Meskipun dengan masifnya penyebaran informasi dan kreativitas melalui internet dan smartphone, membuat album musik tidak semudah yang kita bayangkan. Selama tiga tahun dari 2019, rintangan dan rintangan terus menghajar Closure sampai babak belur dalam proses pembuatan album berjudul Innocence
Closure adalah band post-punk asal Kota Malang. Mereka telah menghadapi ujian demi ujian di "development hell", kalau kata mereka. Ini dimulai dengan drama kehidupan ketika file audio terhapus saat sedang merekam di rumah, dan setelah memulihkan sisa file, ternyata file tersebut masih menderita virus ransomware. Closure baru saja merilis 3 sampler lagu di Spotify. Namun Dheka (vokal), Afif Amrullah (gitar), Ahmad "Biting" Ikhsan (drum), Axel Kevin (bass) dan Sabiella (gitar) bertahan sampai titik dimana akhirnya mereka bisa merilis album ini.
Sedikit perkenalan tentang Closure, mereka adalah salah satu amunisi kuat kancah musik Malang—dan sepertinya Malang memang tidak akan pernah kehabisan bakat. Closure baru berdiri pada tahun 2016, namun mereka cukup aktif merilis karya-karyanya. Kehadiran banyak teman baru di berbagai kelompok yang berpapasan dengan mereka (baik di Malang dan kemudian di kota-kota lain) terbukti telah membantu Closure untuk berkembang.
Sejauh yang Closure tahu, unit musik post-punk masih jarang di Malang. Di tahun 2009-2011 cukup ramai. Tapi kemudian menghilang entah kemana. Band yang seangkatan dengan Closure adalah Ultraviolence, itu pun condong ke genre coldwave.
Dari sisi musik, Closure mengaku lebih banyak mengambil inspirasi dari band-band Eropa. Nama-nama yang menginspirasi banyak proses kreatif Closure termasuk Human Tetris (Rusia), Motorama (Rusia) dan Soviet Soviet (Italia).
Garis perak terakhir datang pada awal 2020 ketika Closure memutuskan untuk merekam ulang di AA Studio milik Gege Praseta di wilayah Sawojajar, Malang. Tahun 2020 dan 2021 juga tidak berjalan semulus yang diharapkan karena pandemi memperburuk situasi dan membatasi pergerakan. Akhirnya album berisi 10 lagu tersebut selesai juga, termasuk 4 lagu yang dirilis dalam bentuk EP dan lagu lepas split, serta 6 lagu yang belum pernah dirilis.
Konsep general dari album Innocence sendiri bercerita tentang perjalanan hidup dari masa kanak-kanak hingga dewasa dan berdamai dengan dunia nyata. Konsep ini, yang dipengaruhi oleh teori psikoanalitik Fairbairn dan Winnicott, melihat anak-anak pada awalnya tidak bersalah dan murni, tetapi dapat kehilangan kepolosan mereka di bawah pengaruh stres atau trauma psikologis. Sepuluh lagu Innocence menceritakan kisah tentang trauma psikologis ini.
Lirik yang dibawakan juga lebih masuk akal daripada EP pertama karena menyentuh realitas pertumbuhan manusia, seperti problematika pubertas remaja di "Puberty". Atau dari penggalan lirik “I turned a blind eye To my first sin//At first i was alright, i was in my glory days//until I had it coming” liriknya menggambarkan rasa penasaran pada interaksi intim manusia yang mengarah pada pertobatan.
Bahkan muramnya kondisi psikosis "Postpartum" juga ditekankan lewat lirik “I’m accustomed to uncalm//Everything I do goes awry//I feel everyone hates me//My ears can't hold this sound, no more”.
Termasuk juga fenomena ekstremitas religi di lagu "Paradigm", di mana perbedaan bisa membuat orang menjadi merasa paling benar, yang terjabarkan di lirik “I, I can't trust you and your mind//You, you can't have, of what I find//Are you trying to avoid it?//To enlighten the ignorant.”
Tak lupa Closure juga menyentuh nostalgia masa kecil di lagu "Warehouse" yang sangat kentara di lirik “When we gather// You play along and build an imagination//When we were kids”.
Closure juga menyinggung impostor syndrome di "Pawn" di mana manusia terlalu larut dalam pergaulan hingga kehilangan jati diri yang secara gamblang tertuang di chorus “Do I chase this kind of response?//or am I slowly dumbed down by their smile//Do I chase this kind of response?//Or dumbed down by their smile?”
Berbagai variasi pada tema-tema ini menandai upaya Closure untuk mengeksplorasi berbagai tema seputar kehidupan manusia, baik yang ringan maupun yang gelap. Dengan demikian, konotasi post-punk di album Innocence tidak lagi identik dengan 'suram dan muram', tetapi lebih menyentuh banyak aspek kehidupan manusia secara komprehensif.
Perubahan emosi dan mood ini juga mewakili transformasi Closure, yang pertama kali terlihat dalam warna yang lebih terang dan sekarang mendung. Transformasi dari hari-hari awal yang penuh nuansa post-punk slavic telah menjadi lebih luas dan lebih kompleks, dengan pengaruh mulai dari kancah Manchester hingga ke kancah Australia.
"Innocence" berisi 10 lagu, yaitu "Paradigm", "Cold Room", "Resuscitated", "Post Partum", "Unbreakable Pleasure", "Warehouse", "Stray", "Puberty", "Pawn" dan "I'm Traveling Man". Closure kini di bawah naungan label rekaman Haum Entertainment, dan Innocence tersedia untuk didengarkan dan bisa dibeli di The Store Front.
Yuk, dukung musisi lokal dengan membeli rilisannya!
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 28/09/2022
13 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
RAHARDJO TEONOVI
06/03/2025 at 17:45 PM
AGUSTIN DWI CHRISTANTI
06/03/2025 at 17:50 PM
SRI YAYA ASTUTI
07/03/2025 at 17:22 PM
Muhamad Saifudin
27/05/2025 at 00:14 AM
zakief Nazmudin
02/07/2025 at 16:40 PM
Yohanes Hariono
15/07/2025 at 01:50 AM
Sofi .
18/07/2025 at 22:00 PM
Vivi
19/08/2025 at 12:19 PM
HARY PURNOMO
10/01/2026 at 13:35 PM
HARY PURNOMO
10/01/2026 at 13:50 PM
EMIR MUHAMMAD
10/01/2026 at 13:55 PM
RENI HENDRAYANI
10/01/2026 at 16:00 PM
Muhammad Rafli Maulana
07/03/2026 at 16:02 PM