Satu dekade memang bukan waktu yang sebentar, lebih-lebih jika membahas usia sebuah album musik. Namun bagi beberapa album, 10 tahun bisa saja terasa seperti baru dirilis kemarin, terutama jika rilisannya merupakan karya yang monumental, berbeda dari yang lain, atau bahkan karena merupakan rilisan yang solid dan berkualitas tinggi--tidak aneh, semuanya sekaligus.
Dalam kesempatan ini, SUPERMUSIC telah menjabarkan lima album lokal yang tahun ini resmi berusia 10 tahun. Apa saja albumnya? Cek lengkapnya, di bawah ini:
1. Manimal - Sajama Cut
Pertama di daftar ini, adalah album nomor tiga dari unit indie rock asal Jakarta, Sajama Cut. Mengemas delapan nomor yang terbilang cukup “eksperimental” bagi musik indie rock di eranya, album yang menyusul The Osaka Journals dalam diskografinya ini menjadi sebuah rilisan yang memadu banyak pakem musik dari berbagai genre, meleburnya menjadi satu keutuhan yang berbeda dari album sebelumnya dan sejumlah peers-nya.
Manimal rilis 20 Oktober 2010, menjanjikan pengalaman mendengarkan musik yang menyegarkan, terutama dengan lirik konseptual yang jadi alternatif manis ditengah peredaran "musik indie" tanah air sewaktunya rilis, hingga sekarang ini. Apa yang disajikan Sajama Cut pada Manimal adalah lagu-lagu berkualitas yang dipatenkan oleh hembusan eclectic yang berhasil mendapatkan ruangnya sendiri.
2. Album Vakansi - White Shoes and The Couples Company
Berbicara indie pop lokal, tidak mungkin tak memuat grup yang satu ini. Sudah jadi pemahaman umum bahwa karya-karya dari White Shoes and the Couples Company itu terasa tak lekang oleh waktu. Album Vakansi pun demikian; sebuah kapsul waktu yang mengunjungi tekstur musik pop yang ramah dengan sentuhan masa lampau. Terkadang pahit-manis, terkadang gurih; namun selalu menawan.
Mengudara pada tanggal 6 Oktober 2010, hingga sekarang lagu-lagu dari Album Vakansi masih sering jadi pelarian banyak orang. Kualitas tidak bisa bohong, dan album ini jadi pembuktian yang tepat untuk pernyataan tersebut.
3. Ode Buat Kota - Bangkutaman
Di tahun 2015, Silampukau merilis sebuah album yang mampu secara adil dan layak menampilkan sebuah kota–dalam konteks ini, Surabaya–secara gamblang. Bagi sang ibukota, album serupa lahir di tahun 2010, dirilis oleh Jangan Marah Records. Adalah Ode Buat Kota milik Bangkutaman, yang dengan 10 nomornya berhasil jadi curahan kelewat jujur tentang kota Jakarta dan segala makro-mikro yang ada di dalamnya.
Salah satu magisnya, mungkin, adalah relevansi kekal yang dipikul album ini. Bagi setiap mereka yang mencoba peruntungan di kota yang penuh dengan godaan ini, Ode Buat Kota berlaku dua pihak: racun dan penawarnya sendiri; atas kesempatan, keuntungan, kesedihan, kegalauan, dan apapun yang hendak dicapai saat beradu dengan si metropolitan. Itupula yang membuat usia 10 tahun album ini terasa seperti baru kemarin sore kala jam pulang kantor.
4. Kelalawar Malam - Kelalawar Malam
Jawaban Indonesia untuk The Misfits hadir dengan kedatangan musik horror milik Kelelawar Malam, hal itu sudah lazim dilontarkan bagi mereka yang akrab dengan musik grup punk yang satu ini. Album self-titled mereka mendarat pada hari Halloween tepat 10 tahun lalu, dan mulai dari saat itu, kancah punk Indonesia memiliki hantunya sendiri–hantu yang siap menebar kengerian dengan twist kearifan lokal. Butuh contoh? Tanyakan pada Suzannakenstein.
Hingga sekarang, masih belum ada yang bisa menjatuhkan Kelelawar Malam dari pedestal tinggi horror punk Indonesia. Albumnya pun masih menjadi rilisan definitif bagi mereka yang ingin menjelajahi halaman-halaman kegelapan musik punk. Barangkali apa yang mereka katakan ada benarnya: bahwa terkadang, ide cemerlang bisa saja datang dari kegelapan.
5. The Story of Peter - Sarasvati
Menutup daftar ini, bahasan mistis masih menjadi tema utamanya. Berbeda dengan kengerian Kelelawar Malam yang ditawarkan melalui energi punk rock-a-billy yang menghentak, Sarasvati enggan kompromi. Mini album The Story of Peter dirils pada 22 Juli 2010, menjadi EP debut sang penulis yang juga merupakan eks personel dari unit elektronika kenamaan, HMGNC (kala itu Homogenic).
Rilisan ini mengisahkan kedekatan sang musisi/penulis buku dengan sosok-sosok gaib yang juga menjadi topik utama dalam banyak buku keluarannya. Ketika dirilis, ia mampu membuat bulu kuduk para pendengarnya berdiri, tidak aneh jika hal itu masih terjadi hingga sekarang. Album lokal mana lagi yang bisa menghadirkan respons serupa?
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 14/08/2020
23 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Nicolas Filbert Tandun
28/01/2025 at 15:06 PM
Agus Sungkawa
08/02/2025 at 19:50 PM
DEVI TRI HANDOKO
23/02/2025 at 22:58 PM
SARI ASTUTI
21/04/2025 at 17:55 PM
ERLAN SAPUTRA PRIADY
08/06/2025 at 16:31 PM
Vivi
15/07/2025 at 23:50 PM
Agus Samanto
16/07/2025 at 05:26 AM
Yogi Putra Pratama
17/07/2025 at 20:49 PM
AyuRL Ningtyas
18/07/2025 at 10:11 AM
Budi Nurcahyo
22/08/2025 at 08:30 AM
zakief Nazmudin
23/08/2025 at 09:46 AM
asep syaripudin
23/08/2025 at 10:01 AM
Ald /
23/08/2025 at 13:30 PM
Garindratama Harashta
23/08/2025 at 21:55 PM
pujanadi
25/08/2025 at 09:32 AM
SRI YAYA ASTUTI
26/08/2025 at 07:32 AM
GRACE JELIA PUTRI TADETE
02/09/2025 at 06:33 AM
Charlie Hutabarat
08/12/2025 at 09:34 AM
Yohanes Hariono
03/03/2026 at 08:59 AM
NOVAL RABANI
05/03/2026 at 22:56 PM
sahrul wijayadi
06/03/2026 at 10:49 AM
EMIR MUHAMMAD
11/03/2026 at 22:05 PM
RIZKY APRIAN
20/03/2026 at 21:20 PM