Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct Name
Please Select the gender
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
show password icon
  • circle icon icon check Contain at least one Uppercase
  • circle icon icon check Contain at least two Numbers
  • circle icon icon check Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
show password icon
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Archa

Ketenangan dan rasa khidmat menyeruak kepala ketika mendengarkan intro dalam harmoni lagu yang baru saja dirilis oleh Archa. "Ten" judulnya. Grup musik asal Maluku ini mengangkat tema tentang manusia.

Mereka adalah Delon Imlabla (bass), Jemmi Radjabaycolle (flute, tahuri, sequencer), Eirene Marpay (kalabasa, marakas, bells), dan Ryan Suneth (djembe, tifa, darbuka) yang memilih untuk terus menjelajahi kekayaan bunyi dalam ruang-ruang hidup yang alami, mencari-cari bunyi baru pada instrumen-instrumen tradisi/modern, dan mengutamakan kekuatan vokal dengan lirik dalam bahasa-bahasa tanah di Maluku sebagai bahan garapan untuk memenuhi ruang dengar kita dengan bunyi-bunyi yang mereka sebut “musik spiritual”.

Tanpa ada irama yang rumit, hanya butuh penghayatan dalam mendengarkan lagu ini. Fungsi lagu sebagai medium spiritual bisa kita rasakan. Usai dibuai dengan petikan gitar dan musik latar dalam “frekuensi spiritual” yang intens. Tetabuhan mulai masuk perlahan. Ritmis yang sederhana, bahkan mudah diikuti oleh bunyi “klak klok ” mulut dari seorang bocah 4 tahun yang ikut mendengarkan. Ia rapalkan ritmisnya berbarengan dengan lagu Ten.

Lagu Ten mengalun tanpa terasa hampir lima menit berlalu. Larik-larik pertama dari lima bait dalam lirik lagu Ten semuanya mengambil bentuk pertanyaan reflektif. Berangkat dari kesadaran kultural, lagu ini dengan sadar mengajak manusia untuk memandang jauh ke masa mendatang sambil mengatur dengan teliti langkah-langkahnya hari ini.

“Lagu Ten adalah refleksi terukur tentang tragedi sebagai sebuah kemungkinan. Mata air bisa saja berubah menjadi air mata, bila tanah habis terampas. Sejak semula, bumi adalah ibu yang melahirkan anak-anak manusia sebagai saudara. Akan tetapi persaudaraan itu pun dapat dengan mudahnya berubah menjadi perseteruan sia-sia, bila anak-anak manusia lupa pada ikatan sakral dan nilai-nilai luhur itu, lalu sibuk berlomba mengejar siapa paling besar di antara mereka,” jelas Jemmi.

Lirik lagu Ten ditulis dalam bahasa Teuwa, bahasa tua dari Yamahaipate, Negeri Ulahahan, di Pulau Seram. Chalvin Papilaya (1992-2023) menulis lirik lagu ini lalu menggarap musiknya bersama Archa yang waktu itu masih berformat trio (Delon Imlabla, Chalvin Papilaya, Art Waifitu).

“Dalam naskah terjemahan bahasa Indonesia yang ia tinggalkan, ada beberapa kata dan frasa-frasa kunci tetap disalinnya dalam bahasa Teuwa. Baru pada percakapan panjang dengan Art Waifitu, adik juga sahabat Chalvin, yang menemaninya selama di Negeri Ulahahan, Archa mendapat kejelasan tentang arti kata-kata, frasa, juga konteks kultural dan maknanya,” ungkap Jemmi.

Visi Archa, terutama perihal rambahan tema dan isu, sudah diletakkan oleh Chalvin Papilaya di dalam karya-karya awal yang digarapnya bersama Delon Imlabla. Archa sudah menggarap lagu-lagu dengan tema/isu yang penting/genting (manusia: material/spiritual, relasi-relasi manusia (konfliktual/harmonis), isu-isu kelautan dan kesejahteraan masyarakat pesisir).

“Chalvin telah tiada, tetapi keprihatinannya yang kuat pada sejarah Maluku, juga kegigihannya mengalami dari dekat situasi aktual manusia di negeri-negeri yang ia datangi, dan rasa hormatnya kepada sakralitas/keluhuran budaya telah menjelma napas bagi perjalanan bermusik Archa,” pungkas Delon.

Ten artinya menangis, dan itulah nyanyian pertama semua anak manusia. Lagu ini dipersembahkan kepada pendengar dan kepada kehidupan yang tak sekali dua kali harus kita tangisi, tetapi tetap kita cintai dan kita perjuangkan—seharusnya. Selamat mendengarkan di Spotify dan YouTube!

 

ARTICLE TERKINI

Tags:

#Album #Single

Article Category : News

Article Date : 12/08/2024

Supermusic
Admin Music
Supermusic
Admin Music
Penulis artikel dan penggila musik rock/metal yang setiap hari ngulik rilisan baru, liputan gig, dan cerita di balik panggung band legendaris. Gue percaya musik keras itu bukan cuma suara, tapi energi dan gaya hidup. Konten gue disajikan dengan detail dan semangat yang sama garangnya sama musik yang gue bahas. Superfriends yang hidupnya nggak bisa lepas dari riff gitar dan gebukan drum pasti betah nongkrong di sini. Tiap artikel gue bikin biar lo ngerasa kayak lagi ada di depan panggung.

1 Comments

Comment
Primadara Falsafi

Primadara Falsafi

02/04/2025 at 20:42 PM

Nice news!
Other Related Article
image article
News

Total "Kesurupan" Lewat Opus Terbaru Kelelawar Malam

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
News

Chord Gitar Slow Rock 90an Indonesia, Barat, dan Malaysia buat Pemula

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
News

Arti Tangan Metal yang Dipakai Anak Band, Ini Asal Usulnya

Read to Get 5 Points
image arrow
image article
News

The Waving’s Rilis Maxi Single “Ley Sin Voz”, Ketegangan Datang Tanpa Peringatan

Read to Get 5 Points
image arrow
1 /

Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive