Deftones merupakan salah satu band yang ikut andil dalam kesuksesan genre nu metal di era 90-an hingga awal 2000-an. Band yang telah berdiri sejak tahun 1988 ini, terbilang masih cukup produktif, bahkan dari sisi perilisan karya. Total, Deftones sudah memiliki 8 buah album semasa perjalanan kariernya. Di tahun 2020, band ini kembali menambah daftar tersebut dengan album barunya yang berjudul Ohms.
Secara musikalitas, Deftones tidak membatasi proses kreatifnya meskipun berada di genre tertentu. Setiap karya terbaru yang dikeluarkan, selalu ada saja hal-hal yang unik yang melekat di setiap karya yang dibuat. Baik karya terbarunya atau yang terdahulu. Bahkan, berkat pendekatan unik yang dilakukan pada setiap karyanya, band ini dijuluki dengan sebutan “The Radiohead of Metal” oleh para kritikus musik mancanegara.
Bergantinya para personel di tubuh Deftones, kini band tersebut memiliki 5 anggota yaitu Chino Moreno (vokal, gitar), Stephen Carpenter (gitar), Abe Cunningham (drum), Frank Delgado (keyboard, turntable) dan Sergio Vega (bass). Perjalanan karier sebagai band metal pun tidak selalu berjalan mulus. Sejak pertama kali merilis albumnya di tahun 1995 yang berjudul Adrenaline, Deftones baru bisa membagikan karya mereka secara eksklusif kepada para penggemar dan fan basenya pada saat merilis album keduanya, Around The Fur di tahun 1997. Single dari album tersebut juga akhirnya membuka jalan bagi band ini untuk memasang namanya di daftar dalam tangga lagu Amerika Serikat dan mendapatkan penghargaan dari The Recording Industry Association of Amerika (RIAA).
Setelah diakui keberadaannya oleh para pelaku industri musik di Amerika Serikat, Deftones pun semakin semangat untuk menelurkan karya-karya terbaiknya. Di tahun 2000, Deftones kembali dengan album ketiganya yang berjudul White Pony. Album ketiganya menawarkan perkembangan musikalitas yang sangat luas bagi para penggemarnya. Melalui album ini, Deftones mulai beralih dari musik metal yang keras menjadi musik metal yang lebih eksperimental. Melalui album ini, Deftones pun berhasil meraih pencapaian tertingginya secara komersial melalui single "Change (In the House of Flies)". Deftones juga berhasil menyabet gelar band metal terbaik versi Grammy melalui track-nya yang berjudul "Elite".
Album keempat yang merupakan album self titled-nya di tahun 2003 juga berhasil mendulang kesuksesan yang sama berdasarkan review dari para kritikus musik. Namun dari skala penjualan masih kalah dengan album ketiganya. Untuk album kelima, masih mendulang kesuksesan yang sama, namun masalah mulai hadir di dalam tubuh band ini yang membuat Deftones sedikit memengaruhi materi karya-karya terbarunya pada album Saturday Night Wrist di tahun 2006.
Di tahun 2008, band ini harus mendengar kabar buruk dari salah satu personelnya. Chi Cheng yang merupakan pemain bass pada saat itu mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirinya koma. Tragedi tersebut membuat Deftones harus menghentikan sementara proses album yang sedang dikerjakan. Baru pada akhirnya di tahun 2010 band ini kembali merilis album keenamnya yang berjudul Diamond Eyes. Disusul dengan album Koi No Yokan di tahun 2013. Di tahun yang sama, sang bassis tutup usia dalam kondisi koma. Lalu, Gore di tahun 2016 menambah daftar diskografi Deftones kala itu. Kini, di bulan September 2020 Deftones merilis album kedelapannya yang berjudul Ohms. Total penjualan album Deftones secara keseluruhan di dunia telah mencapai lebih dari 10 juta keping.
Tersajinya materi matang di album Ohms
Sudut pandang eksperimental yang ada di dalam tubuh Deftones, nyatanya sangat menghadirkan dampak positif bagi pengembangan musikalitasnya. Hal ini terbukti melalui album terbarunya, Ohms. Melalui album terbarunya Deftones seakan berhasil mengawinkan elemen eksperimental dengan roots metal yang ada di dalam nadi band tersebut. Hasilnya, musik yang berbobot dan memiliki tingkat cadas yang kental namun masih dapat memberikan ruang untuk dinikmati oleh siapapun yang memang menyukai musik keras, seperti rock misalnya. Untuk album ini, Deftones telah merilis dua buah single. Pertama adalah single Ohms pada Agustus lalu dan yang paling terbaru adalah Genesis.
Menurut para pengamat musik, album terbaru dari Deftones ini seakan berada di tengah-tengah dua genre yang bertolak belakang. Mereka menyebut Ohms sebagai album alternative metal, namun album kedelapan dari Deftones ini masuk ke dalam kategori dream pop. Untuk proses rekamannya, Deftones kembali berkolaborasi dengan produser Terry Date yang terakhir kali terlibat dalam produksi album keempat dari band ini. Kerja sama yang sudah pernah dibangun sebelumnya antara band ini dan Terry Date, seakan jadi sebuah puzzle pelengkap komposisi musik yang dibutuhkan Deftones untuk album terbarunya agar kembali lagi menancapkan taringnya di kancah permusikan internasional.
Untuk single terbarunya yang berjudul Genesis, Deftones merilis single tersebut ke khalayak ramai dalam format video klip. Kata yang tepat untuk mewakili video klip terbaru dari Deftones ini adalah “kelam”. Visual inversed color yang tersaji dalam video klip ini menghadirkan kesan yang mengerikan. Melalui visualnya, seakan band ini ingin menampilkan sisi kelam dari segala perjalanan musik yang terakumulasi hingga karya terbarunya ini. Untuk panduan, sangat disarankan untuk menonton video ini dalam kondisi ruangan yang terang. Permainan kontras warna putih yang disajikan dari visual single terbaru ini cukup dapat membuat mata terasa pegal. Genesis hadir sebagai track pembuka di album terbaru Deftones, Ohms. Secara keseluruhan, album ini berisikan 10 track dengan durasi selama 46 menit 17 detik.
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 08/10/2020
2 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Nicolas Filbert Tandun
29/01/2025 at 22:20 PM
DENNY ADHY NUGROHO
17/02/2025 at 11:50 AM