Jika ditelisik lebih mendalam, musik soul dan funk di Indonesia merupakan salah aliran musik yang cukup dikenal sebagai musik dari kalangan masyarakat urban dan masyarakat menengah ke atas. Alasan tersebut yang kerap kali membuat musik soul dan funk sulit untuk menyentuh dan terdengar di audiens yang lebih luas dan beragam di Tanah Air. Namun hal tersebut lambat laun mulai mengikis dan para musisi yang berada di belakang genre tersebut mulai melakukan pergerakan yang lebih masif demi berhasil mengutarakan cerita atau pesan melalui karyanya. Salah satunya adalah The Last Suga.
Terbentuk di Surabaya pada tahun 2017, The Last Suga merupakan unit soul/funk yang masih terbilang muda. Namun jangan salah sangka, para anggota yang berada di dalam tubuh The Last Suga merupakan kumpulan musisi yang lebih dulu malang melintang di skena musik independen Surabaya. Pengalaman yang dimiliki oleh para anggota The Last Suga memungkinkan band tersebut untuk memaksimalkan segala bentuk aspek musikalitasnya agar dapat menyentuh hati para penikmat musik melalui balutan musik soul/funk yang mereka usung sebagai benang merah.
Tiga tahun berdiri, di tengah masa pandemi yang melanda, The Last Suga tetap berkomitmen untuk berkarya sepenuh hati hingga akhirnya dapat merilis sebuah album anyar berjudul Running With My Soul yang dirilis pada akhir Oktober lalul. Rilisan ini merupakan sebuah penanda bagi Milestone di dalam tubuh The Last Suga. Pasalnya, Running With My Soul merupakan album penuh perdana yang mereka rilis sejak tahun 2017 mulai bermusik bersama.
Untuk album penuh perdananya, The Last Suga yang beranggotakan Whawha, Pras, Eblaz, dan Deni, bekerja sama dengan sebuah label rekaman independen di Surabaya Smartest Bomb, dalam perilisannya. Kerja sama antara The Last Suga dan Smartest Bomb ini dinilai unik. Pasalnya, label rekaman independen tersebut lebih dikenal sebagai sebuah label yang kerap kali merilis karya-karya musik dari genre punk, oi, dan juga power pop. Jika diperhatikan, beragam rekaman yang dirilis oleh Smartest Bomb yang dekat dengan kaum pekerja terkesan kontras jika dibandingkan dengan kategori pendengar musik soul dan funk yang dikenal berasal dari masyarakat urban. Namun, melalui album ini The Last Suga ingin membuktikan bahwa lagu yang mereka ciptakan berhak dinikmati dan dimiliki oleh siapapun. Untuk mewujudkan hal tersebut, melalui Running With My Soul, The Last Suga menghadirkan komposisi musik soul dan funk yang menarik namun ringan untuk didengarkan.
Komposisi musik ringan yang disajikan The Last Suga melalui album Running With My Soul ini hadir dari cerita tentang perjalanan kehidupan yang mereka coba ungkapkan melalui lagu-lagu yang ada di dalam album tersebut. Melalui lagu di album perdananya, The Last Suga mengangkat cerita tentang cinta, harapan, mimpi, dan kesenangan. Tema-tema tersebut tampak jadi sebuah motivasi dalam menjalani hidup di tengah masa pandemi saat ini. Tema yang diangkat The Last Suga melalui album Running With My Soul tersaji apik dalam sepuluh lagu yang dipilih untuk mengisi album debut mereka.
Dalam proses penggarapan album ini, The Last Suga mengakui bahwa penulisan lagu mereka cukup dipengaruhi oleh karya-karya musik soul funk ikonis yang lahir dari James Brown, Ray Charles, hingga Stone Foundation. Melalui rilisnya album Running With My Soul, The Last Suga berharap lagu-lagu yang mereka ciptakan bisa jadi bagian yang selalu menemani perjalanan hidup para penikmat musik mereka.
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 04/01/2021
4 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
KARTIKA SAPUTRA
13/04/2025 at 15:41 PM
ERRI HARI WULANDARI
02/05/2025 at 16:43 PM
KARYADI KARYADI
30/05/2025 at 15:59 PM
DEVI TRI HANDOKO
03/09/2025 at 15:25 PM