Album Review: HURT’EM - Condolence
Lawless Records
Nilai: 7.8/10
Condolence menghantam tanpa ampun, tanpa peringatan. Trio grind/hardcore asal Depok, HURT’EM, mampu menerjemahkan intensitas sebuah energi besar yang menolak ditumpulkan. Album perdana ini memperdengarkan bagaimana rasanya menjadi seorang pemadat kemarahan.
Dirilis oleh Lawless Records pada 27 Januari kemarin, Condolence terdengar seperti sedang berada di persimpangan antara grindcore dan hardcore modern pasca 2000-an. Aransemen padat dan cepat yang dibungkus pekatnya sound gitar berat adalah warna utama Condolence. Tanpa sedikitpun momen rehat, album ini bergerak liar ke satu titik intens melalui rute yang berbeda-beda.
Konsekuensi mempertahankan tulang punggung grindcore tanpa komposisi yang dinamis adalah lagu-lagu yang cenderung terdengar monoton, HURT’EM berhasil lolos dari jebakan tersebut. Riff-riff berat bernuansa dark hardcore menjadi senjata ampuh untuk menjaga tegaknya wall of sound, memungkinkan berbagai aransemen yang variatif untuk hidup di dalamnya.
Komposisi tersebut akhirnya memberi celah bagi nada-nada minor dan melodius untuk tumbuh lebat. Progresi tersebut tidak melemahkan musik HURT’EM, karena atmosfer yang dibangun justru menjadi semakin gelap. Nada minor yang menukik memaksimalkan kekuatan lagu-lagu seperti “Compulsion,” “Deceit,” dan “Condolence,” juga nomor mid-tempo “Avarice.”
Namun, ruang lebar di belakang wall of sound tersebut gagal dimanfaatkan dengan maksimal di lagu “Bleed” dan “Revelation.” Aransemen dua lagu tersebut terlalu bervariasi, berkelok ke berbagai arah hingga akhirnya menumpulkan intensitasnya dan berbuah kebisingan tanpa tujuan.
Sementara itu, “Neglect,” “Patronage,” dan “Fallen” malah mengandalkan kecepatan rentetan drum di atas riff-riff tebal untuk menghasilkan tenaga maksimum. Dua lagu tersebut adalah contoh terbaik kemampuan drumming Oces Rahmat (Carnivored) saat mengeksploitasi ruang sempit improvisasi lewat blastbeat berpresisi tinggi. Permainan Oces yang cepat dan keras dijembatani dentuman kasar bass Epan (Deth Krokodil) yang kemudian melengkapi raungan gitar Chuky (Slutguts & Beauty Killed the Beast). Tugas HURT’EM berikutnya adalah menggantikan posisi vokalis yang ditinggalkan Adul (Ancaman), karena vokalnya pun berkontribusi besar dalam menyalurkan energi setingkat tiga instrumen lainnya.
Condolence adalah perpaduan empat elemen tersebut; sebuah album debut bertenaga tinggi hasil pergesekan grindcore dan hardcore yang menyeret pendengarnya ke dalam gumpalan kemarahan.
Foto: Lawlessjakarta.com
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 31/01/2017
1 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Garindratama Harashta
20/07/2025 at 09:50 AM