Setelah sukses merilis album debut pada 2014, kuartet punk asal Jakarta, Blackteeth, meneruskan perjalanan dengan merilis album ke-dua, pada November mendatang. Album ke-dua itu akan dijuduli Bleki, memuat sembilan lagu. Dan bisa dipastikan, keseluruhannya terdengar ugal-ugalan.
Saat ditemui SuperMusic.id di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu, Satriyo selaku vokalis dan penulis lagu-lagu Blackteeth mengklaim album Bleki adalah wujud apresiasi terhadap respon pendengar musik mereka yang diluar ekspektasi.
“Gue enggak menyangka animonya besar. Sampai di daerah-daerah, mereka kadang upload video membawakan lagu kami, bahkan sampai pose telajang mengikuti foto-foto kami. Album ini kami dedikasikan buat mereka,” kata Satriyo.
Sebagai band, Blackteeth adalah wujud senang-senang yang sebenarnya. Bukan tanpa alasan, para personel mereka memang tidak terbebani apapun bermain dalam grup ini. Hasil itu tentu dapat tercium dari lirik mereka yang juga terdengar nakal, bengal, dan terkesan semaunya sendiri.
“Blackteeth ini band yang boleh enggak peduli. Main, ya main saja,” kata Coki Bollemeyer, gitaris Blackteeth yang juga dikenal sebagai bagian dari NTRL.
Hal senada juga diungkapkan Eno Gitara, sang drummer, “Bisa dibilang, band ini enggak ada tantangannya.” Tukas Eno disusul tawa rekan-rekan segrupnya.
Apa yang diungkapkan Coki dan Eno memang benar. Mereka cukup santai dalam menjalankan proyek musik ini. Urusan proses kreatif penulisan lagu, nyaris semua diserahkan kepada Satriyo. Bahkan sang vokalis telah membuat demo lagu, sehingga Jerry (bassist), Coki, dan Eno tinggal datang ke studio untuk menuntaskan sesi rekaman instrumennya dan melakukan aransemen minor.
Seperti di album debut, pada album Bleki mereka mengusung judul-judul catchy. Beberapa di antaranya adalah Pesta di Neraka, Sikat Boti Awas Mati, dan Belum Cebok.
Dua singel dari album ini telah dirilis lebih dulu, yaitu Anjing Kantor dan Setan. Dari dua nomor itu, telah dapat ditebak bahwa Blackteeth kembali menawarkan sesuatu yang sederhana, tanpa membuat pendengarnya harus pusing atau berpikir terlalu jauh soal lagu mereka. Bisa dibilang, musik yang mereka tawarkan juga untuk pendengar yang ingin bersenang-senang.
Walau demikian, Blackteeth tetap memegang benang merah sebagai grup punk. Kehidupan riil jalanan tak luput dari pengamatan mereka.
“Album ini masih mengangkat tema-tema sosial, ada cerita motor lawan arah di lagu Trayek. Bukan soal lawan arahnya, tetapi ini jawaban dari campaign Jokowi, kalau Jokowi itu “revolusi mental” kalau lagu ini menggambarkan revolusi mental (terpelanting),” jelas Satriyo.
Salah satu hal menarik dari album Bleki adalah lagu Anjing Kantor. Lagu dengan lirik sederhana ini seolah menjadi anthem bagi pekerja kantoran yang setiap harinya harus berjibaku dengan rutinitas dan kehidupan kota yang melelahkan. Anjing Kantor ternyata lagu “sekuel” dari Party Dog yang terdapat di album debut.
Sedangkan nomor Setan, ditulis Satriyo karena terinspirasi dari lagu-lagu seram dan grup cadas Kelelawar Malam.
“Gue pengin bikin lagu yang seram. yang bernuansa horor, tetapi kami band lawak. Di sini band paling seram itu Kelelawar Malam. Lalu bagaimana meng-capture sound horor ke musik Blackteeth, jadinya seperti ini.”
Jika di album debut gitaris Iga Massardi hadir sebagai musisi tamu, di album Bleki hadir Mono “Neurotic” memberi sentuhan Hammond di lagu Anjing Kantor. Dari segi teknis pengerjaan, Bleki memakan waktu sekitar dua bulan rekaman.
“Kami rekaman di Studio Masak Suara, take drum, take bass, dan take gitar sendiri-sendiri. Per instrumen rekamannya. Kalau di album pertama kami live recording, besoknya mastering, besoknya mixing. Jadinya tiga hari kelar. Tetapi kalau album ini, untuk rekaman saja memakan dua bulan,” papar Satriyo.
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 28/10/2016
4 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
pujanadi
05/03/2025 at 13:04 PM
Trisna Oen
19/08/2025 at 23:11 PM
zakief Nazmudin
13/10/2025 at 07:30 AM
Heni Oen
22/01/2026 at 23:58 PM