Untuk sebagian orang, keadaan fisik bisa menjadi aset paling berharga dalam berkarya. Terlebih bagi musisi yang memegang instrumen musik. Fisik sempurna bisa menjadi anugrah, namun jika nasib berkata lain, yang manusia bisa lakukan hanyalah beradaptasi. Keterbatasan fisik dan cacat tubuh tidak menghentikan semangat juang para pahlawan musik Rock untuk terus berkarya.
Berikut para Rocker yang tidak mengenal kata menyerah dalam bermusik!

Rick Allen (drummer) – Def Leppard
Kalo bicara soal semangat bertahan hidup tinggi, mungkin tragedi yang menimpa Rick Allen bisa dibilang contoh paling kongkrit. Di sore hari tanggal 31 Desember 1984, drummer bernama lengkap Richard John Cyril Allen mengendarai mobil Corvette C4 bersama pacarnya model asal Belanda Miriam Barendsen di daerah pedesaan Sheffield. Ia terlibat kebut-kebutan dengan sebuah Porsche Alfa Romeo. Ketika mau melewati dengan kecepatan tinggi, ia kehilangan kontrol dan mengahantam pembatas jalan. Allen terlontar dari kursinya keluar mobil melalui bagian sunroof dan karena sabuk pengaman nya tidak terpasang dengan benar, tangan kirinya terputus seketika dari bagian pundak. Walaupun sudah tersambung di meja operasi, ternyata lukanya mengalami infeksi sehingga dokter harus memotong kembali tangan-nya.
Drummer kelahiran 1 November 1963 ini sempat mengalami depresi berat dan ragu-ragu untuk meneruskan karir musik-nya. Tapi karena dukungan personil Def Leppard lain, ia memutuskan untuk berjuang kembali bermain drum dengan satu tangan. Sejumlah insinyur direkrut untuk merakit modifikasi drumset dengan pedal hi-hat yang bisa juga digunakan untuk memukul snare. Setelah melewati serangkaian tur kecil dari pub ke pub, di bulan Desember 1986 Def Leppard sukses mengguncang festival raksasa Monster of Rock di Donnington Castle, hanya 20 bulan setelah kecelakaan Allen. Setelah titik ini, mereka merilis Hysteria, album terpenting dalam karir mereka di tahun 1987 yang terjual hampir 25 juta kopi di seluruh dunia dan menempatkan Def Leppard sebagai salah satu band Rock garda depan di dekade 80an.

Jerry Garcia (gitaris) – The Grateful Dead
Di era keriuhan tekanan sosial politik negara Amerika dekade 60an, ada banyak gelombang protes dari band dan musisi yang aktif memperjuangkan hak asasi dan kebebasan berpendadapat warga-nya. Kota San Fransisco jadi titik sentral perlawanan kultur dari para seniman dan musisi, dan gerakan ini dipimpin oleh band psikedelik The Grateful Dead dengan gitaris Jerry Garcia sebagai pemimpin-nya. Menyodorkan kombinasi blues, rock n roll, country dan bluegrass, ditemani lirik dengan tema perdamaian, ekspansi spiritual dan pernyataan humanis, Jerry dan band-nya dianggap sebagai juru bicara generasi muda yang ingin bebas dan progress di tengah krisis negaranya.
Tapi semua pencapaian tadi ternyata harus melalui banyak tragedi dalam hidup Garcia. Di usia 4 tahun saat liburan camping keluarga, ia kehilangan 2/3 ruas jari tengah kanan-nya dalam kecelakaan saat kakak-nya akan membelah kayu dengan sebilah kampak dan tidak sengaja memotong jarinya. Setahun kemudian di tahun 1947, ayahnya tewas tenggelam saat memancing di sungai Trinity, California. Lalu di umur 19, Garcia mengalami kecelakaan mobil bersama 3 orang teman-nya. Walaupun cukup fatal hingga membuat dirinya terpental keluar mobil lewat jendela depan, untungnya tidak ada yang tewas. Tapi kecelakaan tersebut membuat ia bertekad untuk serius dalam menjalani karir musiknya, dimana sebelumnya ia membuang waktu tanpa tujuan hidup. Akhirnya rentetan tragedi tragis tadi menetapkan tekad Jerry Garcia menjalani hidup-nya sebagai salah satu musisi terpenting dalam dunia Rock.
Ian Dury (vokalis) – Ian Dury & The Blockheads
Satu lagi figur musisi inspiratif yang dibatasi disabilitas tapi tetap punya tekad untuk produktif. Musisi asal Inggris kelahiran Middlesex Inggris tanggal 12 Mei 1942 ini terkena polio diumur 7 tahun (diduga saat terjadi epidemik polio tahun 1949) dan mengalami disfigur struktur tulang sehingga harus memakai tongkat dan penyangga kaki seumur hidupnya. Tapi kondisi ini tidak menghentikan Ian Dury untuk mengejar mimpi ekspresi artistik-nya. Di umur 16 ia mengambil jurusan seni lukis di Walhamstow College of Art, lalu melanjutkan ke Royal College of Art di tahun 1964 sampai akhirnya memutuskan untuk berkarir di musik dengan membentuk band pubrock Killburn and The High Roads bersama sesama mahasiswa seni di tahun 1971. Walaupun band ini hanya mencapai popularitas seputar sirkuit pub London dan akhirnya bubar di tahun 1975, tidak membuat Dury menyerah.
Hanya selang setahun, Dury bertemu dengan beberapa musisi dari sirkuit pubrock membentuk band baru Ian Dury and The Blockheads yang lebih terpengaruh jazz, funk dan rock n roll. Unit baru ini merilis serangkaian album penting yang menjadi jembatan antara Punk Rock dan New Wave. Di luar keterbatasan fisiknya, Ian Dury menjalani tur ke berbagai negara di penjuru dunia sepanjang dekade 70 dan 80an. Fakta kalau ia bisa membawa dirinya menjadi bintang internasional menempatkan Dury sebagai legenda musik tidak tertandingkan. Sayangnya ia wafat di tahun 2000 karena kanker, walaupun tetap aktif bermusik hingga akhir hayatnya.

Tony Iommi (gitaris) – Black Sabbath
Siapa yang sangka kalo karakter gelap dan berbahaya musik metal lahir dari kord gitar yang dimainkan dengan jari yang tidak sempurna kondisinya? Gitaris kelahiran 19 February 1948 bernama lengkap Anthony Frank Iommi ini ternyata mengalami kecelakaan ketika bekerja di pabrik pemotongan baja di kota asal Birmingham di umur 17. Ia kehilangan secuil daging ujung jari tengah dan jari manisnya karena terpotong gergaji metal saat kerja. Sempat kecewa dan tadinya tidak ingin meneruskan kegiatan belajar gitar yang sedang ditekuni. Tapi teman kerjanya menyarankan untuk terus bermain dan meminjamkan album dari Django Reindhart, gitaris jazz virtuoso yang bermain hanya dengan dua jari karena jari lainnya terbakar. Kaget mendengar permainan yang mulus dan mengagumkan, Tony pun memutuskan untuk terus mencoba bermain dengan keterbatasan kondisi jarinya, walaupun awalnya harus berjuang melawan rasa sakit.
Karena Iommi bermain kidal, maka ia harus mencari cara untuk menggunakan jari yang memegang senar di leher gitar. Awalnya ia melapisi jari yang cedera dengan bahan plastik dari botol. Tapi karena terlalu kaku, ia mencari opsi lain dengan mengganti senar gitarnya dengan ukuran ringan. Lalu ia juga mengendurkan settingan stem gitar nya ke kunci yang lebih rendah (istilahnya down tuning), sehingga ia bisa menarik senar (bending) pada saat bermain melodi. Walaupun begitu, Iommi jarang bermain lead gitar karena jangkauan jarinya yang terbatas. Tapi ia masih bisa memainkan chord yang lebih simple
Dengan penemuan teknik baru karena keterbatasan jarinya, Iommi malah mendapatkan sound gitar baru yang lebih berat dan lebar dengan atmosfir lebih gelap. Banyak jurnalis berpendapat kalau Iommi menciptakan karakter sound Heavy Metal dengan gitar lebih sangar dan berat. Kalau saja ia masih mempunyai jari sempurna mungkin wajah Heavy Metal tidak akan sesangar seperti sekarang.

Pete Townshend (gitaris) – The Who
Kalo ngomongin band paling brisik dalam dunia Rock udah pasti banyak yang bisa kita sebut. Tapi ternyata ada daftar rekor band paling berisik dalam Rock. Diukur berdasarkan level sound yang dihasilkan saat konser band. The Who berhasil menjadi salah satu band paling bising dan tercatat di Guinnes Book of Record pada saat konser mereka tanggal 31 Mei 1976 di The Valley stadium, London. Konon level kebisingan mencapai 126 db (decibel).
Untuk para penggemarnya, faktor brisik dan kerusuhan saat panggung The Who justru jadi hal yang ditunggu-tunggu. Townshend dkk sudah menyandang predikat sebagai band onar yang suka menghancurkan alat saat di konser. Drummer Keith Moon sudah langganan ditahan polisi karena aksi liar di atas dan diluar panggung. Sementara Pete Townshend juga dikenal sebagai gitaris agresif dengan serangan suara sonik yang dihasilkan dari dinding tumpukan amplifier Marshall super keras. Tapi rupanya semua predikat tersebut ada konsekuensi nya.
Keith Moon wafat karena overdosis obat sedatif di tahun 1980. Sementara memasuki dekade 80an, Townshend menderita tinnitus dan perlahan kehilangan pendengaran setelah bertahun-tahun gendang telinganya dihajar gelombang suara decibel tinggi. Bahkan ia terancam untuk dipaksa pensiun lebih awal karena kondisi pendengaran-nya memburuk. Untungnya ia diperkenalkan oleh sahabatnya Neil Young dengan alat in-ear monitor (monitor suara yang ditempel ke telinga) rancangan dari seorang audiologist. Sehingga masih bisa berkarya di studio dan bermain di atas panggung.
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 24/11/2016
0 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Please choose one of our links :