Oslo Ibrahim melanjutkan perjalanan bermusiknya dengan merilis EP (album mini) terbarunya yang diberi tajuk Cantaloupe. EP ini resmi dilepas ke publik pada 25 November 2022.
Sang solois kelahiran Makassar ini menamai EP terbarunya dengan Cantaloupe yang juga berarti melon jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Tentunya, ada alasan khusus mengapa Oslo Ibrahim memberikan nama tersebut untuk karya terbarunya.
Oslo mengaku bahwa melon jingga merupakan buah favoritnya. Lebih lanjut, melon memiliki banyak kandungan air dan memiliki rasa manis yang seimbang, dengan alasan ini lah ia menamakan albumnya dengan nama tersebut. Nama itu sangat menggambarkan isi dari ragam materi di dalamnya.
Dengan rasa manis yang ada di buah melon, maka EP Cantaloupe punya irisan yang sama dengan rasa buah itu. Oslo seolah-olah ingin keluar dari citra penyanyi galau yang sudah ia tunjukkan di lagu-lagu sebelumnya yang kerap diselimuti rasa kesedihan.
Berbeda dengan album mini Cantaloupe, para pendengar Oslo Ibrahim bakal menemukan sejumlah materi berisikan cerita mengenai indahnya rasa jatuh cinta.
“Apa yang baru di EP ini, EP ini membuat dua lagu tentang cinta, seperti yang kalian tahu, Oslo selalu menulis deretan lagu-lagu yang bernuansa sedih. Kini, ia mempunyai What Is Love dan Honey, yang ia harap bisa menambah ragam warna lain dari musiknya,” ungkap Oslo.
EP Cantaloupe sendiri menyajikan lima nomor termasuk dua nomor yang sudah disebutkan sebelumnya dan juga All My Friends Are Fallin’ In Love yang ia rilis terlebih dahulu di bulan Maret silam.
Adapun, EP ini menyusul perilisan EP sebelumnya pada 2021 yang bertajuk Strangers Again. Mini album tersebut mayoritas menghadirkan lagu-lagu soal kesedihan dan menangkap fenomena seputar kehidupan dewasa dalam fase quarter-life crisis. Faktanya, quarter-life crisis bisa menjadikan mereka yang mengalaminya merasa kehilangan arah dalam hidup. Tak menutup kemungkinan seseorang berujung mengalami depresi gara-gara quarter-life crisis.
Salah satunya tergambar dalam single berjudul Blanket Of Sadness yang menggandeng solois Randy Pandugo. Melalui lagu yang dirilis pada 6 Agustus 2021 ini, dua solois yang sama-sama mengagumi John Mayer tersebut mengisahkan perjalanan mereka dalam menghadapi quarter-life crisis. Lewat barisan lirik-lirik sendu yang bahkan terkesan muram, Oslo mendeskripsikan soal single ini.
Sebelum melepas single Blanket of Sadness, Oslo Ibrahim sudah lebih dulu merilis materi musik baru pada bulan Juli lalu berjudul Baby Don't Let Me Go yang membahas soal patah hati. Ya, punya sisi tema yang sangat berbeda dengan single Blanket of Sadness. Single Baby Don't Let Me Go juga menjadi bukti bahwa Oslo Ibrahim semakin eksploratif. Bila didengarkan lebih lanjut, lagu ini cukup berbeda dengan vibe elektro pop yang suram dan kelam dari album sebelumnya.
Kedua EP yang secara beruntun dilepas oleh Oslo Ibrahim ini juga menjadi tindak lanjut dari album debut studio Oslo yang dirilis pada 2020 lalu dengan tajuk I Only Dance When I'm Sad. Album ini hadir dengan sembilan nomor, dimana diantaranya sudah sempat rilis terlebih dahulu. Salah satunya adalah You Made Me Cry, yang juga turut menampilkan Romantic Echoes.
Perjalanan Oslo Ibrahim
Sebelum mengganti nama panggung menjadi Oslo Ibrahim pada 2018, dia sudah sempat berkarier lebih dulu dengan nama panggung Rio Riezky yang jauh lebih ngepop. Namun kini, dengan alter-ego barunya, Oslo Ibrahim semakin eksploratif dan berani untuk menjajal ranah baru di musik.
Oslo Ibrahim sempat merilis sebuah mini album bertajuk The Lone Lovers, yang juga menjadi langkah pertama dari identitas barunya. Semua yang Oslo jalani pada kehidupannya sebagai Rio Riezky adalah wilayah nyamannya, manifestasi dari rutinitas bermusik yang dia jalani sejak terjun beredar di skena musik yang bisa dikatakan “umum”. Lagu dengan intisari mudah cerna dan nada ramah telinga ciptaannya gamblang cocok dengan penikmat musik pada umumnya.
“Bukan berarti Oslo tidak bisa menciptakan lagu-lagu seperti itu lagi, tidak. Dengan Oslo pun saya tetap memberikan yang terbaik, tapi dengan mata koin yang berbeda,” kata Oslo.
“Keluar dari zona nyaman merupakan tantangan untuk saya, meninggalkan apa yang seharusnya tidak perlu untuk ditinggalkan. Tapi ketika hati bersuara lebih dominan dan evaluasi dari proses belajar hidup yang saya dapatkan, menjadi Oslo adalah tekad bulat. 100 persen," bebernya.
Image source: https://www.instagram.com/p/Ck-1A40v1W9/?hl=en
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 28/12/2022
10 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
MArsin
10/02/2025 at 14:18 PM
Muhammad Jodi Indra
20/03/2025 at 11:38 AM
Muhamad Saifudin
20/03/2025 at 18:48 PM
Mursalim m
25/03/2025 at 14:23 PM
Agung Sutrisno
09/05/2025 at 11:35 AM
FITA RUSMAWATI
10/05/2025 at 21:49 PM
FITA RUSMAWATI
10/05/2025 at 21:49 PM
Shella Monica
01/06/2025 at 22:08 PM
Heri Suprapto
27/08/2025 at 08:50 AM
Yohanes Hariono
15/10/2025 at 08:22 AM