Superfriends, sering nggak sih lo pusing mikirin strategi marketing apa yang cocok diterapkan buat campaign brand lo? Atau mungkin kadang udah capek-capek mikirin ide dan eksekusinya, eh malah kalah sama brand tetangga yang campaignnya kocak dan kayak bercanda. Eits, itu bukan sekadar bercanda loh! Ternyata campaign-campaign lucu itu juga ada taktik dan strateginya sampai bisa berhasil dan diingat sama customer. Namanya, humor marketing. Yuk pelajari sama-sama!
Kenapa Pilih Humor Marketing?
Image source: elements.envato.com/kegfire
Menurut penelitian, ada 3 milyar orang di dunia ini yang punya dan aktif di dunia maya untuk bersosial media, dan 60% diantaranya ternyata mengaku menggunakan media sosial untuk mencari kesenangan atau having fun. Nah, dari sini aja lo udah dapat gambaran, sebaiknya konten apa sih yang lo bikin untuk bisa bikin target market lo merasa happy? Yap, konten humor, konten yang banyak orang butuhkan di tengah kesibukan-kesibukan mereka yang membuat mereka pusing dan tertekan, di saat itu lah konten lo bisa menyasar target market lo!
Forbes bahkan mengeluarkan data, bahwa di tahun 2018, kata yang paling banyak dicari adalah “Meme”, dimana meme ini bisa mengekspresikan sikap atau perasaan, tapi dengan cara yang lucu dan menghibur. Lebih lanjut lagi ke arah marketing nih Superfriends, 47% orang di dunia ternyata lebih relate sama iklan yang jenaka, dan Harvard Business Review pernah mengatakan bahwa unsur humor dalam marketing ternyata bikin keinginan orang untuk membeli sesuatu itu bisa mencapai 18% loh! Wah, lumayan menjanjikan ya si Humor Marketing ini!
Cara Menyajikan Konten Humor
Image source: elements.envato.com/mimagephotography
Nggak boleh ngasal, bikin konten humor juga harus ada pertimbangan dan risetnya dulu, Superfriends! Karena konten humor ini semacam boomerang, kalau lucu dia akan lucu banget dan menarik perhatian orang sampai viral, tapi kalau garing, maka akan berdampak pada campaign brand lo selanjutnya. Lalu gimana caranya menyajikan konten humor supaya tepat sasaran dan diterima oleh masyarakat? Pertama, humor harus sesuai dengan demografi brand, karena apa yang menurut Milenial lucu, belum tentu dirasa lucu oleh Gen Z dan begitupun sebaliknya. Makanya, penting untuk tau siapa target audience lo, supaya bisa menyesuaikan angle humornya. Jangan sampai humor yang lo pikir akan lucu, malah sampai ke target yang kurang tepat dan jatuhnya malah merusak reputasi brand.
Kedua, humornya harus relevan dan datang dari karena kesamaan. Setelah lo tau siapa target lo, coba lo riset tentang keseharian mereka, apa aja yang mereka tonton, apa yang mereka makan, dan kegiatan lain yang bisa membuat humor lo jadi lebih relate sama target audience. Meski konten yang disampaikan berupa lelucon, mereka yang merasa relate, akan merasa bahwa brand lo dekat dan sangat mengerti mereka. Nggak usah bikin humor yang ribet dan perlu dipikirkan dulu baru bisa dimengerti, tapi cukup yang sederhana dan mengena. Karena tujuan lo bukan cuma bikin mereka tertawa, tapi membuat mereka menerima pesan yang ingin lo sampaikan.
Ketiga, be original. Nggak usah dibuat-buat, dan buatlah konten humor dengan berpegangan pada nilai-nilai yang brand lo miliki, supaya humor yang dihasilkan terasa dekat dan relevan dengan brand lo sendiri. Intinya, tetap tunjukkan value dari brand lo ya meski konten campaignnya bercanda. Good luck, Superfriends!
ARTICLE TERKINI
Article Category : News
Article Date : 28/04/2023
Source:https://www.instagram.com/dnvb.id/
0 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Please choose one of our links :