Meddle adalah titik balik Pink Floyd.
Sebelum album The Dark Side of The Moon (1973), Wish You Were Here (1975), Animals (1977), dan The Wall (1979) menempatkan mereka sebagai grup rock legendaris, kuartet ini sempat pincang dan kehabisan ide usai ditinggal Syd Barrett, vokalis/gitaris sekaligus motor kreatif Pink Floyd.
Kreativitas Barrett di dua album awal Pink Floyd, The Piper at the Gates of Dawn (1967) dan A Saucerful of Secrets (1968) ternyata adalah dua sisi mata uang. Di sisi pertama, kreativitas dan komposisi Barrett mampu membangun kekhasan identitas Pink Floyd lewat warna psikedelia kental yang berpadu dengan aransemen pop. Sementara di sisi lain, pasca Barrett mundur karena penyakit mental, Pink Floyd tak lagi memiliki motor kreatif. Usai “Jugband Blues”, lagu terakhir Barrett bersama Pink Floyd direkam sebagai penutup A Saucerful of Secrets, kuartet asal London ini harus membangun band mereka dari awal.
[bacajuga]
Bergabungnya David Gilmour (gitaris/vokalis) dan eksperimentasi sonik adalah rute yang dilalui Pink Floyd. Tak tanggung-tanggung, eksperimentasi tersebut memakan waktu selama dua tahun dan tiga album, yaitu Ummagumma (1969), Atom Heart Mother (1970), dan More (1969) yang merupakan album untuk soundtrack film More. Benang merah berbagai eksperimentasi di tiga album tersebut adalah metode rekaman jamming, penekanan pada atmosfer album, dan usaha melepaskan pengaruh struktur musik Barrett. Semua elemen tersebut bertemu dan mencapai padu di Meddle.
Pink Floyd memulai sesi rekaman Meddle dengan persiapan nihil, tak bermodalkan materi baru atau komposisi yang telah disiapkan. Dalam memoar Inside Out – A Personal History of Pink Floyd (2005), Nick Mason (drum) menyatakan bahwa hasil rekaman sesi jamming mereka awalnya dinamai sesi Nothing, yang kemudian berubah menjadi Son of Nothings, dan dilanjutkan Return of the Son of Nothings. Setelah melalui sesi tersebut selama beberapa minggu, Pink Floyd akhirnya mulai mengerjakan Meddle.
Secara garis besar, Meddle adalah produk kerja kolektif. Lima lagu di album ini ditulis oleh dua atau empat personel, menyisakan nomor jazz-pop “San Tropez” sebagai satu-satunya lagu yang ditulis oleh Roger Waters (bass/vokal) sendirian. Kolektivitas tersebut adalah hasil dari berfungsinya kembali Pink Floyd sebagai sebuah tim, tak terdengar lagi bebunyian rumit Ummagumma atau instrumentasi kompleks Atom Heart Mother. Pola kolektif tersebut justru menampilkan komposisi musik yang variatif dan memunculkan sound dinamis dari awal hingga akhir.

“One of These Days” membuka Meddle dengan salah satu nomor hard rock terbaik Pink Floyd. Dentuman berat duo bass Gilmour dan Waters disambut ancaman Mason yang dipasang sebagai satu-satunya baris lirik, “One of these days I'm going to cut you into little pieces!” Setelahnya, solo gitar menyambar dan menutup lagu dengan penuh energi.
Energi besar tersebut ternyata bukanlah nuansa utama Meddle. Memasuki “A Pillow of Winds”, “Fearless”, “San Tropez”, juga “Seamus”, atmosfer gelap temaram muncul dan mengambil alih Meddle. Tiga nomor tersebut berhasil menciptakan nuansa khas yang juga menunjukkan betapa dinamisnya komposisi Meddle.
“A Pillow of Winds” adalah lagu akustik tentang permainan mahjong Gilmour dan Waters bersama istri mereka saat liburan di Prancis. Komposisi akustik pun akhirnya menjadi salah satu ide yang berkembang di album Wish You Were Here dan The Wall (1979). Pink Floyd menggunakan sound tersebut untuk menciptakan ballad yang mengisahkan tema-tema pribadi.
Salah satu keahlian Pink Floyd, yakni menggunakan suara koor massal dalam nomor anthemic dimulai di lagu “Fearless”. Lagu bertempo sedang ini memadukan lirik puitis dengan petikan gitar sederhana, yang ditutup oleh koor massal “You’ll Never Walk Alone” para Kopites (pendukung Liverpool F.C.). Pink Floyd mampu menggunakan koor tersebut untuk menyampaikan pesan ganda, yaitu kekaguman pada semangat Kopites (Liverpool adalah pesaing terberat Arsenal, klub favorit Waters, di final FA Cup dan liga primer Inggris di musim 1970-71), sekaligus uluran simpati untuk Barret. Metode ini menjadi embrio salah satu single Pink Floyd paling populer, “Another Brick In The Wall Part II”.
Dua nomor berikutnya adalah bentuk keunikan penulisan lagu di album Meddle. “San Tropez” adalah lagu jazz-pop yang berkisah tentang liburan mereka di selatan Prancis. Nuansa lembut dan santai “San Tropez” adalah jeda di antara mood temaram Meddle. Sementara “Seamus”, adalah lagu blues yang mengembalikan nuansa temaram, lengkap dengan lolongan anjing milik Steve Marriott (vokalis/gitaris Small Faces dan Humble Pie). Walau “Seamus” merupakan lagu yang sering dipilih sebagai lagu terburuk Pink Floyd di berbagai polling, menurut buku Saucerful of Secrets (1991), tapi ide penggunaan suara binatang sebagai penguat atmosfer (juga metafor) bahkan digunakan di sepanjang album Animals (1977).
Lagu pamungkas Meddle adalah “Echoes”, sebuah klimaks selama 23 menit, di mana Pink Floyd akhirnya selesai membentuk identitas musik mereka.
Strukur komposisi “Echoes”, lagu atmosferik berdurasi panjang yang penuh improvisasi dan bebunyian, bukanlah formula baru bagi Pink Floyd. Sejak album perdana mereka, Pink Floyd sudah menghasilkan beberapa lagu dengan formula serupa, yaitu “Interstellar Overdrive” (dari Piper At The Gates of Dawn), “Set The Controls For The Heart Of The Sun” (dari A Saucerful Of Secrets), “Quicksilver” (dari More), “The Narrow Way” (dari Ummagumma) and “Atom Heart Mother Suite” (dari Atom Heart Mother). Semua elemen terbaik dari segi sound dan aransemen lagu-lagu tersebut akhirnya mencapai bentuk terbaiknya di “Echoes”.
“Echoes” mengakhiri Meddle lewat bunyi ping bak sonar kapal selam yang muncul dari kedalaman laut. Warna dan mood “Echoes” membungkus Meddle dengan nuansa misterius yang membayanginya sejak awal. “Echoes” juga mewakili berbagai eksperimen instrumental Pink Floyd sebelumnya, dengan menyusun elemen-elemen terbaiknya (atmosfer, eksperimentasi, dan kolektivitas), dengan penulisan lagu (komposisi dan aransemen) ambisius.
Lirik “Echoes” juga memiliki kedalaman yang sebelumnya tidak muncul di baris-baris lirik Barrett dan Waters. Dalam dokumenter BBC: Pink Floyd – The Story (1994), Waters berkata bahwa tema lirik dan lagu “Echoes” adalah sebuah perjalanan, baik dalam dimaknai secara konotatif atau denotatif. Melalui lirik “Echoes”, Waters juga mulai memperkenalkan lirik khas Pink Floyd yang samar dan misterius.
“Strangers passing in the street
By chance two separate glances meet
And I am you and what I see is me…”
Sebagai lagu terpanjang ke dua dalam diskografi Pink Floyd, “Echoes” secara definitif menjadikan atmosfer dan nuansa sound Meddle menjadi identitas ‘baru’ mereka. Di album Meddle, Pink Floyd akhirnya usai bertransisi dari warna psikedelik ke progresif, dan di saat bersamaan mampu membentuk kekhasan sound dan struktur komposisi mereka. Gagasan untuk membentangkan satu komposisi melewati durasi sepuluh menit, akhirnya menjadi tulang belakang dari eksperimen Pink Floyd di lagu “Shine On You Crazy Diamond” (yang dipisah dalam dua bagian di album Wish You Were Here) dan album The Dark Side of the Moon dan The Wall (satu komposisi panjang, tak terputus yang dibelah menjadi beberapa lagu). Meddle memuat embrio berbagai ide dan konsep yang akan melambungkan Pink Floyd sebagai band rock legendaris.
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 20/04/2017
0 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Please choose one of our links :