Rich Brian, Niki, Joji, Warren Hue, hingga Keith Ape memiliki kesamaan antara satu dan yang lainnya. Seluruh musisi dengan latar belakang Asia tersebut bernaung di bawah 88Rising. Jadi, apa itu sebetulnya 88Rising dan mengapa mereka bisa menjadi salah satu kolektif musik besar di industri musik mancanegara saat ini?
Kehadiran 88Rising
Sean Miyashiro dan Jaeson Ma merupakan dua nama yang punya peran penting bagi lahirnya 88Rising. Pertama kali berdiri pada tahun 2015, kolektif sekaligus agensi musik di Amerika Serikat ini lebih dulu muncul dengan nama CXSHXNLY yang dibaca "cash only". Model bisnis dari kolektif musik ini adalah mencari talenta yang tengah naik daun dan memiliki nilai unik di jagat internet.
Metode yang Sean Miyashiro dan Jaeson Ma lakukan memudahkan mereka untuk menggaet talenta mancanegara yang membutuhkan ruang dalam mengembangkan potensi mereka di dunia musik. Brian Puspos, Dumbfoundead, Josh Pan, dan Okasian merupakan deretan artis yang pertama kali bergabung dan ikut mengibarkan bendera CXSHXNLY di industri musik internasional.
Di masa awal pembentukannya, Sean Miyashiro selaku salah satu pionir di balik 88Rising menginginkan sebuah kolektif musik yang khas. Dirinya ingin memastikan bahwa CXSHXNLY atau 88Rising bisa jadi unit yang ikonis. Tidak hanya untuk mewakili musisi asal Asia yang mencoba untuk eksis di Amerika Serikat dan dunia, tapi juga bagi masyarakat belahan dunia lain yang dianggap minoritas di industri hiburan.
Selang beberapa bulan sejak resmi mendirikan CXSHXNLY, Dumbfounded pun memperkenalkan karya dari Keith Ape, It G Ma. Sean Miyashiro pun menyukai karya dari musisi asal Korea Selatan tersebut dan langsung menghubunginya. Kesepakatan pun terjadi dan CXSHXNLY pun secara resmi merilis versi remix dari lagu It G Ma sekaligus mengundang A$AP Ferg, Father, dan Waka Flocka Flame sebagai kolaborator.
Ekspansi Asia
Setelah mulai memiliki pondasi yang kuat di Amerika Serikat, CXSHXNLY pun mulai melanjutkan ekspansinya dalam memboyong musisi dari berbagai belahan benua Asia. Pada tahun 2016, sekaligus meresmikan nama 88Rising, Sean Miyashiro dan Jaeson Ma pun merilis video klip dari Rich Brian, Joji, dan Higher Brothers.
Nama 88Rising sendiri diambil dari makna angka 8 pada kebudayaan Tiongkok yang berarti kebahagiaan. Dengan adanya dua angka delapan, kolektif dan agensi musik tersebut ingin agar apa yang mereka lakukan dapat memberikan kebahagiaan dua kali lipat baik bagi para penggemar dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Inisiasi Festival Musik
Pada tahun 2017, 88Rising mulai mempersembahkan pertunjukkan musik yang terdiri dari para roster yang mereka miliki. Event musik pertama yang mereka produksi digelar di Boiler Room, Los Angeles. Rich Brian, Joji, dan Keith Ape merupakan sederet nama yang memeriahkan acara musik tersebut.
Tidak berhenti di situ, setelah beberapa bulan 88Rising pun membuat sebuah aktivasi yang cukup menarik perhatian di media sosial. Mereka mengadakan pesta di sebuah rumah mewah di kawasan Beverly Hills untuk beberapa hari. Nama-nama besar yang ada pada roster mereka pun ikut serta membuat suasana jadi meriah. Higher Brothers pun ikut tampil secara virtual dari tempat tinggal mereka di Chengdu, Tiongkok.
Dengan nama mereka yang kini mulai memiliki basis penggemar yang besar di mancanegara, 88Rising pun mulai mengumumkan bahwa akan ada beberapa festival atau tur yang mereka siapkan untuk tampil di Asia. Seoul, Beijing, Shanghai, Chengdu, Bangkok, Singapore, Kuala Lumpur, Manila, dan Jakarta adalah kota-kota besar di Asia yang jadi tujuan aktivasi global tersebut.
Kelahiran Head In The Clouds
Di awal tahun 2018, 88Rising pun memperkenalkan Head In The Clouds untuk para penggemar mereka di seluruh dunia. Inisiasi pertama ini lahir dalam bentuk sebuah album kompilasi berisi musisi yang berada di bawah naungan mereka. Album kompilasi berisi 17 lagu tersebut berhasil mendapatkan atensi yang cukup positif.
Dari kesuksesan tersebut, di akhir tahun 2018 akhirnya Head In The Clouds jadi tajuk festival musik milik 88Rising. Festival tersebut pertama kali terselenggara di Los Angeles Historic Park. Album kompilasi Head In The Clouds II pun menjadi lanjutan langkah mereka untuk tetap relevan satu tahun kemudian.
Sebagai langkah promosi, 88Rising pun berencana untuk kembali menggelar festival HITC pada tahun 2020 dan Jakarta menjadi salah satu kota yang akan merasakan kemeriahan yang mereka tawarkan. Namun, akibat pandemi Covid-19. Acara tersebut pun harus batal terselenggara.
Kini di tahun 2022, Head In The Clouds Jakarta pun akhirnya akan resmi terselenggara. Sudah mengamankan tiketnya, Superfriends? Kalau belum, segera beli tiket HITC Jakarta sebelum kehabisan dan rasakan pengalaman festival musik yang tidak terlupakan pada 3 dan 4 Desember 2022 mendatang.
Image courtesy of Christine Yuan/Vice
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 17/10/2022
1 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Muhamad Saifudin
12/05/2025 at 21:57 PM