Setiap menjelang perayaan hari raya Idul Fitri, masyarakat yang berada di desa Lenek, kecamatan Lenek, kabupaten Lombok Timur, provinsi NTB akan menggelar suatu tradisi bernama festival Ngejot.
Festival Ngejot merupakan suatu tradisi memberikan makanan kepada keluarga, tetangga, tokoh adat, tokoh agama, pemimpin desa dan kerabat lainnya. Diketahui bahwa tradisi Ngejot di Lombok sudah berlangsung sebanyak enam kali setiap menjelang hari raya Idul Fitri di desa Lenek, Lombok Timur.
Berikut ini ada beberapa hal terkait tradisi Ngejot di Lombok yang bisa lo ketahui.
Bentuk Bakti Anak Kepada Orangtua
Image source: Dok. Istimewa
Tak hanya memperkuat silaturahmi, tradisi Ngejot disebut sebagai salah satu bentuk bakti seorang anak kepada orangtuanya. Kegiatan ini pun mulai menjadi upaya menguatkan etika atau adab anak kepada orangtua.
Memiliki Wadah Penyimpanan yang Khas
Image source: instagram.com/gayev_law
Masyarakat yang mengikuti tradisi ini akan membawa berbagai macam hantaran, berupa masakan maupun makanan lainnya.
Makanan yang dibawa akan diberikan kepada para kerabat serta tokoh-tokoh yang ada di Desa Paer Lenek. Makanna yang digunakan untuk hantaran akan dimasukkan ke dalam suatu wadah dulang yang disebut sampak.
Pesertanya adalah Perempuan
Image source: instagram.com/rischas_
Tradisi Ngejot di Lombok ditandai dengan hadirnya orang-orang di sebuah lapangan yang dijadikan venue acara. Uniknya, para peserta yang hadir dalam tradisi ini adalah perempuan, baik itu yang masih remaja hingga dewasa.
Para perempuan itu akan menyangga sampak yang ditutupi oleh tembolak di atas kepala. Tembolak sendiri merupakan penutup sampak yang terbuat dari daun lontar dianyam, lalu diberi pewarna merah.
Sungkeman Khas Lombok
Sungkeman menjadi bagian paling penting yang ada dalam tradisi Ngejot di Lombok. Dalam acara silaturahmi ini, masyarakat muda di desa Paer Lenek akan mulai memberikan penghormatan kepada para tetua Desa.
Selanjutnya, sungkeman atau penghormatan akan dilakukan kepada setiap anggota keluarga yang lebih tua, seperti kakek maupun nenek.
Tujuan dari sungkeman ini adalah untuk menghilangkan segala perbuatan buruk serta khilaf yang pernah dilakukan sebelum hari raya Idul Fitri. Sehingga, manusia yang telah melakukan sungkeman seolah telah terlahir kembali tanpa ada dosa karena semua perasaan buruk dan khilaf seakan sudah terhapus.
Penyerahan Jot-Jotan
Tak hanya sungkeman, hal paling penting dalam tradisi Ngejot di Lombok berikutnya adalah penyerahan jot-jotan. Jot-jotan merupakan sejenis sesajen yang berisi makanan ringan hingga lauk pauk khas desa Paer Lenek.
Sebelum mulai menyerahkan jot-jotan, para tetua adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat diwajibkan untuk berwudhu terlebih dahulu. Mereka akan berwudhu di suatu tempat khusus yang sudah disediakan oleh panitia acara.
Selesai berwudhu, para tokoh penting yang ada di desa Lenek akan berkumpul di sebuah tenda atau saung yang terbuat dari anyaman daun pohon kelapa. Saung bambu tempat berkumpulnya tokoh penting di desa ini disebut dengan pepaosan.
Selanjutnya, para pemuda akan menghampiri para tokoh penting desa sambil membawa jot-jotan serta sungkeman akan segera dimulai.
Jika penyerahan jot-jotan sudah selesai, biasanya para peserta akan berjalan beriringan, lalu mengantarkan sampak ke rumah keluarga masing-masing.
Itulah informasi seputar tradisi Ngejot di Lombok yang bisa lo ketahui. Tahun 2022 merupakan kali keenam tradisi Ngejot dilaksanakan. Tak hanya sebagai ajang silaturahmi setiap tahun pada hari Raya Idul Fitri, tradisi ini mengajak setiap orang yang ada di desa untuk saling tolong menolong antar sesama tetangga dan hormat kepada keluarga, terutama yang lebih tua.
ARTICLE TERKINI
Article Category : News
Article Date : 05/12/2022
Source:https://ntb.idntimes.com/news/ntb/muhammad-nasir-18/unik-tradisi-ngejot-di-lombok-cara-masyarakat-perkuat-silaturahmi
0 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Please choose one of our links :