Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct Name
Please Select the gender
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
show password icon
  • circle icon icon check Contain at least one Uppercase
  • circle icon icon check Contain at least two Numbers
  • circle icon icon check Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
show password icon
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Green Boots. Image: Wikipedia

Author : Admin Adventure

Article Date : 30/12/2023

Article Category : News

Sebagai puncak tertinggi di dunia, Gunung Everest punya daya tarik tersendiri bagi pendaki yang pengin menantang dirinya buat menaklukkan puncak setinggi 8.848 mdpl itu. Ketinggian seekstrem itu membuat pendakian Gunung Everest penuh risiko.

 

Suhu di Gunung Everest bisa mencapai minus 0 derajat Celsius dengan kadar oksigen yang rendah. Belum lagi jalur pendakian yang diselimuti es membuat pendaki harus punya alat-alat khusus untuk melewati trek tersebut. Selain itu, ancaman longsor dan badai salju juga bisa datang kapan aja. Buat pendaki yang nggak bisa bertahan, bukan nggak mungkin Gunung Everest bakal jadi kuburannya.

 

Hal itu dialami oleh 300 orang yang tewas di tengah perjalanan sejak awal pendakian Everest dibuka. Pada tahun 2023 aja, udah ada sembilan pendaki yang meregang nyawa per Mei 2023. Mirisnya, mayat-mayat tersebut dibiarkan berserakan di jalur pendakian dan bisa dilihat sama pendaki lain, lho.

 

Kira-kira, apa alasan mayat tersebut dibiarkan membeku dan jadi jasad abadi di Gunung Everest? Cari tau jawabannya di sini, Superfriends.

 

Biaya Evakuasi yang Mahal

Gunung Everest
Gunung Everest. Image: Pixabay

Nggak cuma paling berbahaya, Gunung Everest juga patut dijuluki sebagai gunung pendakian paling mahal di dunia. Buat mendaki aja, lo harus beli izin pendakian sebesar US$15 ribu atau sekitar Rp229 juta. Itu belum termasuk sama tiket pesawat, asuransi, biaya perlengkapan, dan kebutuhan lo lainnya. Bahkan, ada juga paket pendakian yang harganya lebih mahal dari itu, lho.

 

Selain itu, biaya repatriasi atau pemulangan jenazah di Gunung Everest juga nggak murah. Lo harus bayar sekitar US$70 ribu atau sekitar Rp1 miliar buat mengevakuasi dan mengkremasi mayat tersebut. Sebelum mendaki, lo bakal dikasih form kematian yang berisi kesepakatan apakah lo mau direpatriasi kalau meninggal di atas gunung atau menyepakati pilihan lainnya. Belum mendaki aja udah ngeri duluan nggak, sih?

 

Proses Evakuasi yang Sulit

Gunung Everest
Pendakian Gunung Everest. Image: Pixabay

Selain harganya yang tinggi, proses evakuasi mayat di Gunung Everest juga butuh usaha besar. Kalau meninggalnya di basecamp atau es, mayat harus diturunkan ke area yang bisa dijangkau helikopter.

 

Proses tersebut bakal lebih sulit kalau pendaki meninggal di atas ketinggain 8.000 mdpl, khususnya di Death Zone. Kondisi suhu yang ekstrem dan oksigen yang rendah bisa menghambat proses evakuasi dan mengancam nyawa sherpa, sebutan bagi tim penyelamat di Gunung Everest.

 

Buat mengevakuasi mayat tersebut, dibutuhkan 6 – 10 sherpa yang bertugas untuk meluncurkan jasad pendaki melewati turunan, naikan, cerukan, dan retakan lebar di sepanjang es. Bobot mayat yang membeku juga bisa jadi tambah berat, sehingga butuh tandu untuk mencegah agar mayat tersebut nggak hancur.

 

Saking sulitnya proses evakuasi tersebut, pernah ada kasus kematian tim penyelamat yang sedang dalam perjalanan mengevakuasi mayat. Hal itu terjadi pada 29 Oktober 1984. Kalau itu, Inspektur Polisi di Nepal, Yogendra Bahagur Thapa dan rekamnnya Ang Dorjee mencari jenazah Hannelore Schmatz, pendaki wanita asal Jerman yang meninggal pada tahun 1979. Nahas, Thapa dan Dorjee ditemukan meninggal dalam kondisi masih terikat tali pendakian.

 

Jadi Pemandangan Umum di Gunung Everest

Green Boots
Mayat Green Boots di Gunung Everest Image: Wikipedia

Kehadiran mayat abadi ini bukan hal mengejutkan lagi bagi pendaki yang sering datang ke Gunung Everest. Salah satunya mayat yang dijuluki Green Boots. Mayat yang memakai sepatu gunung berwarna hijau itu diketahui merupakan pendaki asal India yang meninggal pada tahun 1996.

 

Seiring berjalannya waktu, Green Boots pun jadi penanda di Gunung Everest jalur utara. Namun, pada tahun 2014, jasadnya dipindahkan oleh tim ekspedisi asal Tiongkok biar nggak terlalu mencolok.

 

Pendaki Everest yang menemukan mayat biasanya akan mengikat mayat tersebut pakai tali dan potongan kain. Ada juga yang diletakkan di kereta luncur dan mendorongnya ke jurang atau lereng curam. Kalau memungkinkan, mayat tersebut akan ditutupi dengan tumpukan batu dan membentuk seperti kuburan. Cara-cara ini dilakukan untuk mencegah jenanzah terlihat pendaki lain dan fotonya tersebar, sehingga membuat keluarga yang ditinggalkan merasa sedih. (arpd)

PERSONAL ARTICLE

ARTICLE TERKINI

Tags:

#gunung #fakta unik #fact

Source:Kompas, Detik, CNN Indonesia

0 Comments

Comment
Other Related Article
image article
News

Gunung Merapi Kembali Muntahkan Lahar, Aktivitas Vulkanik Meningkat

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
News

Kenapa Warna Outdoor Gear Cerah? Lebih Dari Sekedar Gaya!

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
News

Air Putih Pahlawan Tersembunyi di Balik Kesuksesan Pendakian

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
News

Hindari Pacet Saat Mendaki Tips Jitu untuk Tetap Nyaman

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
News

Keindahan Lapangan Sepak Bola Yang Ekstrim di Indonesia Tantangan Adrenalin Bagi Para Pecinta Sepak Bolalam yang Menanti di Sekitar Stadion Euro 2024

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
News

Tanda-tanda Penting di Gunung yang Wajib Diketahui

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
News

Survival Mode: Mengapa Kita Memerlukannya?

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
News

Memasak di Gunung Tips dan Trik untuk Hidangan Lezat di Alam Bebas

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
News

RAFTING DI MUSIM HUJAN TERNYATA LEBIH MENANTANG!

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
News

Menjelajahi Surga Bawah Laut Keindahan dan Keajaiban Menyelam (Diving)

Read to Get 5 Point
image arrow
1 /