Pernah lihat musisi yang jago gambar?
Nah, kali ini Supermusic mengupas beberapa nama di kancah permusikan lokal melalui medium lain. Melalui musik, mereka menemukan ruang berkarya, sekaligus juga mengekspresikan diri. Namun, berkarya, berpesan, dan mengekspresikan diri tidak harus selalu melalui musik.
Sekarang, kita akan coba mengupas lebih dalam tentang mereka, namun bukan dari sudut pandang seorang musisi, melainkan dengan pendekatan seni visual. Berikut adalah jajaran musisi lokal yang juga berkarya di dunia seni visual. Jika kalian penasaran siapa saja mereka, dan bagaimana hasil gambar-gambarnya? Langsung saja simak artikel di bawah ini!
Arian 13/Arian Arifin
Nama yang satu ini sudah cukup ikonik, bukan? Tidak lepas dari Seringai dan Lawless—Arian 13, vokalis Seringai—adalah figur garda depan penyusun imaji Seingai dan Lawless.
Sebagai desainer/ilustrator yang selalu memasang karya di sampul-sampul album band besutannya, atau di koleksi t-shirt Lawless, Arian adalah nama prominent dalam dunia seni underground, terutama dengan estetika heavy music—yang bermuara dari kultur metal-punk. Bayangkan tengkorak, tombak dan gerombolan serigala.

Mengaku gemar menggambar sejak kecil, Arian menyusuri jejak musik beriringan dengan jejak “menggambar”-nya. Jeli melihat sampul-artwork album kerap mengantarnya ke arah musik-musik baru yang sependar dengan seleranya. Beigtu pula desain t-shirt/merchandise milik musisi favoritnya, bahkan hingga sekarang.
Gambar-gambar Arian menjadi medium untuk menyalurkan estetika Seringai dan Lawless. Melaluinya, karakteristik kedua entitas terkokohkan dan menjadi sebuah identitas matang terpatri di kepala kita. Diluar itu, ia juga sering berkolaborasi dengan brand-brand kenamaan melalui gambar-gambarnya. Jadi, aman tampaknya untuk menyatakan bahwa menggambar sudah menjadi ciri khas vokalis ikonik ini.
Farid Stevy
Farid Stevy dan band-nya, FSTVLST berasal dari kota Pelajar, Yogyakarta. FSTVLST sering dibandingkan dengan The Strokes—tidak salah, tapi tidak seutuhnya benar juga. Musiknya memang demikian, tapi semangat yang mengalir dari lirik Stevy berbeda dari apa yang ditulis Casablancas, pun juga penjiwaan di dalamnya.
Farida adalah seniman dengan jam terbang tinggi. Karya-karyanya tersebar luas di berbagai medium—mulai dari jalanan, café-café, atau menjadi logo brand, bahkan berhasil mendaratkan karya yang digunakan sebagai logo PT. Kereta Api Indonesia.
Dia juga seorang jebolan Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Indonesia di Yogyakarta. Sejak kecil, senimanlah yang ia bidik sebagai cita-citanya. Itulah sebabnya tidak aneh jika berbagai karya vokalis ini bisa menemukan celahnya di berbagai ruang yang kompetitif.

Beberapa pameran telah menjadi rumah karya-karya seorang Farid Stevy. Bahkan, ia sudah beberapa kali menggelar pameran tunggal. Di tahun 2016, ia meluncurkan pameran tunggal kelima berjudul Too Poor For Pop Culture, To Hungry For Contemporary—yang ia jadikan ruang berkarya untuk membicarakan hubungan antara seni kontemporer dan budaya populer.
Morrg/Indra Wirawan
Mengupas kancah grindcore bawah tanah lokal, aneh rasanya saat nama RAJASINGA tidak muncul di kepala kita. Bassis-vokalis trio grind asal kota Kembang ini—yang biasa akrab disapa Morrg—juga merupakan seorang musisi sekaligus ilustrator/seniman visual.
Sebagai seorang ilustrator dan personil band, sudah sewajarnya bahwa karyanya menjadi bungkus dari sampul-sampul materi musiknya. Morrg pun demikian, gambar-gambarnya mengemban tema gelap tapi melipir cartoonish, kerap dipercaya sebagai muka dari rilisan RAJASINGA.
Namun, kemampuannya menggambar juga menghantarkan karya-karya jemarinya itu ke sejumlah sampul rilisan band lain. Contoh Seringai, Komunal, dan Payung Teduh bahkan poster/merchandise konser Tame Impala tahun 2011, pernah mengenakan artwork rancangan Morrg.
Keahliannya dalam bidang tersebut juga kerap ia gunakan untuk menggarap poster-poster gigs. Lewat karakteristik mencolok dan khas, karya Morrg tentu memberi perspektif lebih terhadap apapun yang dia kemas;baik sampul album maupun poster konser.
Pepeng/Franki Indrasmoro
Naif, adalah salah satu kuartet pop terbesar di Indonesia saat ini. Sudah beredar cukup lama, adalah sebuah grup musik veteran yang disegani dan penampilan mereka tak pernah gagal menyulap keramaian. Namun, dibalik itu terdapat sejumlah personil yang juga gemar menggoreskan tinta.
Pepeng, penggebuk drum Naif, merupakan seniman yang namanya juga tenar melalui medium lain. Kalian bisa membaca namanya saat membalik-balik lembaran komik lokal, Setan Jalanan.
Sebagai musisi yang juga merangkap seniman, karya-karya jari Pepeng bukanlah sembarang jadi. Justru, karyanya sangat diminati audiens lintas generasi. Sebagai ilustrator, Pepeng menumpahkan keahliannya untuk menyusun novel grafis. Di sinilah lahir komik kenamaan Setan Jalanan.
Lulusan D3 Seni Rupa dan Desain di Institut Kesenian Jakarta ini sempat bekerja sebagai seorang ilustrator sebelum banting stir sepenuhnya bermusik. Selama masa kecilnya, Pepeng sudah aktif menggambar dan tak jarang menyabet gelar juara berbagai perlombaan-perlombaan.
Memantapkan diri sebagai komikus, Pepeng juga berhasil menggarap komik untuk anak-anak bertajuk Geng Bedug, yang dibidik untuk audiens yang berusia muda.
Dengan begitu, karya-karya Pepeng adalah karya penembus pasar berbagai usia. Hasil gambar yang apik berpadu dengan cerita dunia fantasi yang tidak pernah gagal menumbuhkan rasa penasaran tiap membacanya.
Nona Sari/Aprillia Apsari
Aprillia Apsari, seorang perempuan dibalik mikrofon terdepan White Shoes and the Couples Company, adalah seorang musisi yang pandai merupa gambar. Akrab dipanggil Sari, ia menyelesaikan pendidikan di jurusan Seni Lukis Institut Kesenian Jakarta, di sinilah kemampuan menggambarnya diasah semakin tajam.
Bersama kolektif Ruangrupa, Sari sempat memajang karya-karyanya melalui pameran bertajuk Hanya Memberi Harap Tak Harap Kembali. Berbarengan dengan beberapa seniman-musisi lain, merchandise dan artwork band besutannya juga kerap mengadaptasi lukisan Sari.
Sari juga dikenal kerap menggambar mural, ia pernah dipercayai oleh produsen jamu Nyonya Meneer untuk melukis kantor mereka. Selain mural, kalian juga bisa menemukan gambar-gambar dari Sari di papan longboard.
Sedikit mirip dengan estetika komik barat, Sari dan lukisannya itu memiliki karakteristik hangat dan ceria. Gambar-gambarnya biasanya mengangkat tema keseharian yang sederhana, namun dikemas dengan cara menarik dan simpel.
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 18/07/2019
22 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
DEVI TRI HANDOKO
20/02/2025 at 17:43 PM
Tiurnatalia Manalu
16/04/2025 at 01:38 AM
Muhammad Jodi Indra
22/04/2025 at 16:08 PM
Agus Sungkawa
25/04/2025 at 21:50 PM
AyuRL Ningtyas
29/04/2025 at 23:43 PM
nurhayat nurhayat
18/07/2025 at 17:58 PM
promotorrai promotorrai
18/07/2025 at 17:58 PM
Zahra Zahra
18/07/2025 at 17:58 PM
susiaatuti516 susiaatuti516
18/07/2025 at 17:58 PM
agustrisandi2134 agustrisandi2134
18/07/2025 at 18:22 PM
landadaratu Wulandari
18/07/2025 at 18:22 PM
ayurahani ayurahani
18/07/2025 at 18:22 PM
rajadongen rajadongen
18/07/2025 at 18:22 PM
pipin187 pipin187
18/07/2025 at 18:31 PM
myiphone507 myiphone507
18/07/2025 at 18:46 PM
Julia Margaret
24/07/2025 at 23:55 PM
Sofi .
07/09/2025 at 19:24 PM
Trisna Oen
06/10/2025 at 23:21 PM
Agus Samanto
16/11/2025 at 01:10 AM
Yogi Putra Pratama
16/12/2025 at 20:57 PM
EMIR MUHAMMAD
09/01/2026 at 22:30 PM
Muhammad
09/02/2026 at 12:53 PM