Remaja di Era Informatika. Sesuai judulnya, Efek Rumah Kaca merespon fenomena kenakalan remaja di saat arus informasi mulai masuk secara deras di Indonesia. Terkesan penuh kritis, namun lagu ini dibalut dengan pemilihan nada-nada yang jenaka, layaknya sebuah kenakalan. Single tersebut juga mendapatkan penghargaan Lagu Alternatif Terbaik versi Indonesia Cutting Edge Music Awards, sebuah ajang penghargaan di bidang musik non-mainstream. Di ajang yang sama, album Kamar Gelap dari ERK juga menyabet gelar album terbaik.
Efek Rumah Kaca baru bisa merilis album ketiganya di penghujung tahun 2015. Cholil yang melanjutkan studi dan kesehatan Adrian yang mulai membuatnya sulit beraktivitas jadi faktor dalam prosesnya. Album ketiga Efek Rumah Kaca diberi judul Sinestesia. Album ini menawarkan sesuatu yang berbeda di antara album-album lainnya. Judul lagu yang disematkan semuanya mewakili nama-nama warna. Durasi setiap lagu untuk album ketiga Efek Rumah Kaca ini juga dapat dibilang cukup lama. Semua track-nya memiliki lama pemutaran hingga 7 menit ke atas. Di album ini, mereka lebih memberikan ruang untuk Adrian dalam mengeksplorasi lirik-lirik yang dinyanyikan di keseluruhan album ini. Seusai album ketiga dirilis, Efek Rumah Kaca mengumumkan perpisahan mereka dengan sang bassis, Adrian Yunan. Kini posisi tersebut digantikan oleh Poppie Airil di dalam tubuh Efek Rumah Kaca.
Tahun lalu, tepatnya di bulan September 2019, Efek Rumah Kaca kembali lagi dengan sesuatu yang baru. Kali ini Efek Rumah Kaca untuk kali pertama merilis sebuah mini album. Mini album bertajuk Jalan Enam Tiga dari band ini menjadi pengalaman yang baru bagi band pop ini. Pasalnya, dalam pengerjaan album ini, Efek Rumah Kaca melangsungkan proses rekamannya di New York, Amerika Serikat. Nama judul mini album perdana ini diambil dari nama jalan di New York, 63rd Street yang kala itu baru saja berubah jadi Sesame Street. Jalan Enam Tiga juga bisa dibilang menjadi sebuah bentuk penghargaan dari Efek Rumah Kaca kepada Sesame Street yang terus berdedikasi dalam menyiarkan tayangan edukasi di Negara Paman Sam tersebut. Direkam pada saat musim panas, empat buah lagu yang masuk di dalam mini album Efek Rumah Kaca ini terdengar memiliki suasana yang ceria. Poppie Airil yang baru saja resmi bergabung di band ini juga ikut menyumbang dua buah lagu di dalam mini album tersebut.
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 11/10/2020
0 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Please choose one of our links :