Petualangan menembus budaya adalah salah satu petualangan yang pasti mengasyikan, dan juga menantang, bro. Petualangan yang menguak keindahan suku-suku yang berada tersebar di seluruh Indonesia ini juga ramai kerap dilakukan oleh para petualang.
Tidak hanya Suku Baduy saja yang sering mendapat sorotan, tetapi ada 7 perkampungan adat yang bisa lo kunjungi nih. Berbagai tantangan untuk sampai ke perkampungan adat tersebut, yang biasanya menjadi salah satu daya tarik dari petualangan ini.
[readalso url=18121]
7 perkampungan adat ini sudah cukup terkenal di kalangan para petualang, baik yang berasal dari Indonesia sendiri, atau dari mancanegara. Keindahan alam serta budayanya yang membuat para petualang ingin selalu kembali ke sana. Penasaran di mana saja 7 perkampungan adat tersebut? Sila simak bahasan kali ini, ya.
Kampung Adat Tarung – Sumba, Nusa Tenggara Timur

Kampung Adat Tarung – Sumba, Nusa Tenggara Timur. credit photo: wisataterindah.com
Kampung Adat Tarung adalah sebuah desa atau perkampungan kecil yang berlokasi di atas bukit dengan ketinggian 100 mdpl. Kampung yang dengan teguh memegang adat istiadat ini menjadi salah satu destinasi petualangan yang eksotis.
Lokasinya yang dekat dengan pusat kota di Suma, Nusa Tenggara Timur, membuat kampung adat ini cukup mudah untuk dikunjung. Keindahan alam serta berbagai macam upacara adat tradisional khas Kampung Adat Tarung ini menjadi salah satu daya tarik utama untuk para petualang.
Bangunan rumah yang cukup uniik ini juga menjadi salah satu daya tarik untuk para petualang. Tidak ayal, banyak para petualang yang senang untuk menumpang bermalam di kampung adat ini, untuk mendapatkan keseruan dan pengalaman yang ada di dalamnya.
Kampung Naga – Tasikmalaya, Jawa Barat

Kampung Naga – Tasikmalaya, Jawa Barat. credit photo: iklantravel.com
Tidak ada naga sungguhan, bro – Kampung Naga adalah sebuah perkampungan adat yang penduduknya masih memegang teguh adat istiadat di sana. Berlokasi di Desa Neglasar, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat – Kampung Naga mempunyai keindahan alam yang asri, karena dikelilingi oleh lembah yang subur.
Udara dingin yang ada di Kampung Naga juga menjadi hal yang menarik bagi para petualang yang datang dari perkotaan, sehingga udara dingin menurut mereka adalah hal yang langka. Kampung Naga mempunyai sebuah hutan, yang terlarang untuk dikunjungi.
Hal tersebut dikarenakan oleh keberadaan makam-makam para pendahulu mereka di dalam hutan tersebut. Sebagai wujud kehormatan, hutan tersebut tidak menerima sembarang orang untuk dikunjungi. Untuk sampai di Kampung Naga, setidaknya ada 439 anak tangga yang perlu lo lalui.
Huta Siallagan – Toba, Sumatera Utara

Huta Siallagan – Toba, Sumatera Utara. credit photo: tobadetour.com
Jika lo tengah berpetualang di Danau Toba, jangan lupa untuk sekalian mengunjungi Huta Siallagan. Kampung adat ini berlokasi di Desa Ambarita, Kecamatan Smanindo, Pulau Samosir. Secara harfiah, Huta berarti perkampungan, dan Siallagan adalah nama marga penghuni kampung tersebut.
Kampung adat ini cukup sering dan ramai dikunjungi oleh para petualang yang ingin melihat keindahan Tari Tor-or dengan patung Si Gale-Gale. Selain itu, kerajinan tangan seperti ikat kepala dan Ulos, adalah salah satu buah tangan yang diburu oleh banyak para petualang.
Luas perkampungan adat ini sekitar 2.400 meter persegi. Dikelilingi tembok batu yang disusun rapi setinggi 1.5 meter – 2 meter, lo akan kagum dengan bentuk bangunan yang ada di sini. Tembok batu tersebut juga berguna sebagai benteng dari gangguan binatang buas, atau serangan suku lain.
Wae Rebo – Flores, Nusa Tenggara Timur

Wae Rebo – Flores, Nusa Tenggara Timur. credit photo: telegraf.co.id
Berlokasi di ketinggian 1.200 mdpl, kampung adat Wae Rebo adalah salah satu yang paling terkenal di Indonesia. Desa misterius yang berlokasi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur ini kerap diselimuti oleh kabut tipis. Oleh karena itu, julukan kampung di atas awan melekat di kampung adat ini.
Suasana yang masih asri, dikelilingi bukit hijau yang tinggi, Wae Rebo cukup terisolir dengan perkembangan zaman di luar sana. Ketenangan yang hakiki sering dicari dan diburu oleh para petualang yang penat akan aktivitas dan rutinitas sehari-harinya.
Kearifan masyarakat lokal Wae Rebo juga menjadi salah satu daya tarik kampung adat ini. Tidak heran, jika Wae Rebo menjadi salah satu daftar perjalanan para petualang, yang harus mereka datangi. Selain panorama yang indah, kain tenun serta kopi khas Flores adalah cinderamata yang diburu oleh para petualang.
Suku Sasak Desa Sade – Lombok, Nusa Tenggara Barat

Suku Sasak Desa Sade – Lombok, Nusa Tenggara Barat. credit photo: beritaderah.co.id
Tidak jauh dari Wae Rebo dari Nusa Tenggara Timur, Suku Sasak Desa Sade yang berada di Lombok Nusa Tenggara Barat juga menjadi salah satu destinasi dari petualangan menembus budaya yang dicari banyak petualang.
Kesederhanaan serta kedamaian akan tradisi adat istiadat yang masih sangat kental akan mewarnai hari-hari lo saat berada di sini. Suasana pedesaan yang tenang, membuat keunikan dari budaya Suku Sasak ini perlu dilakukannya eksplorasi.
Kampung adat ini hanya terdiri dari 150 rumah saja. Selain beratni, masyarakat di kampung adat ini masih menjaga tradisi tenun mereka. Oleh karena itu, kain tenun hasil buatan asli Suku Sasak adalah cinderamata yang berharga bagi para petualang.
Kampung Ciptagelar – Jawa Barat

Kampung Ciptagelar – Jawa Barat. credit photo: infobudaya.net
Tidak jauh dari Pelabuhan Ratu, dan tepat di bawah kaki Gunung Halimun – Jawa Barat, Kampung Ciptagelar adalah salah satu kampung adat yang eksotis untuk dikunjungi. Masyarakat Sunda menghuni kampung adat yang masih sangat taat akan tradisinya.
Hanya dihuni oleh 76 Kepala Keluarga, Kampung Ciptagelar tetap menjadi salah satu kampung adat yang mempunyai daya tarik tersendiri. Tidak heran jika kampung adat ini kerap dikunjungi oleh para petualang, baik yang berasal dari dalam negeri, dan mancanegara.
Desa Tumori – Nias, Sumatera Utara

Desa Tumori – Nias, Sumatera Utara. credit photo: gustitravel.id
Hanya butuh kurang lebih tiga pulu menit saja dari Bandar Udara Binaka menuju Gunung Sitoli di bagian barat, lo akan menemukan perkampungan adat yang bernama Desa Tumori. Nama desa ini berasal dari sebuah pohon besar, yang diyakini sebagai salah satu bukti dari pendirinya di masa lampau.
Dilengkapi dengan 10 rumah adat khas Nias bagian Utara, perkampungan adat ini ditaksir sudah mencapai umur 50-120 tahun. Namun, sayangnya, berbagai rumah adat tersebut runtuh dikarenakan oleh gempa yang terjadi tahun 2005 silam.
[readalso url=18119]
Wah, bagaimana nih bro? Apakah sudah ada yang masuk ke dalam daftar perjalanan lo selanjutnya? Kalau iya, langsung saja siapkan budget secukupnya, berkemas dan langsung saja berangkat!
Feature Image - sukita.info
ARTICLE TERKINI
Article Category : Wilderness
Article Date : 18/06/2018
0 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Please choose one of our links :