Dari kebanyakan literatur yang ada, keberadaan Suku Korowai baru aja ditemukan dan diperkenalkan kepada dunia luar sekitar 40 tahun lalu di lubuk pedalaman Papua. Umumnya Suku Korowai tinggal di kawasan hutan sekitar 150 kilometer dari Laut Arafura. Sampai sekitar tahun 1975, Suku Korowai hampir tidak melakukan kontak dengan dunia luar. Mereka hanya mengenal diantara mereka dan beberapa suku di sekitar mereka saja
Nah, ini beberapa fakta unik sekaligus menarik tentang Suku Korowai yang ada di Papua, juga alasan kenapa mereka tinggal di atas pohon. Tentunya bikin lo semua tercengang bro! Simak yak!
[readalso url=21306]
Kondisi Pertama Kali Ditemukan

Image source: http://mytrip.co.id/
Konon, sebelum ditemukan, suku ini pernah mengalami masa kanibalisme yang mengerikan. Kontak suku Korowai dengan dunia luar pertama kali tercatat ketika misionaris asal Belanda Johannes Veldhuizen, secara tak sengaja pada 4 Oktober 1978.
Merasa diterima dengan baik, Johannes memutuskan untuk tinggal bersama dengan suku tersebut selama beberapa waktu. Selama tinggal di sana, dia berhasil mempelajari sedikit demi sedikit bahasa Awyu-Damut, bahasa tradisional suku Korowai yang digunakan sehari-hari. Setelah kontak itu, sekitar 1980 kemudian dibangun sekolah dasar dan klinik kesehatan rawat jalan.
Tinggal di Atas Pohon yang Tinggi

Image source: http://mytrip.co.id/
Ciri khas fisik dan penampilan suku Korowai tak ubahnya dengan suku lain yang ada di Papua. Namun, mereka salah satu suku di Papua yang tak mengenakan koteka. Sejauh ini tercatat populasi mereka kurang lebih ada 3.000 orang. Satu lagi, keunikan dari suku ini selain tidak menggunakan koteka, suku Korowai hidup dan tinggal di atas pohon yang tinggi. Rumah yang mereka buat biasanya terletak dibagian dahan dengan ketinggian mencapai 15-50 meter. Konon, selain untuk menghindari serangan binatang buas, suku Korowai membangun rumah di atas pohon juga bertujuan agar terhindar dari gangguan dari roh jahat. Mereka takut terhadap serangan roh jahat yang biasa disebut “laleo” atau iblis yang kejam.
Menurut kepercayaan suku Korowai, laleo merupakan makhluk menyerupai manusia yang menyeramkan dan berjalan seperti mayat hidup dan berkeliaran pada malam hari. Mereka percaya bahwa, semakin tinggi rumah yang mereka buat maka akan semakin terhindar dari gangguan roh-roh jahat.
[readalso url=21282]
Proses membuat rumah pohon

Image source: http://berita.baca.co.id/
Dalam pembuatan rumah di atas pohon ini, suku Korowai tidak sembarangan dalam memilih pohon. Mereka akan memilih pohon-pohon yang besar dan kokoh untuk dijadikan sebagai pondasi rumahnya, kemudian pucuk pohon tersebut digunduli dan dijadikan sebagai hunian rumah mereka.
Semua bahan yang digunakan untuk pembuatan rumah tinggi ini terbuat dari bahan alami, kerangka rumahnya pun terbuat dari batang-batang kayu kecil, sedangkan lantainya menggunakan cabang pohon. Kemudian, mereka memanfaatkan kulit pohon sagu dan daun hutan sebagai dinding dan atap rumahnya. Setelah itu semua bahan tersebut diikat menggunakan tali yang berasal dari ranting atau akar yang kuat.
Biasanya, pembuatan rumah pohon ini bisa memakan waktu sekitar tujuh hari, karena suku ini masih memegang teguh adat istiadat leluhurnya, sehingga sebelum mendirikan rumah tersebut suku Korowai akan melakukan ritual malam terlebih dahulu guna mengusir roh jahat. Rumah pohon ini biasanya hanya bertahan hingga tiga tahun lamanya, hal tersebut dikarenakan rumah mereka hanya menggunakan bahan-bahan alami saja.
Gimana nih bro? Pada berani dan mau nyoba nggak nginep di rumah Suku Korowai. Manjatnya aja udah PR banget pasti tuh ya, tapi menantang pasti bro.
ARTICLE TERKINI
Article Category : Wilderness
Article Date : 17/03/2020
0 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Please choose one of our links :